الباب السادس
في آفات العلم وبيان علامات علما الآخرة والعلماء السوء

Bab keenam : Tentang bahaya ilmu pengetahuan, penjelasan tanda-tanda ulama akhirat dan ulama su’ (ulama jahat).
Telah kami terangkan dahulu ayat dan hadits tentang kelebihan ilmu dan ulama (ahli ilmu). Dan mengenai ulama su’ telah datang penegasan-penegasan yang tegas, yang menunjukkan bahwa mereka memperoleh ‘azab yang sangat keras pada hari qiamat, dibandingkan dengan orang-orang lain.
Yang teramat penting, ialah mengetahui tanda-tanda yang membedakan antara ulama dunia dan ulama akhirat.
Yang kami maksudkan dengan ulama dunia ialah ulama su’ yang tujuannya dengan ilmu pengetahuan itu ialah untuk memperoleh kesenangan duniawi, kemegahan dan kedudukan.
Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم
إن أشد الناس عذابا يوم القيامة عالم لم ينفعه الله بعلمه
(Inna asyaddan naasi ‘adzaaban yaumal qiaamati ‘aalimun lam yan-fa’ hullaahu bi’ilmihi).
“Manusia yang sangat memperoleh ‘azab pada hari qiamat ialah orang yang berilmu yang tiada bermanfa’at dengan ilmunya (1)

 أنه قال; لا يكون المرء عالما حتى يكون بعلمه عاملا
(Laa yakuunul mar-u ‘aaliman hattaa yakuuna bi’ilmihi ‘aamilaa).Artinya :”Tidaklah seorang itu bemama alim sebelum berbuat menuruti ilmunya (2)

1) Dirawikan Abi Hurairah. Dan Al-Ghazali ra. telah menyebutkan hadits ini tiga kali dengan ini.2) Dirawikan Ibnu Hibban dan Al-Baihaqi dari Abid darda’.

Dan bersabda Nabi saw.: العلم علمان علم على اللسان فذلك حجة الله تعالى على خلقه، وعلم في القلب فذلك العلم النافع “Ilmu pengetahuan itu ada dua : ilmu pada lisan, yaitu ilmu yang menjadi alasan bagi Allah atas makhluk-Nya dan ilmu pada hati, yaitu ilmu yang bermanfa’at”. (1)
Bersabda Nabi saw. lagi :يكون في آخر الزمان عباد جهال وعلماء فساق “Adalah pada akhir zaman, orang-orang yang beribadah yang bodoh dan orang-orang yang berilmu yang tidak beribadah (fasiq)(2)
Bersabda Nabi saw. :لا تتعلموا العلم لتباهوا به العلماء ولتماروا به السفهاء ولتصرفوا به وجوه الناس إليكم فمن فعل ذلك فهو في النار “Janganlah engkau mempelajari ilmu pengetahuan untuk bersombong-sombong dengan sesama berilmu, untuk bertengkar dengan orang-orang yang berpikiran lemah dan untuk menarik perhatian orang ramai kepadamu. Barang siapa berbuat demikian, maka dia dalam neraka (3)
Bersabda Nabi saw. : من كتم علما عنده ألجمه الله بلجام من نار “Barang siapa menyembunyikan ilmu pengetahuan yang ada padanya maka diberikan oleh Allah kekang pada mulutnya dengan kekang api neraka”. (4)
Dan bersabda Nabi saw. :لأنا من غير الدجال أخوف عليكم من الدجال “Sesungguhnya aku lebih takut padamu, kepada yang bukan dajal dari dajal’
Lalu orang menanyakan : “Siapakah itu?”
Maka menjawab Nabi saw. : فقيل وما ذلك فقال من الأئمة المضلين”Imam-imam (pemuka-pemuka) yang menyesatkan “„ (5)
Bersabda Nabi saw. :من ازداد علما ولم يزدد هدى لم يزدد من الله إلا بعدا “Barang siapa bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk, niscaya dia tidak bertambah dekat melainkan bertambah jauh dari Allah”. (6)
Bersabda Nabi Isa as. : “Kapankah kamu akan menerangkan jalan kepada orang-orang yang berjalan malam, sedang kamu bertempat tinggal bersama.’sama orang-orang yang dalam keheranan ?”
Dengan hadits ini dan lainnya, menunjukkan betapa besarnya bahaya ilmu. Orang yang berilmu, adakalanya menderita kebinasaan abadi atau kebahagiaan abadi. Dengan berkecimpung dalam ilmu pengetahuan, orang yang berilmu itu tidak memperoleh keselamatan, jika tidak mendapat kebahagiaan.

1.Dirawikan At-Tirmidzi dan Ibnu Abdil-Birri dari Al-Hasan.2.Dirawikan Al-Hakim dari Anas, hadits dla’if.
3.Dirawikan Ibnu Majah dari Jabir dengan isnad shahih.
4.Kata-kata hadits ini, adalah pada sebagian jalan hadits Abi Hurairah, yang dirawikan Ibnu Juz*i.
5.Dirawikan Ahmad dari Abi Dzar dengan isnad baik.
6.Dirawikan Abu Manshur AdDailami dan Ibnu Hibban, mauquf pada Al-Hasan.

Adapun atsar (kata-kata shahabat dan ulama-ulama terdahulu), diantara lain berkata Umar ra. : “Yangpaling saya takutkan kepada ummat ini, ialah orang munafiq yang berilmu
Bertanya hadirin : “Bagaimana ada orang yang munafiq berilmu?”.
Menjawab Umar ra. : Berilmu di lidah, bodoh di hati dan diperbuatan “

Berkata Al-Hasan ra.: “Janganlah ada engkau sebahagian dari orang yang mengumpulkan ilmu ulama, katapilihan hukuma dan berlaku dalam perbuatan seperti sufaha’ (orang-orang bodoh)”.
Berkata seorang laki-laki kepada Abu Hurairah ra. : “Saya mau mempelajari ilmu, tetapi saya takut nanti ilmu itu tersia-sia”.
Menjawab Abu Hurairah ra. : “Dengan meninggalkan saja, sudah mencukupi untuk dipandang menyia-nyiakan ilmu “
Ditanyakan Ibrahim bin Uyainah : “Manakah manusia yang lama benar penyesalan nya?”
Menjawab Ibrahim : “Adapun pada masa dekat di dunia ini, ialah orang yang berbuat baik kepada orang yang tidak tahu berterima kasih. Dan ketika mati nanti, ialah orang yang berilmu yang menyianyiakan ilmunya”.
Berkata Al-Khalil bin Ahmad : “Orang itu empat macam. Semacam ialah orang yang mengetahui dan tahu ia mengetahui. Maka dia itu ialah orang yang berilmu. Ikutlah dia! Semacam ialah orang yang mengetahui dan tidak tahu ia mengetahui. Maka dia itu, ialah orang yang tidur. Bangunkanlah dia! Semacam lagi ialah orang yang tidak mengetahui dan tahu dia tidak mengetahui. Maka dia itu, ialah orang yang meminta petunjuk. Maka tunjukilah dia! Dan semacam lagi ialah orang yang tidak mengetahui dan tidak tahu dia tidak mengetahui. Maka dia itu, ialah orang yang jahil. Maka tolaklah dia!”
Berkata Sufyan Ats-Tsuri ra. : “Disambut ilmu dengan amal perbuatan. Kalau ada demikian, maka ilmu itu menetap. Kalau tidak, maka dia berangkat”.
Berkata Ibnul Mubarak : “Senantiasa manusia itu berilmu selama ia menuntut ilmu. Apabila ia menyangka sudah berilmu, maka dia itu, telah bodoh”.
Berkata Al-Fudhail bin Iyadh ra. : “Saya menaruh belas kasihan kepada tiga orang yaitu orang mulia dalam kaumnya yang menghinakan diri, orang kaya dalam kaumnya yang memiskinkan diri dan orang yang berilmu yang dipermainkan dunia”.
Berkata Al-Hasan : “Siksaan bagi ulama ialah mati hatinya. Kematian hati ialah mencari dunia dengan amalan akhirat”.
Dan bermadahlah mereka :

Aku heran orang membeli kesesatan dengan petunjuk.

Lebih heran lagi, orang membeli dunia dengan agamanya.

Yang lebih heran dari yang dua itu………………

Orang menjual agamanya dengan dunia.

Inilah yang paling ajaib dan yang.dua itu………..
Bersabda Nabi saw. :
إن العالم ليعذب عذابا يطيف به أهل النار استعظاما لشدة عذابه
(Innal ‘aalima layu’adz-dzabu ‘adzaaban yathiifu bihii ahlun naaris-ti’dhaaman lisyiddati ‘adzaabih).Artinya :”Bahwa orang yang berilmu itu di ‘azabkan dengan suatu azab yang dikelilingi penduduk neraka dengan perasaan dahsyat, karena bersangatan azabnya” (1)

Dimaksudkan dengan orang yang berilmu tadi, ialah orang berilmu yang dzalim.
Berkata usamah bin Zaid : “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda :
 يؤتى بالعالم يوم القيامة فيلقى في النار فتندلق أقتابه فيدور بها كما يدور الحمار بالرحى فيطيف به أهل النار فيقولون ما لك فيقول كنت آمر بالخير ولا آتيه وأنهى عن الشر وآتيه

(Yu’-taa bil’aalimi yaumal qiaamati fayulqaa fin naari fatandaliqu aqtaabuhu fayaduuru bihaa lrama» yaduurul himaaru birrahaa fa-yathiifu bihii ahlun naari fayaquuluuna maa laka? Fayaquulu : Kuntu aamuru bil khairi wa laa aatiihi wa anhaa ‘anisy-syarri wa aatiih).Artinya :”Pada hari qiamat, dibawa orang yang berilmu lalu dilemparkan ke dalam neraka. Maka keluarlah perutnya. Dia mengelilingi perut-nya itu seperti keledai mengelilingi gilingan gandum. Penduduk neraka mengelilinginya, seraya bertanya : “Mengapa engkau begini ?”.

Menjawab orang yang berilmu itu : “Adalah aku menyuruh dengan kebaikan dan aku sendiri tidak mengerjakannya. Aku melarang dari kejahatan dan aku sendiri mengerjakannya”. (2)

1.Manurut Al iraqi. dia tidak parnah manjumpai hadits Ini dengan bunyi demikian.
2.Dirawikan Al-Bukhari dan Muslim dari usamah bin Zaid.


