BAB KETUJUH :Tentang Akal. Kemuliaan Akal.Hakikat Akal. Bahagian-bahagian Akal.

  
PENJELASAN : Tentang Kemuliaan Akal.

Ketahuilah, bahwa persoalan ini sebetulnya, tidak berhajat untuk bersusah-payah menjelaskannya, Lebih-lebih lagi sudah jelas kemuliaan ilmu sebelum dijelaskan kemuliaan akal ini.

  
Akal adalah sumber ilmu, tempat timbul dan sendi ilmu. Ilmu itu, berlaku dari akal, sebagaimana berlakunya buah-buahan dari pohon kayu, sinar dari matahari dan penglihatan dari mata.

  
Bagaimanakah akal itu tidak mulia, sedang dia adalah jalan kebahagiaan di dunia dan akhirat? Atau bagaimanakah diragukan tentang kemuliaan akal itu, sedangkan he wan dalam kepicikan tamyiznya (sifat hewan dapat membedakan sesuatu), merasa kecut terhadap akal. Sehingga seekor hewan yang bertubuh besar, berkeberanian luar biasa dan bertenaga kuat, apabila melihat rupa manusia lalu merasa kecut dan takut. Karena dirasakannya manusia itu akan menggagahinya, karena keistimewaannya memperoleh helah dan daya-upaya.

 Dari itulah bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم  

قال صلى الله عليه وسلم:  الشيخ في قومه كالنبي في أمته

(Asy-syaikhu fii qaumihii kannabiyyi fii ummatih).

Artinya :”Seorang Syeh (kepala) pada kaumnya adalah seperti nabi pada ummatnya(1)

Tidaklah yang demikian, karena syeh itu banyak hartanya, besar tubuhnya dan lebih kekuatannya. Tetapi adalah karena lebih pengalamannya sebagai hasil dari akalnya.

  

1. Dirawikan ibnu.Hibban dari Ibnu Umar dan Abu Manshur Ad-Dailami dan Abi Rafi dengan sanad dla’if.  

Karena itulah anda melihat, orang Turki, orang Kurdi, orang Arab yang bodoh dan orang-orang lain, meskipun tingkatannya mendekati dengan hewan, adalah dengan tabiatnya memuliakan syeh-syehnya.

Dari itu, ketika kebanyakan orang-orang yang ingkar mau membunuh Rasulullah صلى الله عليه وسلم maka tatkala pandangan mereka jatuh pada Nabi صلى الله عليه وسلم dan gemetar mereka dengan sinar wajahnya yang mulia, lalu timbullah ketakutan di hati mereka. Kelihatan kepada mereka suatu yang bersinar gilang-gemilang atas keelokan wajahnya dari nur kenabian. Meskipun itu adalah suatu kebathinan dalam diri Nabi صلى الله عليه وسلم.sebagaimana kebathinannya akal.

Kemuliaan akal itu dapat diketahui dengan mudah. Hanya maksud kami di sini hendak membentangkan hadits-hadits dan ayat-ayat yang menyebutkan kemuliaan akal itu.

Allah Ta’ala menamakan akal itu dengan “nur”, pada firmannya :

 اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ

(Allaahu nuurus-samaawaati wal-ardli matsalu nuurihii kamisykaa-tin).

Artinya : “Allah pemberi “nur” bagi langit dan bumi. Bandingan “nur”Nya adalah seperti satu kurungan pelita……………. “(S. An-Nur, ayat 35).

Dan Allah Ta’ala menamakan ilmu yang diperoleh dari akal itu “ruh, wahyu dan hidup.

Berfirman Allah Ta’ala :

 وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا

(Wa kadzaalika auhainaa ilaika ruuhan min amrinaa).     Artinya : “Begitulah Kami wahyukan kepada engkau  رُوحً r u h  itu dengan perintah Kami”:(S. Asy-Syura, ayat 52).

Dan berfirman Allah swt. :

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ

(Awaman kaana maitan fa-ahyainaahu wa ja’alnaa lahuu nuuran yamsyii bihii finnaasi).