Dilipatgandakan ‘azab kepada orang yang berilmu, karena ma’siat-nya. Karena ia mengerjakan ma’siat itu dengan ilmu.
Dari itu berfirman Allah Ta’ala :
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الأسْفَلِ مِنَ النَّارِ
(Innal munaafiqiina fiddarkil asfali minannaari).
Artinya :”Bahwa orang munafiq itu dalam tingkat yang paling bawah dari api neraka (S.Annisa ayat 145)
Karena mereka ingkar sesudah berilmu. Dijadikan orang Yahudi lebih jahat dari orang Nasrani, pada hal orang Yahudi tidak menga-ku Allah mempunyai anak dan tidak mengatakan bahwa Allah itu yang ke tiga dari tiga, adalah disebabkan orang Yahudi itu ingkar sesudah tahu.
Berfirman Allah Ta’ala :
 يَعْرِفُونَهُ كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمْ
“Mereka mengetahuinya (Kitab Suci) seperti mengetahui anaknya sendiri (S. Al-Baqarah, ayat 146).
Dan berfirman Allah Ta’ala :
فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ
“Setelah datang kepada mereka apa yang mereka ketahui, mereka tidak percaya kepadanya. Sebab itu Allah Ta’ala mengutuki orang-orang yang kafir”.(S. Al-Baqarah, ayat 89).
Berfirman Allah Ta’ala mengenai kisah Bal’am bin Ba’-ura’ :وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ الَّذِي آتَيْنَاهُ آيَاتِنَا فَانْسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ الشَّيْطَانُ فَكَانَ مِنَ الْغَاوِينَ “Dan bacakanlah kepada mereka berita orang yang telah Kami berikan keterangan-keterangan Kami kepadanya, lalu dibuangnya. Sebab itu, dia didatangi setan dan termasuk orang-orang yang sesat jalan (S. Al-A’raaf, ayat 175),
Sampai Allah Ta’ala berfirman : فَمَثَلُهُ كَمَثَلِ الْكَلْبِ إِنْ تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ”Orang itu adalah seumpama anjing, kalau engkau halau, diulurkannya lidahnya dan kalau engkau biarkan, diulurkannya juga lidahnya(S. Al-A’raaf, ayat 176).
Maka begitu jugalah orang berilmu yang dzalim. Kepada Bal’am diberikan Kitab Allah, tetapi dia terus bergelimang dalam hawa nafsu. Maka dia diserupakan dengan anjing. Artinya, sama saja antara diberikan ilmu hikmah atau tidak diberikan, dia terus menjilat dengan lidahnya pada hawa nafsu. Bersabda Isa as.: مثل علماء السوء كمثل صخرة وقعت على فم النهر لا هي تشرب الماء ولا هي تترك الماء يخلص إلى الزرع ومثل علماء السوء مثل قناة الحش ظاهرها جص وباطنها نتن ومثل القبور ظاهرها عامر وباطنها عظام الموتى. “Orang berilmu yang jahat adalah seumpama batu besar yang jatuh ke mulut sungai. Dia tidak mengisap air dan tidak menghalangi air mengalir ke tanam-tanaman. Dan seumpama parit rumput, dzahimya yang kelihatan seperti di cat dan dalamnya yang tidak kelihatan adalah berbau busuk. Dan seumpama kuburan, dzahimya yang kelihatan adalah bangun-bangunan dan bathinnya di dalam adalah tulang-belulang orang mati’
Itulah hadits-hadits dan kata-kata berhikmah yang menerangkan, bahwa orang berilmu yang menjadi anak dunia adalah lebih buruk keadaannya dan lebih sangat ‘azab yang dideritainya dari orang bodoh.
Yang memperoleh kemenangan dan dekat dengan Tuhan ialah Ulama akhirat. Tanda-tandanya banyak. Diantaranya ulama akhirat itu tidak mencari dunia dengan ilmunya.
Sekurang-kurang tingkat seorang yang berilmu itu, mengetahui kehinaan dunia, keburukan, kekotoran dan keseramannya. Kebesaran akhirat, keabadian, kebersihan nikmat dan keluhuran keraja-annya. Dan mengetahui bahwa antara dunia dan akhirat itu berlawanan. Keduanya seumpama dua wanita yang bermadu, manakala dicari kerelaan yang seorang, maka yang lain marah. Dan seumpama dua daun neraca, manakala berat yang satu, maka yang lain ringan.
Dunia dan akhirat itu Iaksana masyriq dan magrib. Manakala dide-kati yang satu, maka pasti bertambah jauh dari yang lain. Atau seumpama dua wadah, yang satu penuh dan yang lain kosong. Sebanyak yang diambil dari yang berisi untuk dituangkan ke dalam yang kosong sampai penuh, maka demikianlah kosong yang berisi itu.
Maka orang yang tidak mengenai kehinaan dunia, kekotoran dan kecampur-bauran kelezatan dengan kesakitannya, kemudian keseraman apa yang kelihatan bersih dari dunia itu, maka orang itu adalah manusia yang telah rusak akal.
Sesungguhnya penyaksian dan pengalaman menunjukkan kepada demikian. Maka bagaimanakah termasuk golongan orang berilmu, orang yang tak berakal? Orang yang tak mengetahui kebesaran keadaan akhirat dan keabadiannya, maka orang itu telah tertutup hatinya dan tercabut keimanannya. Maka bagaimanakah termasuk golongan orang berilmu, orang yang tak beriman? Dan orang yang tak mengetahui berlawanannya dunia dengan akhirat dan mengum-pulkan keduanya adalah satu harapan yang tak usah diharapkan, maka orang itu bodoh dengan seluruh agama nabi-nabi. Bahkan hatinya telah tertutup dari seluruh isi Al-Quran, dari permulaannya sampai kepada penghabisannya. Maka bagaimanakah dia dihitung termasuk dalam golongan ulama?
Orang yang mengetahui ini seluruhnya tetapi tidak memilih akhirat dari dunia, maka adalah tawanan setan. Telah dibinasakan oleh hawa nafsunya dan dipaksakan oleh kecelakaannya. Maka bagaimanakah dihitung termasuk dalam barisan ulama, orang yang tingkatanny a demikian ?
Dalam warta berita nabi Daud as. yang merupakan firman dari Allah Ta’ala, tersebut : “Sekurang-kurang perbuatanKu dengan orang yang berilmu apabila memilihkan hawa nafsunya dari men-cintai Aku, ialah Kuharamkannya kelezatan bermunajah dengan Aku. Hai Daud! Jangan engkau tanyakan kepadaKu orang yang berilmu yang telah dimabukkan oleh dunia, maka dicegahnya engkau dari jalan kecintaanKu. Mereka itulah penyamun-penyamun terhadap hambaKu.
Hai Daud! Apabila engkau melihat seorang pelajar untukKu, maka hendaklah engkau menjadi pesuruhnya!
Hai Daud! Barang siapa mengembaltkan kepadaKu orang yang lari maka Kutuliskan dia orang yang tahu kebenaran. Barang siapa Kutuliskan Sebagai orang yang tahu kebenaran, maka tidak Ku’azabkan dia selama-lamanya
Dari itu berkata Al-Hasan ra. : “Siksaan bagi orang yang berilmu ialah mati hatinya. Mati hati ialah mencari dunia dengan amal perbuatan akhirat”. Karena itu berkata Yahya bin Ma’az : “Sesungguhnya hilanglah keelokan ilmu dan hikmah, apabila dicari dunia dengan keduanya”. Berkata Sa’id bin Al-Muiayyab ra. : “Apabila engkau melihat orang yang berilmu mendatangi amir-amir, maka itu adalah pencuri”.
Berkata Umar ra.: “Apabila engkau melihat orang yang berilmu mencintai dunia, maka curigalah dia terhadap agama-nya! Karena tiap-tiap orang yang mencintai sesuatu, ia akan berke-cimpung pada yang dicintainya itu”. Berkata Malik bin Dinar ra. : “Aku telah membaca dalam beberapa kitab lama bahwa Allah Ta’ala berfirman : “Bahwa yang paling mudah Aku perbuat dengan orang yang berilmu apabila ia mencintai dunia, ialah Aku keluarkan dari hatinya kelezatan bermunajah dengan Aku”.
Seorang laki-laki menulis surat kepada saudaranya, yang berbunyi: “Engkau telah diberikan ilmu, maka janganlah engkau padamkan nur ilmu itu dengan kegelapan dosa. Nanti engkau kekal dalam ke-gelapan, pada hari berjalan segala ahli ilmu dalam sinar ilmunya”.

Berkata Yahya bin Ma’az Ar-Razi ra. : kepada para ahli ilmu duniawi : “Hai segala ahli ilmu! Istanamu seperti is tana kaisar Romawi, rumahmu seperti rumah raja (ktsra) Persif pakaianmu seperti pakaian golongan Dzahiriah, sepaturrtu seperti sepatu Jalut, kendaraan-mu seperti kendaraan Qarun, tempat makanmu seperti tempat makan Fir’aun,perbuatanmu seperti perbuatan orang jahiliah dan madzhabmu seperti madzhab setan. Maka dimanakah syari’at Muhammad itu ?”.
Berkata seorang penyair :

Pengembala domba menjaga dari serigala.
Maka bagaimana pula ………………………..
apabila ……………………………………………
pengembala itu sendiri serigala………..?”
Berkata penyair lain :

“Wahai para pembaca…………………….
Wahai garam negeri……………………….
Tidaklah garam dapat membuat perbaikan, apabila garam itu sendiri busuk…………..

Ditanyakan kepada setengah ‘arifin (orang yang mempunyai ma’rifah kepada Allah Ta’ala) : “Adakah tuan berpendapat bahwa orang yang meletakkan pekerjaan ma’siat menjadi kecintaannya, tidak mengenai Allah?”

Menjawab ‘arifin itu : “Tak ragu aku bahwa orang yang memilih dunia dari akhirat adalah tidak mengenai Allah Ta’ala”.
 Selain dari itu, amat banyak lagi kata-kata hikmah tentang itu.

Janganlah anda menyangka bahwa meninggalkan harta kekayaan saja sudah mencukupi untuk menghubungkan diri dengan ulama akhirat. Sebab mencari kemegahan itu, lebih lagi membawa kemelaratan dari harta. Dari itu berkata Bisyr : “Berbicara dengan kami salah satu dari pintu dunia. Maka apabila aku mendengar orang mengatakan : “Berbicaralah dengan kami!”, maka sebenarnya ia mengatakan : “Berilah kelapangan kepadaku”.

Bisyr bin Harts menanamkan lebih sepuluh buah buku antara peti buku dan peti tempat simpanan tamar (kurma kering). Dia mengatakan : “Saya ingin berbicara. Jikalau hilanglah keinginanku berbicara, maka aku berbicara”.
Berkata Bisyr dan lainnya : “Apabila ingin engkau berbicara, maka diamlah! Apabila tidak ingin, maka berbicaralah!”
Pahamilah ini! Karena merasa kelezatan dengan kemegahan membuat sesuatu jasa dan memperoleh kedudukan memberi petunjuk kepada orang, adalah kelezatan yang terbesar dari seluruh kenikmatan duniawi. Barang siapa memperkenankan hawa nafsunya membicarakan itu, maka adalah dia diantara anak-anak dunia.
Dari itu berkata Ats-Tsuri : “Fitnah pembicaraan, adalah lebih hebat dari pada fitnah keluarga, harta dan anak. Bagaimanakah tidak ditakuti fitnahnya? Dan telah dikatakan kepada Penghulu segala rasul saw: Jikalau tidaklah Kami tetapkan pendirian engkau, maka hampirlah engkau condong sedikit kepada mereka”.
Berkata Sahl ra. : “Ilmu itu seluruhnya dunia. Yang akhirat dari ilmu itu, ialah berbuat amal. Amal seluruhnya itu hampa, kecuali dengan keikhlasanBerkata Sahl seterusnya : “Manusia seluruhnya matit selain para ahli ilmu. Para ahli ilmu itu mabuk, selain yang beramal. Orang yang beramal seluruhnya tertipu, selain yang ikhlas. Orang yang ikhlas itu dalam ketakutan, sebelum diketahuinya apa kesudahan dari amalnya itu “.
Berkata Abu Sulaiman Ad-Darani ra. : “Apabila seseorang mempelajari hadits atau kawin atau merantau mencari penghidupan, maka orang itu telah condong kepada dunia”.

Maksud Abu Sulaiman dengan ucapannya itu ialah mencari isnad-isnad hadits yang tinggi atau mencari hadits yang tidak diperlukan pada mencari akhirat.
Berkata Nabi Isa as. : “Bagaimana menjadi ahli ilmu orang yang perjalanannya ke akhirat, sedang dia menghadap ke jalan dunia?

Bagaimana menjadi ahli ilmu orang mencari ilmu kalam untuk diceriterakan, tidak untuk diamalkan ?”
Berkata Shaleh bin Kaisan Al-Bashari : “Aku berjumpa dengan beberapa orang syekh. Mereka itu berlindung dengan Allah dari orang dzalim yang alim dengan sunnah Nabi saw.”.

Berkata Abu Hurairah ra. bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم. bersabda :

 من طلب علما مما يبتغي به وجه الله تعالى ليصيب به عرضا من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة

(Man thalaba ilman mimmaa yubtaghaa bihii wajhullaahi Ta’aalaa liyushiiba bihii ‘ardlan minad dun-yaa lam yajid ‘arfal jannati yaumal qiyaamah).(1)

Artinya :”Barang siapa menuntut ilmu.diantara ilmu pengetahuan yang menuju kerelaan Allah untuk memperoleh harta benda duniawi, maka orang itu tidak akan mencium bau sorga pada hari qiamat”. (1)
Sudah dijelaskan oleh Allah altan ulama su’ dengan mencari dunia dengan ilmunya dan ulama akhirat dengan khusu’ dan zuhud. Berfirman Allah ‘Azza wa Jalla tentang ulama dunia
وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ فَنَبَذُوهُ وَرَاءَ ظُهُورِهِمْ وَاشْتَرَوْا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلا
Dan ketika Allah mengambil janji orang-orang yang diberi kan Kitab : Bahwa mereka akan menerangkan Kitab ttu kepada manusia dan tidak tikan menyembunyikan ; kemudian janji itu mereka buang kebelakang dan mereka mengambil sedikit keuntungan untuk gantinya”.(S. Ali ‘Imran, ayat 187).
Berfirman Allah Ta’ala tentang ulama akhirat:
 وَإِنَّ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَمَنْ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِمْ خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ
 بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا أُولَئِكَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ
(Wa inna min ahlil kitaabi laman yu’minu billaahi wa maa unzila ilaikum wa maa unzila ilaihim khaasyii’iina lillaahi laa yasytaruuna biaayaatillaahi tsamanan qaliilan, ulaaika lahum ajruhum indarab-bihim).

1.Dirawikan Abu dawud dan ibnu Majah dari Abu Hurairah dengan isnad baik.


Artinya :”Bahwa diantara orang-orang yang diturunkan Kitab itu ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada wahyu yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka, mereka tunduk kepada Allah, dengan tidak menukar keterangan-keterangan Allah itu dengan harga yang murah. Mereka memperoleh pahala dari sist Tuhan”. (S. Ali ‘imran, ayat 199).
Berkata setengah ulama salaf : “Para ulama itu dibangkitkan dalam rombongan nabi-nabi. Dan para kadli (hakim) dibangkitkan dalam rombongan raja-raja.

Dimaksudkan dalam pengertian kadli, juga seluruh ahli fiqih, yang tujuannya mencari dunia dengan ilmu pengetahuannya.

Diriwayatkan Abud-Darda’ dari Nabi saw. bahwa Nabi saw. bersabda :أوحى الله عز وجل إلى بعض الأنبياء قل للذين يتفقهون لغير الدين ويتعلمون لغير العمل ويطلبون الدنيا بعمل الآخرة يلبسون للناس مسوك الكباش وقلوبهم كقلوب الذئاب ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم أمر من الصبر إياي يخادعون وبي يستهزئون لأفتحن لهم فتنة تذر الحليم حيراناً
“Diwahyukan Allah kepada sebahagian nabi-nabi, yaitu: “Katakanlah kepada, mereka yang menuntut ilmu, bukan untuk agama, belajar bukan untuk amal dan mencari dunia dengan amal perbuatan akhirat : “Bahwa mereka memberi pakaian kulit kibas kepada manusia. Hati mereka seperti hati serigala. Lidah mereka lebih manis daripada madu. Hati mereka lebih pahit daripada buah peria. Aku dikicunkannya, namaKu dipermain-mainkannya. Sesungguhnya akan Aku buka bagi mereka fitnah yang meninggalkan keheranan bagi orang yang penyantun”. (1)
Diriwayatkan Adl-Dlahhakالضحاك dari Ibnu Abbas ra. bahwa Ibnu Abbas mendengar Rasulullah saw. bersabda :”علماء هذه الأمة رجلان رجل آتاه الله علما فبذله للناس ولم يأخذ عليه طمعا ولم يشتر به ثمنا فذلك يصلي عليه طير السماء وحيتان الماء ودواب الأرض والكرام الكاتبون يقدم على الله عز وجل يوم القيامة سيدا شريفا حتى يوافق المرسلين ورجل آتاه الله علما في الدنيا فضن به على عباد الله وأخذ عليه طمعا واشترى به ثمنا فذلك يأتي يوم القيامة ملجما بلجام من نار ينادي مناد على رؤوس الخلائق هذا فلان بن فلان آتاه الله علما في الدنيا فضن به على عباده وأخذ به طمعا واشترى به ثمنا فيعذب حتى يفرغ من حساب الناس Ulama ummat ini terbagi dua. Yang satu dianugerahi Allah ilmu pengetahuan lalu diberikannya kepada orang lain dengan tidak mengharap apa-apa dan tidak diperjual-belikan. Ulama yang seperti ini dido’akan kepadanya oleh burung di udara, ikan dalam air, hewan di atas bumi dan para malaikat yang menuliskan amal manusia. Dia dibawa kehadapan Allah Ta’ala pada hari qiamat, sebagai seorang tuan yang mulia, sehingga menjadi teman para rasul Tuhan. Yang satu lagi dianugerahi Allah ilmu pengetahuan dalam dunia ini dan kikir memberikannya kepada hamba Allah,
1.Dirawikan ibnu abdil birr dari Abid darda dengan isnad dlaif
mengharap apa-apa dan memperjual-belikan. Ulama yang seperti ini datang pada hari qiamat, mulutnya dikekang dengan kekang api neraka. Dihadapan manusia ramai, tampil seorang penyeru, menyerukan : “Inilah sianu anak si anu dianugerahi Allah ilmu pengetahuan. di dunia, maka ia kikir memberikannya kepada hamba Allah, dia mengharap apa-apa dan memperjual-belikannya.Ulama tadi di’azabkan sampai selesai manusia lain dihitung amalan-nya (dihisab)”. (1)
Yang lebih dahsyat dari itu lagi, ialah riwayat yang menerangkan bahwa ada seorang laki-laki menjadi pesuruh Nabi Musa as. Laki-laki itu selalu mengatakan : “Diceriterakan kepadaku oleh Musa Pilihan Allah. Diceriterakan kepadaku oleh Musa yang Dilepaskan Allah (Najiullahنجي الله ). Diceriterakan kepadaku oleh Musa yang berkalam dengan Allah (Kalimullah)”. Sehingga orang itu menjadi kaya raya banyak hartanya. Kemudian orang itu hilang, tidak diketahui oleh Musa as. kemana perginya. Maka Musa as. bertanya kesana kemari tetapi tidak mendapat berita apa-apa.
Pada suatu hari datanglah seorang laki-laki kepada Musa as. membawa seekor babi dan pada letter babi itu tali hitam. Bertanya Musa as. pada laki-laki itu : “Kenalkah engkau si anu?”
Menjawab laki-laki itu : “Kenal! Dialah babi ini”.
Maka berdo’a Musa as. : “Wahai Tuhan ku! Aku bermohon kehadliratMu. Kembalikanlah orang ini kepada keadaannya semula, supaya aku dapat menanyakan, apakah yang telah menimpa dirinya !
Maka Allah ‘Azza wa Jalla mewahyukan kepada Musa as. : “Sekiranya engkau meminta kepadaKu dengan apa yang telah diminta-kan Adam atau lebih kurang lagi, tidak juga Aku perkenankan, Tetapi Aku kabarkan kepadamu, mengapa Aku berbuat begitu, adalah disebabkan orang itu mencari dunia dengan agama”.
Yang lebih berat lagi dari ini, ialah yang diriwayatkan Ma’az bin Jabal ra. suatu hadits mauquf dan marfu’ bahwa Nabi saw. bersabda :من فتنة العالم أن يكون الكلام أحب إليه من الاستماع “Diantara fitnah dari seorang yang berilmu ialah lebih suka ia berkata-kata dari pada mendengar. Sebab dalam perkataan itu banyak bunga Dan tambahan dan belum ada jaminan teipelihara dari kesalahan. Dalam berdiam diri timbul keselamatan dan tanda berilmu pengetahuan. Diantara orang yang berilmu (ulama), ada yang menyimpan saja ilmunya, tidak suka ada pada orang lain. Orang yang semacam ini, dalam lapisan pertama dari api neraka.

1.Dirawikan AtbThabranl dari Ibnu Abbas dengan isnad dla’if.


Diantara orang yang berilmu, ada yang bersikap sebagai raja dengan ilmunya. Jika ada pengetahuannya yang ditolak orang atau dipandang orang lemah dan kurang benar, maka marahlah dia. Orang yang semacam ini dalam lapisan kedua dari api neraka. Diantara orang yang berilmu, ada yang menyediakan ilmunya dan pembahasan ilmiahnya yang mendalam untuk orang yang terkemuka dan yang kaya saja dan tidak mau melihat kepada orang yang memerlukan kepada ilmu pengetahuannya. Orang yang semacam ini dalam lapisan ketiga dari api neraka.
Diantara orang yang berilmu, ada yang mengangkat dirinya, untuk memberi fatwa, lalu ia berfatwa salah. Allah Ta’ala memarahi orang-orang yang memberatkan dirinya dengan beban yang tidak disanggupinya. Orang yang semacam ini dalam lapisan keempat dari api neraka. Diantara orang yang berilmu, ada yang berbicara cara Yahudi dan Nasrani untuk memperlihatkan ketinggian ilmu pengetahuannya. Orang yang semacam ini dalam lapisan kelima dari api neraka. Diantara orang yang berilmu, ada yang membuat ilmunya untuk prestige (kehormatan diri), kemuliaan dan keharuman nama ditengah-tengah masyarakat. Orang yang semacam ini dalam lapisan keenam dalam api neraka. Diantara orang yang berilmu, ada yang menarik kebanggaan dan kesombongan dengan ilmunya. Bila ia memberi nasehat, menghardik. Dan bila dinasehati, berkeras kepala. Orang yang semacam ini dalam lapisan ketujuh dari api neraka.
Wahai saudaraku Hendaklah engkau berdiam diri! Dengan berdiam diri, engkau dapat mengalahkan setan. Waspadalah dari tertawa tanpa ada yang mena’jubkan dan dari berjalan tanpa ada maksud!

Pada hadits yang lain, tersebut : إن العبد لينشر له من الثناء ما يملأ ما بين المشرق والمغرب وما يزن عند الله جناح بعوضة “Ada orang yang berkumandang pujian terhadap dirinya memenuhi antara masyriq dan magrib, tetapi pada sisi Allah tidak ada timbangannya seberat sayap lalat”. (1)
Diceriterakan bahwa seorang laki-laki dari Khurasan membawa kepada Al-Hasan suatu bungkusan sesudah Al-Hasan meninggalkan majlisnya. Bungkusan tersebut berisi lima ribu dirham dan sepuluh potong kain dari benang halus.
Berkata laki-laki itu : “Hai Abu Said! (Panggilan kepada Al-Hasan) Inilah belanja dan inilah pakaian!”
1.kata al iraqi tidak pernah menjumpai hadis demikian

Menjawab Al-Hasan : “Kiranya Allah melimpahkan kesehatan kepadamu! Kumpulkanlah ini untuk belanjamu dan pakaianmu! Kami tidak berhajat kepadanya. Sesungguhnya orang yang duduk seumpama majlisku itu dan menerima dari orang seperti ini, maka dia akan menjumpai Allah Ta’ala pada hari qiamat dan dia tidak berbudi”.
Diriwayatkan dari Jabir hadits mauquf dan marfu’ (hadits tidak kuat) bahwa Nabi saw. bersabda :لا تجلسوا عند كل عالم إلا إلى عالم يدعوكم من خمس إلى خمس من الشك إلى اليقين ومن الرياء إلى الإخلاص ومن الرغبة إلى الزهد ومن الكبر إلى التواضع ومن العداوة إلى النصيحة

“Janganlah engkau duduk pada setiap orang yang berilmu, kecuali pada orang yang berilmu yang mengajak kamu dari lima kepada lima : dari keragu-raguan kepada keyakinan, dari ria kepada ke ikhlasan, dari kegemaran kepada dunia kepada zuhud, dari takabur kepada kerendahan diri dan dari permusuhan kepada nasehat-menasehati”. (1)
Berfirman Allah Ta’ala :

 رَجَ عَلَى قَوْمِهِ فِي زِينَتِهِ قَالَ الَّذِينَ يُرِيدُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا يَا لَيْتَ لَنَا مِثْلَ مَا أُوتِيَ قَارُونُ إِنَّهُ لَذُو حَظٍّ عَظِيمٍ وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ

(Fakharaja ‘alaa qaumihii fii ziinatihii qaalalladziina yuriiduunal hayaatad dun-yaa yaalaita lanaa mitsla maa uutiya qaaruunu inna-huu ladzuu hadhdhin ‘adhiim wa qaalalladziina uutul ‘ilma waila-kum tsawaabullaahi khairun liman aamana).Artinya:”Lalu dia keluar kepada kaumnya dengan perhiasannya (yang indah-indah).
Orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia ini berkata : Wahai! Kiranya kami mempunyai seperti apa yang diberikan kepada Qarun! Sesungguhnya dia beruntung yang besar (bernasib baik)! Tetapi orang-orang yang berpengetahuan berkata : Malang nasibmu! Pahala dari Tuhan lebih baik untuk orang yang beriman(S. Al-Qashash, ayat 79 – 80).
Maka ahli ilmu itu tahu memilih akhirat atas dunia.

Diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, tidak bertentangan perbuatannya dengan perkataannya. Bahkan ia tidak menyuruh sesuatu sebelum dia sendiri menjadi orang pertama yang mengerjakannya.

1.Dirawikan oleh Abu Na’im dan ibnul juzi termasuk hadis maudhu.


Berfirman Allah Ta’ala : “Adakah kamu menyuruh manusia dengan kebaikan dan kamu lupakan akan dirimu sendiri?”(S. Al-Baqarah, ayat 44).
Berfirman Allah Ta’ala:

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ

(Kabura maqtan ‘indallaahi an taquuluu maa laa tafaluun).
Artinya:”Amat besar kutuk dari Allah Ta’ala bahwa kamu katakan apa yang tidak kamu kerjakan (S. Ash-Shaff, ayat 3).
Berfirman Allah Ta’ala mengenai kisah Nabi Syu’aib as. : “Aku tidak kehendaki bertentangan dengan kamu kepada apa yang Aku larangkan kamu dan padanya “. (s.Hudd Ayat 88)

Berfirman Allah Ta’ala : “Berbaktilah kepada Allah dan Allah mengajarkan kamu “(Al-Baqarah, ayat 282).
Berfirman Allah Ta’ala : “Berbaktilah kepada Allah dan tahulah! Dan berbaktilah kepada Allah dan dengarlah
Berfirman Allah Ta’ala kepada Isa as. : “Hai Putera Maryam! Ajari-lah dirimu sendiri! Jika engkau telah memperoleh pelajaran, maka ajarilah orang lain. Kalau tidak, maka malulah kepada-Ku !”

Bersabda Nabi saw. : مررت ليلة أسري بي بأقوام تقرض شفاههم بمقاريض من نار فقلت “Aku lalui pada malam isra’ku pada beberapa kaum yang disayat bibirya dengan gunting-gunting dari api neraka. Maka aku tanyakan : من أنتم “Siapakah kamu ini?”فقالوا Mereka menjawab : كنا نأمر بالخير ولا نأتيه وننهى عن الشر ونأتيه “Kami adalah orang yang menyuruh dengan kebaikan dan tidak kami kerjakan. Kami melarang dari kejahatan dan kami kerjakan”. (1)

  1.Dirawikan Ibnu Hibban dari Anas.