Artinya :”Apakah orang-orang yang sudah mati, kemudian Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, dengan itu dia dapat berjalan di tengah-tengah manusia “. (S. Al-An’am, ayat 122).

Di mana Al-Qur’an menyebutkan an-nur (cahaya) dan adh-dhulmah (gelap), maka maksudnya adalah ilmu pengetahuan dan kebodohan, seperti firmanNya :

 يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ

(Yukhrijuhum minadh dhulumaati ilan nuur). Artinya :”Dikeluarkan mereka oleh Tuhan dari kegelapan (kebodohan) kepada nur-cahaya (ilmu pengetahuan)”. (S.Al-Baqarah, ayat 257).

Dan bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم saw. :وقال صلى الله عليه وسلم:  يا أيها الناس اعقلوا عن ربكم وتواصوا بالعقل تعرفوا ما أمرتم به وما نهيتم عنه واعلموا أنه ينجدكم عند ربكم واعلموا أن العاقل من أطاع الله وإن كان دميم المنظر حقير الخطر دنىء المنزلة رث الهيئة وأن الجاهل من عصى الله تعالى وإن كان جميل المنظر عظيم الخطر شريف المنزلة حسن الهيئة فصيحا نطوقا فالقردة والخنازير أعقل عند الله تعالى ممن عصاه ولا تغتر بتعظيم أهل الدنيا إياهم فإنهم من الخاسرين Wahai manusia! Pakailah akal untuk mengenal Tuhanmu! Nasehat-menasehatilah dengan menggunakan akal, niscaya kamu ketahui apa yang diperintahkan kepadamu dan apa yang dilarang! Ketahuilah bahwa akal itu menolong kamu di sisi Tuhanmu! Ketahuilah bahwa orang yang berakal ialah orang yang menta’ati Allah, meskipun mukanya tidak cantik, dirinya hina, kedudukannya rendah dan bentuknya buruk. Dan orang yang bodoh ialah orang mendurhakai Allah Ta’ala, meskipun mukanya cantik, dia orang besar, kedudukannya mulia, bentuknya bagus, lancar dan pandai berbicara. Beruk dan khinzir lebih berakal pada sisi Allah Ta’ala daripada orang yang mendurhakaiNya. Engkau jangan tertipu dengan penghormatan penduduk dunia kepadamu, sebab mereka itu termasuk orang yang merugi”. (1)

1. Dirawikan Dawud bin AI Majar dari Abi Hurairah.

Bersabda Nabi saw. :

أول ما خلق الله العقل فقال له أقبل فأقبل ثم قال له أدبر فأدبر ثم قال الله عز وجل وعزتي وجلالي ما خلقت خلقا أكرم على منك بك آخذ وبك أعطي وبك أثيب وبك أعاقب

“Yang mula pertama dijadikan oleh Allah, ialah akal.

Maka berfirman Allah kepadanya : “Menghadaplah!”. Lalu menghadaplah dia. Kemudian Allah berfirman kepada akal : “Membelakang-lah?’. Lalu membelakanglah dia. Kemudian berfirman Allah Ta’ala : “Demi kemuliaanKu dan demi kebesaranKu! Tidak Aku jadikan suatu makhlukpun yang lebih mulia pada sisiKu selain engkau. Dengan engkau Aku mengambil, dengan engkau Aku memberi,dengan engkau Aku memberi pahala dan dengan engkau Aku memberi siksaan”. (1)

Kalau anda bertanya, akal itu kalau dia sifat (‘aradh), maka bagaimanakah dijadikan sebelum tubuh? Dan kalau dia zat (jauhar), maka bagaimanakah jauhar berdiri sendiri dan tidak berpihak?

 Ketahuilah kiranya, bahwa ini sebahagian dari ilmu mukasyafah. Maka tidak layak diterangkan dengan ilmu mu’amalah. Dan maksud kami sekarang menerangkan ilmu mu’amalah.