  
Bersabda Nabi saw. :هلاك أمتي عالم فاجر وعابد جاهل وشر الشرار شرار العلماء وخير الخيار خيار العلماء (Halaaku ummatii ‘aalimun faajirun wa ‘aabidun jaahilun wa syar-rusy-syiraari syiraarul ulamaa-i wa khairul khiyaari khiyaarul ‘ula-maa’).Artinya :”Yang binasa dari ummatku ialah orang berilmu yang dhalim dan orang yang beribadat yang bodoh. Kejahatan yang paling jahat ialah kejahatan orang berilmu dan kebaikan yang paling baik ialah kebaikan orang yang berilmu “. (1)
Berkata Al-Auza’i ra. : “Diduga oleh pembuat peti-peti mayat bahwa tak ada yang lebih busuk selain dari mayat orang-orang yang tak beriman. Maka diwahyukan Tuhan kepadanya bahwa perut ulama su’ lebih busuk dari itu”.
Berkata Al-Fudlail bin ‘Iyadl ra. : “Sampai kepadaku bahwa orang berilmu yang fasiq didahulukan penyiksaannya pada hari qiamat, daripada penyembah-penyembah berhala”.
Berkata Abud-Darda’ ra. : “Siksaan neraka bagi orang yang tidak berilmu, satu kali dan bagi orang yang berilmu yang tidak menga-malkan tujuh kali”.
Berkata Asy-Sya’bi : “Muncul pada hari qiamat suatu golongan dari penduduk sorga, berhadapan dengan suatu golongan dari pen-duduk neraka. Maka bertanya penduduk sorga : “Apakah sebabnya maka tuan-tuan dimasukkan ke dalam neraka? Adapun kami ini, maka dimasukkan Allah ke dalam sorga ialah karena kelebihan pengajaran dan pelajaran tuan-tuan
Maka menjawab penduduk. neraka : “Karena kami menyuruh dengan kebajikan dan tidak kami kerjakan, melarang dari kejahatan dan kami kerjakan”.

Berkata Hatim Al-Ashamm ra. : “Tidak adalah kerugian yang paling hebat pada hari qiamat, selain dari orang yang mengajari manusia ilmu pengetahuan lalu diamalkan mereka, sedang dia sendiri tidak mengamalkannya. Maka mereka memperoleh kemenangan dengan sebabnya dan dia sendiri binasa “

Berkata Malik bin Dinar: “Bahwa orang yang berilmu apabila tidak berbuat sepanjang ilmunya, maka lenyaplah pengajarannya dari hati manusia seperti lenyapnya embun pagi dari bukit Shofa”.
  

1.Dirawikan AdDarimi dari AtAhwash bin Hakim hadits mursal.

  

Maka berpantunlah mereka :

“Wahai pengajar manusia !

Engkau tertuduh……………………

Engkau larang mereka beberapa perkara,

Engkau sendiri mengerjakannya……………

Engkau rajin menasehati mereka ………………………….

tetapi, segala yang terlarang, engkau yang mengerjakannya itu.

Engkau hinakan dunia dan orang yang suka kepadanya,

sedang engkau sendiri paling suka kepada dunia itu…………”
Berkata penyair lain :

“Janganlah engkau melarang sesuatu tingkah laku

dan engkau sendiri mengerjakannya,

Amatlah sangat memalukan kamu,

apabila engkau sendiri memperbuatkannya”.

Berkata Ibrahim bin Adham ra. : “Aku melewati batu besar di Makkah yang tertulis diatasnya Balikkanlah aku, engkau akan dapat mengambil ibarat (suatu pemandangan) Maka aku balikkan lalu aku lihat tertulis padanya : “Dengan yang engkau ketahui tidak engkau kerjakan, maka bagaimana engkau mencari ilmu tentang sesuatu yang belum engkau ketahui!”
Berkata Ibnus-Sammak ra. : “Berapa banyak orang yang memperingatkan orang lain kepada Allah, yang lupa kepada AllahI Berapa banyak orang yang memberi peringatan supaya takut kepada Allah, yang berani menentang Allah! Berapa banyak orang yang mengajak orang lain mendekatkan diri kepada Allah, yang jauh dari Allah! Berapa banyak orang yang menyerukan orang lain kepada AUah; yang lari dari Allah! Dan berapa banyak orang yang membaca Kitab Allah, terhapus hatinyq dan ayat-ayat Allah!”.
Berkata Ibrahim bin Adham ra. : “Kami perbaiki bahasa perkataan kami, maka kami tidak salah. Dan kami telah salah pada perbuatan kami tetapi tidak kami perbaiki”.
Berkata Al-Auza’i : “Apabila diperhatikan benar perbaikan bahasa, maka hilanglah khusu’ “.

Diriwayatkan Makhul dari Abdur Rahman bin Ghanam bahwa Abdur Rahman mengatakan : “Berceritera kepadaku sepuluh orang shahabat Nabi saw. dengan katanya : “Kami sedang belajar ilmu di masjid Quba tiba-tiba masuk Rasulullah saw. lalu bersabda :

تعلموا ما شئتم أن تعلموا فلن يأجركم الله حتى تعملوا

 (Ta’aUamuu maa syi’tum an ta’allamuu falan ya’jarakumullaahu hattaa ta’maluu).

Artinya :”Pelajarilah apa yang engkau kehendaki mempelajarinya. Tetapi engkau tidak diberi pahala oleh Allah Ta’ala, sebelum engkau amalkari”. (1)
Bersabda Nabi Isa as. : “Orang yang mempelajari ilmu dan tidak mengamalkannya adalah seumpama wanita yang berbuat serong dengan sembunyi, maka ia hamil. Setelah bersalin, maka, pecahlah kabar tentang perbuatan jahat wanita tersebut. Maka begitu pulalah orang yang tidak berbuat menurut ilmunya, akan disiarkan Allah pada hari qiamat dihadapan orang banyak”.
Berkata Mu’adz ra. ; “Jagalah tergelincirnya orang berilmu, karena kedudukannya tinggi di mata orang banyak! Maka dia diikuti mereka, meskipun dia telah tergelincir”.
Berkata Umar ra. : “Apabila tergelincir orang yang berilmu, maka tergelincirlah alam makhluk”.
Berkata Umar ra.: “Dengan tiga sebab hancurlah zaman. Salah satu dari padanya, tergelincirnya orang berilmu “
Berkata Ibnu Mas’ud : “Akan datang kepada manusia suatu masa, yang terbalik kemanisan hati menjadi asin. Sehingga pada hari itu, orang yang berilmu dan yang mempelajari ilmu tak dapat mengambil manfaat dari ilmunya. Maka hati orang-orang yang berilmu, dari mereka seumpama tanah kosong yang bergaram, yang turun kepadanya hujan dari langit, maka tidak juga diperoleh rasa tawar padanya. Yaitu, apabila condong hati orang berilmu kepada mencintai dunia dan melebihkannya dari akhirat. Maka pada ketika itu, dicabutkan Allah sumber-sumber hikmah dan dipadamkanNya lampu petunjuk dari hati mereka. Maka akan diceriterakan kepadamu oleh orang yang berilmu dari mereka itu ketika engkau menjumpainya, bahwa dia takut akan Allah dengan lisannya. Dan kedzaliman jelas kelihatan pada amal-perbuatannya. Alangkah suburnya lidah mereka ketika itu dan tandusnya hati mereka! Demi Allah yang tiada Tuhan melainkan Dia! Tidaklah terjadi yang demikian itu selain karena para guru mengajar bukan karena Allah dan para pelajar belajar bukan kerena Allah”.

1.Dirawtkan Alqamah bin AbdulBarr dari Mu’adz dengan sanad dla’if.

Dalam Taurat dan Injil tertulis : “Janganlah engkau mencari ilmu yang belum engkau ketahui, sebelum engkau amalkan apa yang telah engkau ketahui”.
Berkata Hudzaifah ra. : “Sesungguhnya engkau sekarang berada pada zaman, di mana orang yang meninggalkan sepersepuluh dari yang diketahuinya, menjadi binasa. Dan akan datang suatu zaman, di mana orang yang mengerjakan padanya sepersepuluh dari apa yang diketahuinya, niscaya ia selamat. Sebabnya, adalah karena banyaknya orang yang berbuat batil”.
Ketahuilah bahwa orang berilmu itu adalah serupa dengan kadli (hakim). Nabi صلى الله عليه وسلم.. bersabda :

القضاة ثلاثة قاض قضى بالحق وهو يعلم فذلك في الجنة وقاض قضى بالجور وهو يعلم أو لا يعلم فهو في النار وقاض قضى بغير ما أمر الله به فهو في النار

(Al-Qudlaatu tsalaateatun qaadlin qadlaa bil haqqi wa huwa yalamu fadzaalika fil jannah, wa qaadlin qadlaa bil jauri wa huwa yalamu aulaa yalamu fahuwa finnaari wa qaadlin qadlaa bighairi maa amarallaahu bihii fahuwa finnaar).Artinya :”Kadli itu tiga macam : semacam menghukum dengan yang benar dan dia itu tahu, maka dia itu dalam surga. Semacam menghukum dengan kedzaliman dan dia itu tahu atau tidak tahu yang demikian maka dia itu dalam neraka. Dan semacam lagi menghukum di luar daripada perintah Allah, maka dia itu dalam neraka”. (1)
Berkata Ka’ab ra. : “Adalah pada akhir zaman, orang-orang yang berilmu, menyuruh manusia zuhud dari dunia dan mereka sendiri tidak zuhud. Menyuruh manusia takut kepada Tuhan dan mereka sendiri tidak takut. Melarang manusia mendatangi wali-wali negeri dan mereka sendiri datang kepada wali-wali negeri itu. Mereka memilih dunia dari akhirat, mereka makan hasil usaha lidah mereka. Mereka mendekati orang-orang kaya, tidak orang-orang mtsfiin. Mereka cemburu kepada ilmu pengetahuan seperti kaum wanita cemburu kepada kaum laki-laki. Ia marah kepada teman duduknya apabila ia duduk dengan orang lain.Orang-orang yang berilmu semacam itulah, orang-orang yang keras hati, musuh Tuhan Yang Maha Pengasih “.

1.Dirawikan pengarang kitab “AsSunan” dari Buraidah dan ini hadits shahih.


Bersabda Nabi saw. : Kadang-kadang setan itu menangguhkan kamu dengan ilmu

Lalu bertanya yang hadlir : “Ya Rasulullah Bagaimana yang demikian itu?

Menjawab Nabi saw. : إن الشيطان ربما يسوفكم بالعلم، فقيل يا رسول الله وكيف ذلك، : صلى الله عليه وسلم: يقول اطلب العلم ولا تعمل حتى تعلم فلا يزال للعلم قائلا وللعمل مسوفا حتى يموت وما عمل

“Yaitu, setan itu mengatakan : “Tuntutlah ilmu dan jangan beramal dulu sebelum tahu benar. Maka senantiasa-lah setan itu berkata demikian bagi ilmu dan menangguhkan terhadap amal perbuatan, sehingga mati yang belajar itu dan tidak beramal”. (1)
Berkata Sirri As-Suqthi : “Adalah seorang laki-laki mengasingkan diri pergi beribadah, di mana tadinya amat rajin mempelajari ilmu dhahir. Maka aku bertanya kepadanya, lalu ia menjawab : “Saya bermimpi berjumpa dengan orang yang mengatakan kepadaku : “Berapa banyak engkau menyia-nyiakan ilmu, maka sebanyak itu pulalah engkau disia-siakan Allah”. Aku menjawab bahwa aku memelihara ilmu itu, maka berkata orang yang dalam mimpi tadi: “Memeliharakan ilmu ialah mengamalkan ilmu itu”. Maka aku tinggalkan belajar dan pergi beramal”.
Berkata Ibnu Mas’ud ra. : “Tidaklah ilmu itu dengan banyak ceritera, tetapi ilmu itu takut kepada Tuhan”.
Berkata Al-Hasan : “Pelajarilah apa yang kamu mau mempelajarinya! Demi Allah! Kamu tidak akan diberi pahala oleh Allah sebelum beramal. Sebab orang-orang bodoh itu, cita-citanya meriwayatkan ilmu dan orang-orang yang berilmu itu cita-citanya memelihara ilmu itu dengan amal”.

Berkata Malik ra. ‘”Menuntut ilmu itu baik dan mengembangkannya baik apabila niat itu betul. Tetapi perhatikanlah, apa yang harus bagimu dari pagi sampai petang! Maka janganlah engkau lebihkan sesuatu itu dari ilmu”.
Berkata Ibnu Ma’ud ra. : “Di turunkan Al-Quran untuk diamalkan. Maka ambillah mempelajarinya menjadi amalan. Dan akan datang suatu kaum yang membersihkan Al-Quran seperti membersihkan selokan. Mereka itu tidaklah termasuk orang baik. Orang berilmu yang tidak mengamalkan, adalah seumpama orang sakit yang menerangkan tentang obat dan seumpama orang lapar
  

1.Dirawikan dari Anas dansan sanad dla’if.

yang menerangkan tentang kelezatan makanan dan makanan itu tidak diperolehnya”.

Searah dengan yang diatas tadi, firman Allah Ta’ala :

وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

(Wa lakumul wailu mimmaa tashifuun).Artinya :”Bagi kamu neraka wailun dari apa yang kamu terangkan(S. Al-Anbia, ayat 18).

Dalam hadits tersebut

إنما أخاف على أمتي زلة عالم وجدال منافق في القرآن

(Innamaa akhaafu ‘alaa ummatii zillatu ‘aalimin wa jidaalu munaa-fiqin fil Qur-an).

Artinya :”Diantara yang aku takuti atas ummatku ialah tergelincirnya orang berilmu dan pertengkaran orang munafiq tentang Al-Quran”. (1)
Dan diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, ialah kesungguhannya mencari ilmu yang berguna tentang akhirat, yang menggembirakan pada ta’at, menjauhkan diri dari ilmu pengetahuan yang sedikit manfa’atnya dan banyak padanya pertengkaran, kata ini dan kata itu (qil dan qal).
Orang yang mengenyampingkan pengetahuan untuk beramal dan sibuk dengan pertengkaran adalah seumpama orang sakit, yang pada tubuhnya bermacam-macam penyakit dan ia berjumpa dengan seorang dokter yang ahli, pada waktu yang sempit yang hampir habis. Maka si sakit tadi menggunakan waktu yang sedikit itu untuk menanyakan kegunaan resep, obat dan keganjilan-keganjilan dalam ilmu kedokteran dan meninggalkan kepentingannya yang mendesak untuk memperoleh pengobatan.
Orang yang semacam itu adalah bodoh sekali.

Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata : “Ajarilah hamba ilmu yang ganjil-ganjil!”.
  

1.Dirawikan AthThabrani dari AbidDarda’ dan Ibnu Hibban dari Imran bin Hushain.

  
Maka menjawab Nabiصلى الله عليه وسلم. : “Apakah yang engkau perbuat mengenai pokok pengetahuan ?”.

Bertanya orang itu:”Yang manakah pokok pengetahuan itu?”.
Menjawab Nabi saw.:هل عرفت الرب تعالى “Kenalkah engkau akan Tuhan?”. قال نعم “Kenal”, menjawab orang itu.

“Apakah yang engkau perbuat tentang hak Allah Ta’ala?”.

“Masya Allah banyak!!! jawab orang itu.

“Kenalkah engkau akan mati ? tanya Nabi saw.

“Kenal, ya Rasulullah!’ jawabnya.

“Apakah yang engkau sediakan untuk mati?’ tanya Nabi saw, lagi. “Masya Allah banyak! jawabnya.

Kemudian, maka bersabda Nabi saw. : إذهب فأحكم ما هناك ثم تعال نعلمك من غرائب العلم

“Pergilah, kemudian kuat-kanlah apa yang ada di Sana , Sudah itu datanglah ke mari, akan kami ajarkan engkau ilmu yang ganjil-ganjil!”. (1)
Tetapi sewajarnyalah hendaknya, pelajar itu sejenis dengan apa yang diriwayatkan dari Hatim Al-Ashamm – murid dari Syaqiq AI-Balakhi ra. Bahwa Syaqiq bertanya kepada Hatim “Sejak kapan engkau bersama aku?”.

Menjawab Hatim : “Sejak tiga puluh tiga tahun!”.

Bertanya lagi Syaqiq : “Apakah yang engkau pelajari padaku selama itu?”.

Menjawab Hatim : “Delapan masalah!”.

Berkata Syaqiq dengan terperanjat : إنا لله وإنا إليه راجعون “Innaalillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun! Terbuanglah saja umurku bersamamu. Dan engkau tidak pelajari kecuali delapan masalah saja”.

Menyela Hatim : “Wahai guruku! Aku tidak pelajari yang lain dan aku tidak ingin berdusta”.

Maka menyambung Syaqiq : “Terangkanlah masalah yang delapan itu supaya aku dengar!”.

Berkata Hatim : “Aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat masing-masing mempunyai kekasih dan ingin bersama dengan kekasihnya sampai ke kubur. Maka apabila telah sampai ke kubur, niscaya ia berpisah dengan kekasih itu.
  

1.Diriwayatkan Ibus-Slnni dan Abu Na’im dan Ibnu Abdil Barrdari Abdullah bin AI-Munawwar dan hadits ini dla’if sekali.

  

Maka aku mengambil perbuatan baik menjadi kekasihku. Maka apabila aku masuk kubur, masuk pulalah kekasihku bersama aku”
Maka berkata Syaqiq : “Benar sekali, ya Hatim! Dan yang kedua?*’. Menyambung Hatim : “Aku perhatikan firman Allah Ta’ala :

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ , فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَىٰ

(Wa ammaa man khaafa maqaama rabbihii wa nahannafsa ‘anil hawaa fainnal jannata hiyal ma’waa)

Artinya :”Dan adapun orang yang takut dihadapan kebesaran Tuhannya dan menahan jiwanya dari keinginan yang rendah (hawa nafsu), maka sesungguhnya taman (sorga) tempat kediamannya”.(S.An-Nazi’at, ayat 40 – 41).
Maka yakinlah aku bahwa firman Allah Ta’ala itu benar. Lalu aku perjuangkan diriku menolak hawa nafsu itu, sehingga tetaplah aku ta’at kepada Allah Ta’ala.
Yang ketiga, aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat, bahwa tiap-tiap orang yang ada padanya sesuatu benda, menghargai, mehilai dan memeliharai benda itu. Kemudian aku perhatikan firman Allah Ta’ala :

 مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللَّهِ بَاقٍ
(Maa ‘indakum yanfadu wa maa’indallaahi baaq).
Artinya :”Apa yang di sisi kamu itu akan hilang tetapi apa yang ditisi Allah itulah yang kekal”.(S. An-Nahl, ayat 96).
Maka tiap kali jatuh ke dalam tanganku sesuatu yang berharga dan bernilai, lalu kuhadapkan dia kepada Allah, semoga kekal dia ter-pelihara pada sisiNya.
 Yang keempat, aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat masing-masing mereka kembali kepada harta, kebangsawan-an, kemuliaan dan keturunan. Lalu aku memandang pada semuanya itu, tiba-tiba tampaknya tak ada apa-apa. Kemudian aku perhatikan firman Allah Ta’ala :

 إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
(Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum).
Artinya :”Yang termulia dari kamu pada sisi Allah ialah yang kuat taqwanya (baktinya)”
(S. Al-Hujurat, ayat 13).

Maka berbuat taqwalah aku, sehingga adalah aku menjadi orang mulia di sisi Allah.
 Yang kelima, aku memandang kepada makhluk ini, di mana mereka itu tusuk-menusuk satu sama Iain, kutuk-mengutuk satu sama lain. Dan asal ini semuanya, ialah dengki Kemudian aku perhatikan firman Allah Ta’ala :
نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَعِيشَتَهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
(Nahnu qasamnaa bainahum ma’iisyatahum fil hayaatid-dunya).
Artinya:”Kamilah yang membagi-bagikan penghidupan diantara mereka dalam kehidupan di dunia ini”.(S. Az-Zukhruf, ayat 32).
Maka aku tinggalkan dengki itu. Dan aku jauhkan diri dari orang banyak. Dan aku tahu bahwa pembahagian rezeki itu, adalah dari sisi Allah Ta’ala. Maka aku tinggalkan permusuhan orang banyak kepadaku.
Yang keenam, aku memandang kepada makhluk ini, berbuat kedurhakaan satu sama lain dan berperang satu sama lain.
  
Maka kembalilah aku kepada firman Allah Ta’ala :

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا
(Innasy-syaithaana lakum ‘aduwwun fattakhidzuuhuAduwwaa).
Artinya :”Sesungguhnya setan itu musuh kamu. Sebab itu perlakukanlah dia sebagai musuh!”.
(S. Al-Fathir, ayat 6).
Maka aku pandang setan itu musuhku satu-satunya dan dengan sungguh-sungguh aku berhati-hati dari padanya, karena Allah Ta’ala.Aku mengaku bahwa setan itu musuhku. Dan aku tinggalkan permusuhan makhluk dengan lainnya.
Yang ketujuh, aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat masing-masing mereka mencari sepotong dari dunia ini. Lalu ia menghinakan diri padanya dan ia masuk pada yang tidak halal dari padanya. Kemudian aku perhatikan firman Allah Ta’ala :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
(Wa maa min daabbatin fil-ardli illaa ‘alallaahi rizquhaa).
Artinya :”Dan tidak adalah dari yang merangkak di bumi ini melainkan rezekinya pada Allah(S. Hud, ayat 6).

Maka tahulah aku bahwa aku ini salah satu dari yang merangkak-rangkak, yang rezekinya pada Allah Ta’ala. Dari itu aku kerjakan apa yang menjadi hak Allah atasku dan aku tinggalkan yang menjadi hakku pada sisi-Nya.”
Yang kelapan, aku memandang kepada makhluk ini, maka aku melihat masing-masing mereka bersandar kepada makhluk. Yang ini kepada bendanya, yang itu kepada perniagaannya, yang itu kepada perusahaannya dan yang itu lagi kepada kesehatan badannya. Dan masing-masing makhluk itu bersandar kepada makhluk, yang seperti dia.
Lalu aku kembali kepada firman Allah Ta’ala :
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
(Wa man yatawak-kal ‘alallaahi fahuwa hasbuh).

Artinya :”Dan barangsiapa menyandarkan dirinya kepada Allah, maka Allah mencukupkan keperluannya(S. Ath-Thalaq, ayat 3).

Maka akupun menyandarkan diriku (bertawakkal) kepada Allah Ta ‘ala. Dan Allah Ta’ala mencukupkan keperluanku”.
Berkata Syaqiq : “Ya Hatim! Kiranya Allah Ta’ala memberikan taufiq kepadamu! Aku telah memperhatikan segala ilmu pengetahuan Taurat, Injil, Zabur dan Al-Quran yang mulia, maka aku peroleh, bahwa segala macam kebajikan dan keagamaan, berkisar diatas delapan masalah tersebut. Barang siapa memakainya, maka berarti dia telah memakai kitab empat itu”.
Maka bahagian ini dari ilmu pengetahuan, tidaklah dipentingkan memperolehnya dan memperhatikannya selain oleh ulama akhirat, Adapun ulama dunia, maka dikerjakannya yang memudahkan mencari harta dan kemegahan. Dan disiasiakannya ilmu yang seperti ini, yang diutuskan oleh Allah para Nabi as. Membawanya.
Berkata Adl-Dlahhakbin Muzahim “Aku dapati para ulama dan tidak dipelajari oleh sebahagian mereka dari yang lain, melainkan tentang wara’ (memelihara diri dari dosa dan harta syubhat). Tetapi ulama sekarang tidak dipelajarinya selain dari ilmu kalam”.
Dan diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, tidak ingin kepada kemewahan, pada makanan, minuman dan pakaian. Tidak ingin kepada kecantikan, pada perabot rumah tangga dan tempat tinggal. Tetapi memilih kesederhanaan pada semuanya itu. Serupa keadaan-nya dengan ulama salaf, diberi Allah kiranya rakhmat kepada mereka sekalian. Dan ingin mencukupkan dengan sedikit-dikitnya dalam segala hal.
Semakin bertambah keinginannya ke arah sedikit, semakin bertambah dekatnya dengan Allah Ta’ala dan tinggi kedudukannya dalam barisan ulama akhirat.
Dibuktikan kepada yang demikian oleh suatu ceritera dari Abu Abdillah Al-Khawwash. Dia termasuk diantara teman sejawat Hatim Al-Ashamm. Berceritera Abu Abdillah : “Aku pergi bersama Hatim ke Arrai dan bersama kami tiga ratus dua puluh orang laki-laki. Kami bermaksud mengerjakan ibadah hajji. Pada mereka itu kan-tong bulu. Tidak ada bersama mereka kopor pakaian dan makanan. Maka kami masuk ke tempat seorang saudagar yang sederhana, yang mempunyai belas kasihan kepada fakir miskin. Pada malam itu kami menjadi tamunya.
Pada keesokan harinya, bertanya tuan rumah kepada Hatim : “Apakah saudara ada mempunyai keperluan apa-apa? Sebab saya bermaksud hendak mengunjungi seorang ahli fiqih kami, yang sedang sakit sekarang”.
Menjawab Hatim : “Mengunjungi orang sakit ada kelebihannya dan memandang wajah ahli fiqih itu suatu ibadah. Saya pun pergi bersama tuan!”.
Adalah yang sakit itu Muhammad bin Muqatil kadli negeri Arral Ketika sampai kami di pintu, rupanya suatu istana yang mulia dan cantik. Hatim termenung, seraya berkata : “Beginikah pintu rumah seorang yang berilmu (seorang alim)?”.
Kemudian diizinkan, lalu mereka masuk. Rupanya sebuah rumah yang sangat cantik, cukup luas, bersih, berpemandangan indah dan bertirai. Maka Hatim termenung.