  
Dari Anas ra. bahwa dia menerangkan : “Suatu rombongan memujikan seorang laki-laki di sisi Nabi saw. dengan bersangatan sekali.

Lalu Nabi menegur : “Bagaimanakah akal orang itu?”.

Menjawab rombongan tadi : “Kami menerangkan kepada engkau, tentang kesungguhannya pada beribadah dan bermacam-macam kebajikan lain. Dan engkau menanyakan kami tentang akal?

Maka menjawab Nabi saw. : إن الأحمق يصيب بجهله أكثر من فجور الفاجر وإنما يرتفع العباد غدا في الدرجات الزلفى من ربهم على قدر عقولهم “Sesungguhnya orang bebal itu memperoleh lebih banyak dengan kebodohannya daripada kedhaliman orang yang dholim. Sesunguhnya pada hari esok, terangkatlah hamba Allah itu ke tingkat tinggi pada sisi Tuhannya menurut tingkat akal pikirannya”. (2)

Dari Umar ra. bahwa Nabi saw. bersabda :

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ما اكتسب رجل مثل فضل عقل يهدي صاحبه إلى هدى ويرده عن ردى وما تم إيمان عبد ولا استقام دينه حتى يكمل عقله

(Maktasaba rajulun mitsla fadlli ‘aqlin yahdii shaahibahu ilaa hudan wa yarudduhu ‘an radan wa maa tamma iimaanu ‘abdin wa lasta-qaama diinuhu hattaa yakmula ‘aqluhu).   Artinya : “Tidak adalah usaha seseorang seperti keutamaan akal, yang memberi petunjuk kepada yang empunya akal itu kepada petunjuk dan menarikkannya dari jalan yang hina. Tidak sempurnalah iman seseorang dan tidak berdiri tegak agamanya sebelum akalnya itu sempurna”. (3)

  

1.Dirawikan At Tabrani dari Abi Amamah dengan Isnad Dla’if2.Dirawikan Ibnul Mahbar Dan At Tirmidzi Secara Ringkas3.Dirawikan Ibnul Mahbar dari Umar.

  
Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم

إن الرجل ليدرك بحسن خلقه درجة الصائم القائم ولا يتم لرجل حسن خلقه حتى يتم عقله فعند ذلك تم إيمانه وأطاع ربه وعصى عدوه إبليس

(Innar rajula layudriku bihusni khuluqihi darajatash shaaimil qaa-i-mi wa laa yatimmu Iirajulin husnu khuluqihi hattaa yatimma ‘aqlu-hu fa-‘inda dzaalika tamma iimaanuhu wa athaa’a rabbahu wa ‘ashaa ‘aduwwahu ibliis). Artinya :”Seseorang akan mengetahui dengan kebagusan budinya derajat orang yang berpuasa dan menegakkan shalat. Dan tidaklah sempurna kebagusan budi seseorang, sebelum sempurna akalnya. Ketika itu, barulah sempurna imannya. Ia menta’ati Tuhannya dan mendurhakai musuhnya Iblis”.(1)

Dari Abu Sa’id Al-Khudri ra. bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم.bersabda : لكل شيء دعامة ودعامة المؤمن عقله فبقدر عقله تكون عبادته أما سمعتم قول الفجار في النار “Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai tiang. Tiang orang mu’min ialah akalnya. Menurut tingkat akalnya, beradalah ibadahnya. Apakah kamu tidak mendengar perkataan orang-orang dhalim dalam neraka: لو كنا نسمع أو نعقل ما كنا في أصحاب السعير = الملك: 10 “Jikalau adalah dahulu kami mendengar atau kami berakal, maka tidaklah kami ini menjadi isi neraka (2)

Dari Umar ra. bahwa Umar bertanya kepada Tamim Ad-Dari : “Apakah yang mulia padamu?”. Menjawab Tamim : “Akal !”.

Maka menyambung Umar : “Benar engkau! Aku telah bertanya kepada Rasulullah saw. seperti yang aku tanyakan kepadamu tadi. Maka menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم. seperti yang kamu jawab. Kemudian bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم.: “Bahwa aku telah bertanya kepada Jibril as. : “Apakah yang mulia’Jibril as. menjawab : العقل “Akal!”. (3)

Dari Al-Barra bin ‘Azib ra., di mana Al-Barra’ berkata : “Pada suatu hari banyaklah persoalan yang diajukan kepada Rasulullahصلى الله عليه وسلم.Maka Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab :فقال يا أيها الناس إن لكل شيء مطية ومطية المرء العقل وأحسنكم دلالة ومعرفة بالحجة أفضلكم عقلا  “Hai Manusia! Tiap-tiap sesuatu itu ada kenderaannya. Dan kenderaan manusia itu akalnya. Yang terbaik dalil dan pengetahuan dengan keterangan, ialah yang terlebih dari kamu akalnya”.

1.Dirawikan Ibn Mahbar dari Amr Bin Syuib2.Dirawikan Ibn Mahbar dari Abi Said 3.Dirawikan Ibnu Mahbar dari Umar R.a

Dari Abu Hurairah ra. bahwa Abu Hurairah menerangkan : “Tatkala Nabi صلى الله عليه وسلم.kembali dari perang Uhud, lalu mendengar orang banyak berkata satu sama lainnya : “Si Anu lebih berani dari si Anu. Si Anu menderita yang tidak pernah dideritai orang lain dan begitu-lah seterusnya. Maka menjawab Nabiصلى الله عليه وسلم.: “Adapun si Ini, maka tak adalah pengetahuanmu padanya”. ….Bertanya orang banyak : “Mengapa begitu ya Rasulullah?”.

إنهم قاتلوا على قدر ما قسم الله لهم من العقل وكانت نصرتهم ونيتهم على قدر عقولهم فأصيب منهم من أصيب على منازل شتى فإذا كان يوم القيامة اقتسموا المنازل على قدر نياتهم وقدر عقولهم Menjawab Nabi saw. : “Mereka itu berperang menurut akal yang dianugerahkan Allah kepadanya. Kemenangan dan niatnya adalah sekedar akalnya. Diberikan akal orang-orang yang diberikan dari mereka, pada tingkat yang bermacam-macam, Maka pada hari qiamat nanti mereka membagi-bagikan tingkat itu menurut tingkatan niatnya dan akalnya”. (1) 
Dari Al-Barra’ bin ‘Azib, bahwa Nabi saw. bersabda : جد الملائكة واجتهدوا في طاعة الله سبحانه وتعالى بالعقل وجد المؤمنون من بني آدم على قدر عقولهم فأعملهم بطاعة الله عز وجل أوفرهم عقلا “Bersungguh-sungguh para malaikat dan rajin menta’atiAllah Ta’ala dengan akal. Dan bersungguh-sungguh orang mu’min dari anak Adam, menurut kadar akalnya. Yang paling banyak berbuat amal dengan menta’ati Allah, ialah mereka yang paling sempurna akalnya  (2)وعن عائشة رضي الله عنها قالت قلت يا رسول الله بم يتفاضل الناس في الدنيا قال بالعقل قلت وفي الآخرة قال بالعقل قلت أليس إنما يجزون بأعمالهم فقال صلى الله عليه وسلم:  يا عائشة وهل عملوا إلا بقدر ما أعطاهم عز وجل من العقل فبقدر ما أعطوا من العقل كانت أعمالهم وبقدر ما عملوا يجزون Dari ‘Aisyah ra. bahwa ‘Aisyah mengatakan : “Aku bertanya : “Wahai Rasulullah! Dengan apakah manusia memperoleh kelebihan di dunia?”. Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم  “Dengan akal!”. Lalu aku bertanya lagi: “Di akhirat?”. Menjawab Nabiصلى الله عليه وسلم.: “Dengan akal!” Bertanya aku lagi : “Bukankah mereka dibalas dengan sebab amal nya?”. Menjawab Nabiصلى الله عليه وسلم.: “Hai ‘Aisyah! Adakah mereka itu beramal, selain sekedar akal yang dianugerahkan Tuhan kepadanya? Maka menurut kadar akal yang diperoleh mereka, begitulah adanya amal mereka. Dan menurut kadar amal itu, mereka diberi balasan’.’ (3)

1.Dirawikan Ibnut Mahbar dari Abi Hurairah.