Kemudian mereka masuk ke tempat di mana orang Sakit itu berada. Disitu orang sakit berbaring diatas kasur yang empuk. Dikepalanya seorang bujang dengan memegang alat pemukul lalat.
Maka duduklah yang berkunjung tadi (saudagar itu) di samping kepala si sakit, menanyakan keadaan sakitnya, sedang Hatim berdiri saja. Lalu Ibnu Muqatil (orang sakit itu) mempersilakan Hatim duduk. Hatim menjawab : “Tak usah, tuan!”.

Ibnu Muqatil bertanya : “Barangkali ada perlu?”.

“Ada jawab Hatim.

“Apa?’ tanya Ibnu Muqatil.

“Ada suatu masalah yang ingin saya tanyakan kepada tuan!’,’ sambung Hatim.

“Tanyalah!”.

“Bangunlah tuan!’; kata Hatim. “Duduklah, supaya aku tanyakan!”.

Maka bangunlah Ibnu Muqatil dan duduk. Lalu Hatim bertanya : “Ilmu tuan ini, dari mana tuan ambil?”.

“Dari orang-orang yang dapat dipercayai, yang menerangkan ilmu itu kepada saya”.

“Orang-orang itu, dari siapa?”.

“Dari para shahabat Rasulullah saw. “.

“Para shahabat itu, mengambil dari siapa?”.

“Dari Rasulullah saw.”.

“Rasulullah saw. mengambil dari siapa?”.

“Dari Jibril as. dan Jibril mengambil dari pada Allah Ta’ala”.

Maka berkata Hatim : “Menurut apa yang dibawa Jibril as. daripada Allah Ta’ala kepada Rasulullah saw. dan Rasulullah saw. membawanya kepada para shahabatnya dan para shahabat kepada orang-orang yang dipercayai dan Orang-orang yang dipercayai membawanya kepada tuan, maka adakah tuan mendengar dalam pelajaran itu bahwa orang yang terdapat dalam rumahnya kemewahan dan luas rumahnya cukup lebar, akan memperoleh derajat tinggi pada sisi Allah ‘Azza wa Jalla?”.

Menjawab Ibnu Muqatil: “Tidak!”.

Berkata Hatim : “Bagaimana yang tuan dengar?”.

Menjawab Ibnu Muqatil : “Yang saya dengar bahwa orang yang zuhud di dunia, gemar ke akhirat, mencintai orang miskin dan mendahulukan untuk akhiratnya, maka memperoleh kedudukan yang tinggi pada sisi Allah Ta’ala”.
Berkata Hatim : “Tuan sekarang, siapa yang tuan ikut,Nabikah serta para shahabat ra. dan orang-orang shalih ra. Fir’aun dan Namruz, orang pertama yang mendirikan gedung dengan batu marmer dan batu merah?.
Wahai ulama su’ (ulama jahat)! Orang yang seperti tuan, bila dilihat oleh orang bodoh, yang memburu dan gemar kepada dunia, akan berkata : “Orang yang berilmu sudah begitu, apakah tidak patut aku lebih jahat lagi dari padanya?”.
Maka keluarlah Hatim dari sitti dan bertambahlah penyakit Ibnu Muqatil.

Peristiwa yang terjadi antara Hatim dan Ibnu Muqatil, sampai kepada penduduk Arrai, lalu berkatalah mereka kepada Hatim : “Bahwa Ath-Thanafisi di Qazwin lebih mewah lagi dari Ibnu Muqatil”.
Maka sengajalah Hatim pergi ke sana, lalu masuk ke rumah Ath-Thanafisi seraya berkata: “Kiranya tuan diberi rakhmat oleh Allah. Saya ini orang bodoh, ingin benar tuan ajarkan saya permulaan pelajaran agama dan anak kunci shalat, bagaimana saya berwudlu untuk shalat!”.

Menjawab Ath-Thanafisi : “Boleh, dengan segala senang hati ! Hai! Ambillah kendi yang berair”.

Lalu dibawakan kepadanya. Maka duduklah Ath-Thanafisi mengambil wudlu tiga-tiga kali, kemudian berkata : “Beginilah cara berwudlu ! Cobalah berwudlu!”.
Maka berkata Hatim : “Biarlah di tempat tuan, supaya saya berwudlu dihadapan tuan! Sehingga benar-benar tercapai apa yang saya maksudkan”.
Maka bangunlah Ath-Thanafisi, dan duduklah Hatim berwudlu.
Dibasuhnya ke dua lengannya empat-erapat kali. Lalu menegur Ath-Thanafisi: “Hai, mengapa engkau memboros ?”.

Menjawab Hatim : “Apa yang saya boroskan?”.

“Kau basuhkan lenganmu empat kali”.

Subhanallah! Maha Suci Tuhan Yang Maha Besar!”. Menjawab Hatim. “Hanya setapak tangan air, sudah memboros. Tuan dengan ini seluruhnya, apakah tidak memboros?”.

Maka tahulah Ath-Thanafisi, bahwa maksud Hatim bukanlah belajar. Lalu masuklah ia ke dalam rumahnya dan tidak muncul-muncul di muka umum selama empat puluh hari.

Ketika Hatim datang di Bagdad, maka berkerumunlah penduduk mengelilinginya seraya berkata : “Hai Bapak Abdurrahman! Tuan seorang yang sukar mengeluarkan kata-kata, lagi bodoh. Siapa saja yang berbicara dengan tuan, tuan potong”.

Menjawab Hatim : “Padaku ada tiga perkara, yang ingin aku lahir-kan kepada lawan kit : Aku gembira apabila lawanku betul, aku bersedih hati apabila lawanku salah dan aku jaga diriku jangan sampai tidak mengetahui tentang lawan itu”.

Berita ini sampai kepada Imam Ahmad bin Hanbal, maka berkatalah Imam Ahmad : “Subhanallah! Maha Suci Allah! Alangkah cerdasnya Hatim! Nah, mari kita pergi menjumpai Hatim! Sewaktu telah sampai ke tempat Hatim, maka bertanya Imam Ahmad : “Hai Bapak Abdurrahman! Manakah keselamatan itu di dunia?”.

Menjawab Hatim : “Hai Bapak Abdullah! Tak ada keselamatan di dunia sebelum ada padamu empat perkara : Engkau ma’afkan orang kerena kebodohannya, engkau cegah kebodohan engkau terhadap orang lain, engkau berikan sesuatu kepada orang dan engkau tidak mengharup sesuatu dari orang. Apabila ada demikian, maka selamatlah engkau “.

Kemudian Hatim berangkat ke Madinah. Tiba di situ dia dikeru-muni penduduk Madinah. Maka Hatim bertanya : “Kota manakah ini?”.

Menjawab orang banyak : “Kota (Madinah) Rasulullah saw.”.

“Dimanakah istana Rasulullah saw.? Saya hendak mengerjakan shalat di dalamnya !”.

Rasulullah saw. tak mempunyai istana!”, menjawab orang banyak. “Hanya mempunyai sebuah rumah yang rendah diatas tanah”.

Mana istana shahabat-shahabatnya?”,tanya Hatim pula.

“Tak ada juga! Mereka hanya mempunyai rumah-rumah yang rendah di atas tanah”.

“Kalau begitu” – kata Hatim. “Hai kaumku! Ini adalah kota Fir’aun!”.

Lalu Hatim diambil penduduk dan dibawanya ke tempat Sultan (penguasa), seraya mengatakan : “Orang ‘Ajam (bukan Arab) ini mengatakan : “Ini kota Fir’aun!”.

Bertanya Sultan : “Mengapa begitu?”.

Menjawab Hatim : “Janganlah lekas marah kepadaku! Aku ini orang bodoh yang asing di sini. Saya masuk negeri ini seraya bertanya : “Kota siapakah ini?’.’ Mereka menjawab : kota (Madinah) Rasulullah saw. Lalu saya bertanya : “Manakah istananya?’,’ dan Hatim meneruskan ceriteranya.

Kemudian berkata Hatim : “Telah berfirman Allah Ta’ala :

 لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

(Laqad kaana lakum fii rasuulillaahi uswatun hasanah). Artinya :

“Sesungguhnya Rasul Allah itu menjadi ikutan (teladan) yang baik untuk kamu “

(S. Al-Ahzab, ayat 21).

Maka tuan-tuan, siapakah yang tuan-tuan ikut, Rasulullah صلى الله عليه وسلم. atau Fir’aun orang yang pertama-tama membangun dengan batu marmer dan batu merah?”.

Lalu mereka biarkan dan tinggalkan Hatim.

Inilah ceritera Hatim Al-Ashamm-kiranya Allah memberikan rakhmat kepadanya. Dan akan diterangkan tentang kesederhanaan perjalanan hidup ulama salaf dan ketidak-sukaan mereka kepada kecantikan dengan bukti-bukti yang menunjukkan kepada yang demikian, pada tempat-tempatnya nanti.

Sebenarnya, menghiasi diri dengan yang mubah (yang dibolehkan) tidak haram. Tetapi berkecimpung dengan yang mubah itu, meng-haruskan suka kepadanya, sehingga sukar meninggalkannya.

Terus-terusan menghiasi diri itu, menurut biasanya tidak mungkin bila tidak secara langsung memperoleh sebab-sebabnya. Untuk menjaga keutuhan sebab-sebabnya itu, terpaksa berbuat perbuatan ma’siat, seumpama bermanis muka, menjaga hati orang banyak dan kehormatan mereka serta hal-hal lain yang terlarang. Untuk penjagaan diri hendaklah menjauhkan yang demikian. Karena orang yang berkecimpung dalam dunia, tidaklah sekali-kali selamat terpelihara dari padanya.
Jikalau keselamatan diri itu dapat diperoleh serta berkecimpung di dalam dunia, maka !! لا يبالغ في ترك الدنيا حتى نزع القميص المطرز بالعلم
Tidaklah Rasulullah saw. dengan tegas membelakangi dunia dengan membuka baju kemejanya yang bersulamkan bendera. (1)
ونزع خاتم الذهب في أثناء الخطبة
Dan menanggalkan cincin emas ketika sedang pidato. (2).

Dan lain-lain contoh lagi yang akan diterangkan
Menurut ceritera, Yahya bin Yazid An-Naufali menulis surat kepada Malik bin Anas ra. seperti berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

“Bismillaahir rahmaanir rahiim.

وصلى الله على رسوله محمد في الأولين والآخرين

Wa shallallaahu ‘alaa Rasuulihi Muhammadin fil azywaalin wal aahiriin.
  

1.Dlrawikan AlBakhari dan Muslim dari Aishah ra.
2.Dirawlkan AlBukhari dan Muslim dari Ibnu Umar.


Dari Yahya bin Yazid bin Abdil Malik kepada Malik bin Anas.

Ammaaba’du, kemudian dari itu, sesungguhnya telah sampai kepadaku, bahwa tuan memakai pakaian halus, memakan roti tipis, duduk atas tempat yang empuk dan meletakkan pada pintu seorang penjaga.

Sesungguhnya tuan duduk dalam majelis ilmu pengetahuan, kendaraan berkerumun ke rumah tuan, manusia datang kepada tuan. Diambilnya tuan menjadi imam dan disukai mereka perkataan tuan.

Maka bertaqwalah kepada Allah Ta’ala wahai Malik! Hendaklah tuan merendahkan diri !.

Aku tuliskan kepada tuan nasehatku ini, dalam suatu surat yang tidak dilihat, selain Allah Subkhanahu wa Ta’ala”.

والسلام
 W a s s a I a m,

Lalu Malik ra. membalas surat Yahya sebagai berikut:

بسم الله الرحمن الرحيم

“Bismillaahir rahmaanir rahiim.
  
Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa Muhammadin wa aalihii wa shah-bihii wa sallam.

Dari Malik bin Anas kepada Yahya bin Yazid. Kesejahteraan dari Allah kiranya kepada tuan!.

Ammaaba’du, kemudian dari itu, telah sampai surat tuan kepadaku, maka aku pandang surat itu menjadi nasehat, tanda kasih mesra dan ketinggian budi. Kiranya Allah mengurniai tuan dengan ke taq-waan dan memberi balasan kepada tuan dengan kebajikan, disebabkan nasehat itu.

Aku bermohon, kiranya Allah menganugerahkan taufiq wa laahau-la wa laa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adhiim.

Apa yang tuan sebutkan mengenai saya, bahwa saya memakan roti tipis, memakai pakaian halus, memakai penjaga pintu dan duduk di atas tempat yang empuk, maka benarlah kami berbuat dimikian. Dan bermohonlah kami akan keampunan dari pada Allah Ta’ala. Berfirman Allah Ta’ala :

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ

(Qul man harrama ziinatallaahil-latii akhraja li’ibaadihii wath-thay-yibaati minar rizqi).
Artinya :”Katakanlah! Siapakah yang melarang (memakai) perhiasan Allah dan (memakan)rezeki yang baik yang diadakanNya untuk hambaNya ?”.(S. Al-A’raf, ayat 32).

Sesungguhnya saya mengetahui, bahwa meninggalkan yang demikian itu adalah lebih baik dari pada masuk ke dalamnya. Janganlah tuan meninggalkan kami dengan tidak mengirim-ngirimkan surat, sebagaimana kamipun tidak akan meninggalkan tuan dengan tidak mengirim ngirimkan surat”.

والسلام

W a s s a I a m,
  

Lihatlah kepada keinsyafan Malik, karena ia mengakui bahwa meninggalkan yang demikian itu adalah lebih baik dari pada masuk ke dalamnya. Dan ia berfatwa bahwa perbuatan tersebut itu diper-bolehkan.
Sesungguhnya benarlah Imam Malik pada keduanya itu!

Dan seumpama Imam Malik dalam kedudukannya, apabila dirinya telah membolehkan dengan keinsyafan dan pengakuan mengenai nasehat yang seperti itu, maka kuat puialah dirinya untuk berdiri di atas batas-batas yang diperbolehkan. Sehingga keadaan yang demikian tidaklah membawa dia kepada ria, berminyak-minyak air dan melampaui kepada perbuatan yang makruh.
Adapun orang lain, maka tidaklah menyanggupi yang demikian. Meningkatkan diri kepada bersenang-senang dengan yang diperbolehkan adalah besar bahayanya. Dan itu adalah jauh dari takut dan kuatir. Dan kekhususan ulama Allah itu, ialah takut. Dan kekhusus-an dari takut itu, ialah menjauhkan diri dari tempat-tempat yang disangka berbahaya.
Dan diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, ialah menjauhkan diri dari sultan-sultan (penguasa-penguasa). Maka tidaklah dia sekali-kali masuk kepada sultan-sultan itu, selama masih ia memperoleh jalan untuk lari dari pada mereka. Tetapi seyogialah ia menjaga diri dari pada bercampur-baur dengan sUltan-sultan itu, meskipun mereka itu datang kepadanya.
Sesungguhnya dunia itu manis menghijau, tali-temalinya di tangan sultan-sultan. Orang yang bercampur-baur dengan mereka, tidaklah terlepas dari bersusah-payah mencari kerelaan dan menarik hati mereka, sedang mereka itu adalah orang dzalim.
Maka haruslah diatas tiap-tiap orang yang beragama, menantang mereka dan menyempitkan dada mereka, dengan melahirkan kedzaliman dan menjelekkan perbuatan mereka.
Orang yang masuk ke dalam kalangan sultan-sultan itu, adakalanya menolehkan kepada berbaik-baik dengan mereka, lalu ia menodai nikmat Allah kepadanya. Atau berdiam diri dari menantang sultan-sultan itu, lalu ia berminyak-minyak air dengan mereka. Atau bersusah-payah dalam perkataannya mencari kata-kata untuk kesenangan dan membaguskan hal ikhwal sultan-sultan itu.
Yang demikian itu adalah kebohongan yang nyata. Atau mengharap akan memperoleh apa-apa dari dunia mereka. Dan itu adalah palsu.
Dan akan datang nanti pada “Kitab Halal dan Haram”, apa yang boleh diambil dari pada harta sultan-sultan dan apa yang tidak boleh dari barang-barang yang berharga, hadiah dan lainnya.
Kesimpulannya, bercampur-baur dengan sultan-sultan itu adalah kunci kejahatan. Dan ulama akhirat, jalan yang ditempuh mereka, ialah menjaga diri.
  

Nabi صلى الله عليه وسلم.bersabda :من بدا جفا

Artinya :”Barang siapa berdiam di kampung, niscaya kosonglah dia “.

 ومن اتبع الصيد غفل ومن أتى السلطان افتتن

(Wa manit taba’ash shaida ghafala wa man atas sulthaanaftatana).
Artinya :”Dan barang siapa mengikuti binatang buruan, niscaya lalailah dia. Dan barang siapa mendatangi syaitan niscaya terpesonalah dia “.(1)
Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda :

وقال صلى الله عليه وسلم: سيكون عليكم أمراء تعرفون منهم وتنكرون فمن أنكر فقد برىء ومن كره فقد سلم ولكن من رضي وتابع أبعده الله تعالى قيل أفلا نقاتلهم

“Akan ada padamu amir-amir yang kamu kenal dan kamu tantang. Maka barang siapa menantangnya, sesungguhnya terlepaslah dia. Dan barang siapa benci kepadanya, maka sesungguhnya selamatlah dia. Tetapi barang siapa menyetujui dan mengikutinya, niscaya ia dijauhkan Allah Ta’ala”.

Lalu ada yang bertanya : “Apakah kami perangi mereka?”.

Nabi صلى الله عليه وسلم.menjawab : لا ما صلوا “Jangan,selama mereka itu mengerjakan shalat!”. (2)

Sufyan berkata : “Dalam neraka jahannam, ada sebuah lembah, yang tidak ditempati selain oleh qurra’ (ahli pembaca Al-Quran), yang mengunjungi raja-raja”.

Berkata Hudzaifah : “Berhati-hatilah kamu dari tempat fitnah!”.

Lalu ada yang bertanya: “Manakah tempat fitnah itu?”.

1.Dirawikan dari Abu Dawud dan At Tirmidzi dan di pandangnya baik dari AnNasai dari ibnu Abbas
2.Dirawikan Muslim dari Ummi Salmah

  

Hudzaifah menjawab : “Pintu rumah amir-amir, di mana seseorang dari kamu masuk ke tempat amir itu, lalu membenarkannya dalam perkara bohong dan mengatakan tentang sesuatu tidak menurut sebenarnya”.
Rasulullah sawصلى الله عليه وسلم berkata :العلماء أمناء الرسل على عباد الله تعالى ما لم يخالطوا السلاطين فإذا فعلوا ذلك فقد خانوا الرسل فاحذروهم واعتزلوهم “Ulama itu adalah pemegang amanah Rasul di atas hamba Allah Ta’ala, selama mereka tidak bercampur-baur dengan sultan-sultan. Apabila mereka berbuat yang demikian, maka sesungguhnya mereka telah mengkhianati rasul-rasul. Maka awaslah kamu dan menjauhkan dirilah kamu dari pada mereka!”. Hadits ini dirawikan Anas. (1)
Orang menanyakan A’masy : “Tuan telah menghidupkan ilmu pengetahuan, karena banyaklah orang yang mengambil ilmu pengetahuan itu dari pada tuan”.
Maka A’masy menjawab : “Janganlah Iekas benar mengatakan yang demikian! Sepertiga dari mereka yang mengambil ilmu padaku itu, meninggal sebelum mengerti, sepertiga selalu ke rumah sultan-sultan, maka mereka ini adalah orang jahat dan yang sepertiga sisanya, tiada memperoleh kemenangan, kecuali sedikit saja”. Dan karena itulah berkata Sa’id bin Al-Musayyab ra. : “Apabila kamu melihat orang alim, datang menipu amir-amir, maka waspadalah dari padanya, karena dia itu pencuri “.
Al-Auza’i berkata : “Tak adalah sesuatu yang lebih dimarahi Allah Ta’ala, dari orang alim yang mengunjungi pekerja (yang bekerja pada amir)”.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda :شرار العلماء الذين يأتون الأمراء وخيار الأمراء الذين يأتون العلماء (Syiraarul ‘ulamaa-i lladziina ya’tuunal umaraa-a wa khiyaarul umaraa-il ladziina ya’tuunal ‘ulamaa’).
Artinya : “Ulama yang jahat, ialah yang datang kepada amir-amir. Amir yang baik, ialah yang datang kepada ulama-ulama” (2)

Berkata Makhul Ad-Dimasyqi ra. : “Barang siapa mempelajari Al-Qur’an dan memahami Agama, kemudian menyertai sultan, karena bermanis muka kepadanya dan mengharap sesuatu padanya, niscaya masuklah ia ke dalam laut dari neraka jahannam menurut bilangan langkahnya”.
  

1.Hadis ini dirawikan oleh Aluqoaili dan diterangkan oleh ibnu Jauzi dalam Hadis Maudhu
2.Dirawikan Ibnu Majah dari Abi Hurairah dengan Sanad Dlaif

 Samnun berkata : “Alangkah kejinya orang alim, yang didatangi ke tempatnya, lalu tidak dijumpai. Maka ditanyakan tentang orang alim tadi, lalu mendapat penjawaban : “Dia itu pada amir”.

Menyambung Samnun : “Aku pernah mendengar orang mengatakan : “Apabila kamu melihat orang alim mencintai dunia, maka curigailah dia terhadap Agamamu! Sehingga aku sendiri mencoba yang demikian. Karena tidaklah sekali-kali aku masuk ke tempat sultan itu, melainkan aku mengoreksi diriku sesudah keluar dari padanya. Maka aku dapati di atas diriku bekas dan kamu dapat melihat apa yang aku peroleh itu. Yaitu : kekerasan, kekasaran dan banyaknya pertentangan untuk hawa nafsu. Sesungguhnya aku ingin dapat melepaskan diri dari pada masuk ke tempat sultan itu untuk penjagaan diri. Sedang aku tidak pernah mengambil sesuatu dari padanya atau meminum seteguk air kepunyaannya”.
Kemudian Samnun menyambung : “Ulama zaman kita ini, adalah lebih jahat dari ulama Bani Israil, yang berbicara dengan sultan dengan murah saja dan dengan yang bersesuaian dengan hawa nafsu sultan. Dan kalau mereka berbicara dengan sultan dalam hal yang menjadi tanggungan sultan dan dalam hal itu dapat melepaskan sultan, niscaya sultan itu merasa berkeberatan. Dan tidak suka lagi ulama itu masuk ke tempatnya. Dan adalah yang demikian itu melepaskan bagi ulama pada sisi Tuhannya”.
Al-Hasan berkata : “Adalah diantara orang yang sebelum kamu, seorang laki-laki yang terdahulu dalam Islam dan menjadi shahabat bagi Rasulullah saw. Berkata Abdullah bin Al-Mubaxak : yang dimaksudkan dengan orang tadi, ialah Sa’ad bin Abi Waqqash ra —, Al-Hasan berkata sfeterusnya : “Orang itu tak pernah mendatangi sultan-sultan dan melarikan diri dari mereka”.
Lalu anak-anaknya berkata kepadanya :”Datangnya kepada sultan-sultan itu, orang yang tidak seperti ayah tentang pershahabatan dengan Nabi saw. dan lamanya dalam Islam. Kalau ayah datang kepada sultan-sultan itu, bagaimana?”.

Orang itu menjawab : “Hai anakkuf Apakah aku datang kepada bangkai yang telah dilingkungi orang banyak? Demi Allah, sesungguhnya, jikalau aku sanggup, .niscaya tidaklah aku bersekutu dengan mereka pada bangkai itu”.

Menjawab anak-anaknya : “Wahai ayah kami! Jadi binasalah kami ini kekurusan!”.

Menjawab orang itu : “Hai anak-anakku! Aku lebih suka mati sebagai mu’min yang kurus, dari pada aku mati sebagai munafiq yang gemuk”.

Berkata Al-Hasan : “Orang itu memusuhi sultan-sultan itu, karena demi Allah ia mengetahui, bahwa tanah memakan daging dan minyak, tidak memakan iman”.
Dan ini suatu petunjuk, bahwa orang yang memasuki tempat sultan tidak akan selamat sekali-kali dari nifaq (bermuka dua). Dan nifaq itu adalah berlawanan dengan iman.
Abu Dzar berkata kepada Salmah : “Wahai Salmah, janganlah engkau mendatangi pintu sultan-sultan! Sesungguhnya engkau tidak akan memperoleh sesuatu dari pada dunia mereka, melainkan mereka memperoleh dari agama engkau yang lebih utama dari padanya”.

Inilah suatu fitnah besar bagi ulama dan jalan yang sulit bagi setan untuk memperdayakan ulama. Lebih-lebih bagi ulama yang mempunyai cara berbicara yang mudah diterima orang dan mempunyai perkataan yang manis. Karena senantiasalah setan membisikkan kepada ulama itu bahwa : “Nasehatmu kepada sultan-sultan dan kedatanganmu kepadanya, adalah hal yang menakutkan mereka dari berbuat dhalim dan menegakkan syiar-syiar Agama”. Sampai menjadi khayalan kepada ulama itu, bahwa masuknya ke rumah sultan-sultan itu adalah setengah dari agama.
Kemudian, apabila telah masuk, lalu senantiasalah ia bersikap lemah-lembut dalam pembicaraan, berminyak-minyak air dan berkecimpung dengan memuji dan menyanjung. Dan pada inilah terletaknya kebinasaan Agama. Dan ada dikatakan : “Ulama itu apabila telah berilmu, niscaya berbuat (beramal). Apabila berbuat, niscaya sibuk. Apabila telah sibuk, lalu hilang. Apabila telah hilang, lalu dicari. Dan apabila dicari lalu lari”.
Umar bin Abdul ‘aziz ra. menulis surat kepada Al-Hasan : “Am-maaba’du, kemudian dari itu, maka tunjukkanlah kepadaku golong-an-golongan yang dapat aku meminta tolong padanya, untuk menegakkan perintah Allah Ta’ala!”.
Maka Al-Hasan membalas surat Khalifah Umar bin Abdul ‘aziz tadi : “Adapun kaum agama, maka mereka tidak berkehendak kepadamu. Dan adapun kaum dunia, maka engkau tidak berkehen-dak kepada mereka. Akan tetapi, haruslah engkau dengan orang-orang mulia, karena mereka menjaga kehormatan dirinya dari pada menodainya dengan pengkhianatan”.