2.Dirawikan Ibnul Mahbar dari Albarra bin ‘Alib.

3.Dirawikan Ibnul Mahbar dari ‘Aisyah.

وعن ابن عباس رضي الله عنهما قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: لكل شيء آلة وعدة وإن آلة المؤمن العقل ولكل شيء مطية ومطية المرء العقل ولكل شيء دعامة ودعامة الدين العقل ولكل قوم غاية وغاية العباد العقل ولكل قوم داع وداعى العابدين العقل ولكل تاجر بضاعة وبضاعة المجتهدين العقل ولكل أهل بيت قيم وقيم بيوت الصديقين العقل ولكل خراب عمارة وعمارة الآخرة العقل ولكل امرىء عقب ينسب إليه ويذكر به وعقب الصديقين الذيينسبون إليه ويذكرون به العقل ولكل سفر فسطاط وفسطاط المؤمنين العقل

Dari Ibnu Abbas ra, bahwa Ibnu Abbas berkata :”Telah bersabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم. “Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai alat dan perkakas. Dan alat bagi orang mu’min ialah akal. Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai kenderaan. Dan kenderaan manusia itu, ialah akal. Tiap-tiap sesuatu itu mempunyai tiang. Dan tiang agama itu ialah akal. Tiap-tiap kaum itu, mempunyai tujuan. Dan tujuan bagi hamba Allah ialah akal. Tiap-tiap kaum itu, mempunyai penyeru. Dan yang menyerukan orang-orang yang beribadah itu ialah akal.Tiap-tiap saudagar itu mempunyai harta kekayaan. Dan harta kekayaan orang yang rajin itu ialah akal. Tiap-tiap keluarga dari suatu rumah tangga itu ada yang membelanjainya. Dan yang membelanjai rumah tangga orang shiddiqin (orang-orang yang benar-benar membenarkan agama) itu, ialah akal. Tiap-tiap yang runtuh itu ada bangunannya. Dan bangunan akhirat itu ialah akal. Tiap-tiap manusia itu mempunyai kesudahan yang disandarkan dan diingatkan. Dan kesudahan bagi shiddiqin, yang disandarkan dan diingatkan, ialah akal. Tiap-tiap perjalanan itu mempunyai rumah kecil tempat perhentian. Dan rumah kecil tempat perhentian bagi orang mu’min itu ialah akal”.. (1)

Bersabda Nabi saw. :إن أحب المؤمنين إلى الله عز وجل من نصب في طاعة الله عز وجل ونصح لعباده وكمل عقله ونصح نفسه فأبصر وعمل به أيام حياته فأفلح وأنجح  “Orang mu’min yang paling dikasihi Allah, ialah orang yang tegak berdiri dalam menta’atiNya, memberi nasehat kepada hambaNya, sempurna akalnya dan menasehati dirinya, lalu ia dapat melihat yang benar. Dan mengerjakan amal selama hidupnya, maka ia memperoleh keuntungan dan mendapat kemenangan (2)
  
Bersabda Nabi’ saw. : إن أحب المؤمنين إلى الله عز وجل من نصب في طاعة الله عز وجل ونصح لعباده وكمل عقله ونصح نفسه فأبصر وعمل به أيام حياته فأفلح وأنجح “Yang paling sempurna akal diantara kamu ialah orang yang paling takut kepada Allah Ta’ala dan yang paling baik perhatiannya tentang apa yang disuruh dan dilarang Allah, meskipun sedikit berbuat amalan sunat “. (3)

1.Dirawikan Ibnul Mahbar dari Ibnu Abbas.

2.Dirawikan Ibnul Mahbar dari Ibnu Umar.

3.Dirawikan Ibnul Mahbar dari Abi Qatadah

Please support us:
5