Ini adalah mengenai Umar bin Abdul ‘aziz ra. dan adalah ia yang paling zuhud pada zamannya.
Maka apabila adalah syarat bagi kaum Agama lari dari Umar, maka bagaimanakah memperoleh perbandingan untuk mencari orang lain dan bercampur-baur dengan dia? Dan selalu ulama-ulama terdahulu, seperti : Al-Hasan, Ats-Tsuri, Ibnul-Mubarak, Al-Fudlail, Ibrahim bin Adham dan Yusuf bin Asbath, memperkatakan mengenai ulama dunia, dari penduduk Makkah, negeri Syam dan lain-lain, Adakalanya karena mereka itu cenderung kepada dunia dan adakalanya karena bercampur-baur dengan sultan-sultan.
Dan diantara tanda-tanda ulama akhirat, ialah tidak tergesa-gesa memberi fatwa. Tetapi berdiri teguh menjaga diri dari memberi fatwa selama masih ada jalan untuk melepaskan diri.

Jikalau ia ditanyakan tentang apa yang diketahuinya benar-benar dengan dalil (nash) Kitabullah atau Hadits atau ljma’ atau qias yang nyata, niscaya berfatwalah dia. Dan jikalau ditanyakan tentang sesuatu yang diragukannya, maka ia menjawab : “Saya tidak tahu (Laa adrii)” Dan jikalau ditanyakan suatu persoalan yang hampir diyakininya (dhan), berdasarkan ijtihadnya dan terkaannya, maka dalam hal ini ia berhati-hati, mempertahankan diri dan menyerahkan penjawabannya kepada orang lain jikalau ada pada orang lain itu kemampuan:

Inilah hati-hati (al-hazmu) namanya, kereka ikut-ikutan berijtihad adalah besar sekali bahayanya.
Dalam hadits tersebut:
العلم ثلاثة كتاب ناطق وسنة قائمة ولا أدري
(Al-‘ilmu tsalaatsatun : kitaabun naathiqun wa sunnatun qaaimatun walaa adrii).
Artinya :”Ilmu itu tiga : Kitab yang berbicara, Sunnah yang berdiri tegak dan لا أدري Laa adrii(Saya tidak tahu)”. (1)
  

1.Dirawikan oleh Abu Dawud Dan Ibnu majah Dari Abdullah Bin Omar-Hadis Marfu

Asy-Sya’bi berkata : لا أدري Laa adrii ” adalah setengah ilmu.Barang siapa berdiam diri dimana yang tidak diketahuinya karena Allah Ta’ala, maka tidaklah kurang pahalanya dari pada orang yang berkata-kata. Karena mengaku bodoh adalah amat berat bagi jiwa”. Begitulah adanya kebiasaan para shahabat dan ulama salaf ra.
Adalah Ibnu Umar apabila ditanyakan kepadanya tentang fatwa maka menjawab : “Pergilah kepada amir itu yang menerima pikul-an tanggung jawab segala urusan manusia. Maka letakkanlah urusan itu ke atas pundaknya!”.
Berkata Ibnu Mas’ud ra. : “Orang yang memberi fatwa kepada manusia mengenai tiap-tiap persoalan yang diminta mereka fatwa-nya, adalah gila”. Dan seterusnya beliau berkata : “Benteng orang alim itu, ialah “Laa adrii” ( لا أدري saya tidak tahu). Jikalau ia menyalah-kan benteng itu, maka sesungguhnya telah mendapat bencanalah tempat-tempat ia berperang”.
Berkata Ibrahim bin Adham ra. : “Tidak adalah yang lebih menyu-litkan bagi setan, selain dari orang alim yang berkata dengan ilmunya dan berdiam diri dengan ilmuhya. Setan itu berkata : “Lihatlah kepada orang alim ini! Diamnya lebih sulit bagiku dari pada perkataannya”.
Setengah mereka menyifatkanالأبدال al-abdal (1), dengan mengatakan : “Orang shaleh itu makannya seberapa perlu, tidurnya kalau terpak-sa dan kata-katanya kalau sudah penting. Artinya: mereka tidak berbicara sehingga ditanya. Dan apabila ditanya, lalu mendapat orang-orang yang memadai, niscaya mereka berdiam diri. Dan kalau diperlukan, baru mereka menjawab”.
Orang-orang shaleh itu memandang bahwa memulai berbicara sebelum ditanya, adalah termasuk hawa nafsu yang tersembunyi untuk berbicara.

Saidina Ali ra. dan Saidina Abdullah ra. melewati seorang laki-laki yang sedang berbicara dihadapan orang banyak, lalu berkata Ali ra. : “Orang itu akan mengatakan nanti: “Kamu kenallah aku!”.
Berkata setengah mereka bahwa orang berilmu itu apabila ditanyakan sesuatu masalah, maka seakan-akan dicabut gusinya. Ibnu Umar berkata : “Kamu bermaksud menjadikan kami jembatan, yang akan kamu lalui di atas kami ke neraka jahannam”.

# (1) Al Abdal الأبدال ialah orang Shaleh yang selalu ada di dunia ini yang di gantikan oleh tuhan bila ada yang meninggal ( peny).


Abu Hafash An-Naisaburi berkata : “Orang alim itu, ialah yang takut pada pertanyaan, dim ana ditanyakan kepadanya pada hari qiamat nanti: “Dari manakah penjawaban itu kamu peroleh?”.
Adalah Ibrahim At-Taimi apabila ia ditanyakan sesuatu masalah, lalu menangis, seraya berkata: “Apakah tuan-tuan tidak mendapat orang lain, maka tuan-tuan mendesak saya?”,
Adalah Abul ‘Aliyyah Ar-Rayyahi, Ibrahim bin Adham dan Ats-Tsuri berbicara dihadapan dua orang, tiga orang dan dihadapan jumlah yang kecil. Apabila orang sudah banyak lalu mereka itu pergi.
 Nabi saw. bersabda :
 وقال صلى الله عليه وسلم: ما أدري أعزير نبي أم لا وما أدري أتبع ملعون أم لا وما أدري ذو القرنين نبي أم لا
(Maa adrii a’uzairun nabiyyun am laa. Wa maa adrii a-tubba’un mal-‘uunun am laa. Wa maa adrii dzulqarnaini nabiyyun am laa).Artinya :”Saya tidak tahu, ‘Uzair itu nabi atau bukan, Saya tidak tahu, Tub-ba’ itu terkutuk atau tidak. Dan saya tidak tahu, Dzulqarnain itu nabi atau bukan”. (1)
رسول الله صلى الله عليه وسلم عن خير البقاع في الأرض وشرها قال: لا أدري، حتى نزل عليه جبريل عليه السلام فسأله فقال: لا أدري، إلى أن أعلمه الله عز وجل أنَّ خير البقاع المساجد وشرها الأسواق

Tatkala Rasulullah صلى الله عليه وسلم ditanyakan tentang tempat yang terbaik dan yang terburuk di bumi, maka Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab : “Laa adrii – Saya tidak tahu”. Sehingga datanglah Jibril sa. kepadanya, maka ditanyakannya. Lalu Jibril as. menjawab : “Laa adrii – Saya tidak tahu”! Sehingga ia diberitahukan oleh Allah ‘Azza wa Jalla, bahwa tempat yang terbaik, ialah masjid dan tempat yang terburuk ialah pasar”.(2)
Adalah Ibnu Umar ra. ditanyakan sepuluh masalah, maka dijawabnya satu dan berdiam diri dari sembilan. Dan Ibnu Abbas ra. menjawab sembilan dan berdiam diri dari satu.

Dalam kalangan ulama fiqh (Fuqaha’) ada yang menjawab “Laa adrii”, lebih banyak dari pada menjawab”. Adrii – saya tahu”. Diantaranya : Sufyan Ats-Tsuri, Malik bin Anas, Ahmad bin Hanbal, Al-Fudlail bin ‘Iyadl dan Bisyr bin Al-Harits.
  

1.Dirawikan Abu Dawud Dan AlHakim Dari Abu Hurairah , Tubba’ orang suku Himyar, Orang pertama yang menutupi kaabah dengan Kain
2.Dirawikan Ahmad Abu Ya’Ala Al Bazzar Dan Al Hakim dari ibnu Umar


Abdur-Rahman bin Ali Laila berkata : “Aku mendapati dalam masjid ini seratus dua puluh orang shahabat Rasulullah صلى الله عليه وسلم Tidak seorangpun dari mereka yang ditanyakan tentang hadits atau fatwa, melainkan lebih menyukai bahwa temannya saja cukup menjawabnya”.
Pada kata-kata yang lain dari Abdur-Rahman bin Ali Laila itu berbunyi : “Adalah suatu masalah dikemukakan kepada salah seorang dari mereka, lalu ia mengembalikannya kepada yang lain. Dan yang lain itu mengembalikannya kepada yang Iain pula, sehingga masalah itu kembali kepada orang yang pertama”. Diriwayatkan bahwa teman-teman الصفة Shuffah (1) , dihadiahkan orang kepala kibasy goreng kepada salah seorang dari mereka, dimana ia sedang melarat benar. Maka dihadiahkannya hadiah tadi kepada teman yang lain dan teman yang lain itu menghadiahkannya kepa-dan yang lain pula. Dan begitulah beredar diantara mereka, sehingga kembalilah kepada yang pertama.
Lalu lihatlah sekarang, bagaimana terbaliknya pekerti ulama!. Maka jadilah yang harus ditinggalkan, dicarinya dan yang harus dicarikan, ditinggalkannya!.
Dibuktikan tentang baiknya berhati-hati dari pada turut-turutan memberi fatwa, ialah apa yang diriwayatkan dari setengah mereka sebagai hadits musnad, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda : “Tidaklah berfatwa kepada manusia, selain oleh tiga :أمير أو مأمور amir atau ma’mur (orang yang disuruh amir) atau orang yang menanggung sendiri untuk berfatwa
Berkata setengah mereka : “Adalah para shahabat Nabi saw. tolak-menolak pada empat perkara : menjadi imam, memegang wasiat (testament), menyimpan simpanan dan memberi fatwa”.
Berkata setengah mereka : “Adalah yang paling lekas memberi fatwa, ialah orang yang ilmunya paling sedikit. Dan yang paling menolak memberi fatwa, ialah orang yang paling wara’ (menjaga diri dari kesalahan)”.
Adalah para shahabat ra. dan tabi’in ra. itu sibuk pada lima perkara, yaitu : membaca Al-Qur’an, meramaikan (memakmurkan) masjid, berdzikir kepada Allah Ta’ala, beramar ma’ruf dan bemahi munkar”.
   

1) Teman-teman Shuffah. yaitu segolongan shahabat Nabi saw. yang miskin. Mereka selalu di Shuffah masjid (tempat berteduh dekat masjid Nabi saw. di Madinah). (Peny).


Yang demikian itu adalah karena mereka mendengar dari sabda Nabi saw. :

كل كلام ابن آدم عليه لا له إلا ثلاثة أمر بمعروف أو نهي عن منكر أو ذكر الله تعالى

(Kullu kalaamibni aadama ‘alaihi laa lahu illaa tsalaatsatun : amrun bima’-ruufin au nahyun ‘an munkarin au dzikrullaahi Ta’aalaa).

Artinya :”Tiap-tiap perkataan anak Adam (manusia), adalah memberatkan atas dirinya, tidak menguntungkan kepadanya, selain tiga : amar ma’ruf atau nahi munkar atau berdzikir kepada Allah Ta’ala”. (1)
Berfirman Allah Ta’ala :

لا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلاحٍ بَيْنَ النَّاسِ

(Laa khaira fii katsiirin min najwaahum illaa man amara bishada-qatin au ma’ruufin au-ishlaahin bainannaas).Artinya :”Tiada kebaikan pada banyaknya bisikan-bisikan mereka, tetapi yang mendatangkan kebaikan, ialah orang-orang yang menyuruh berbuat baik atau menyuruh mendamaikan manusia.(S. An-Nisa’, ayat 114).
Setengah ulama bermimpi berjumpa dengan beberapa ahli fikir dari penduduk Kufah, lalu bertanya : “Apakah yang tuan jumpai tentang pekerjaan tuan mengeluarkan fatwa dan pendapat?”. Maka berobahlah warna muka orang yang dimimpikan itu dan berpaling dari padanya, seraya mengatakan : “Tak adalah kami memperoleh sesuatu dari padanya, dan tidaklah kami memujikan akan akibatnya”.
Berkata Ibnu Hushain : “Bahwasanya salah seorang dari mereka berfatwa mengenai suatu masalah, masalah mana, jikalau dibawa kepada Umar bin Al-Khath-thab ra., niscaya akan dikumpulkannya seluruh shahabat yang turut dalam perang Badar untuk membahas-nya”.
Maka senantiasalah diam itu menjadi sifat ahli ilmu, kecuali ketika diperlukan.
  

1.Dirawikan At-Tirmidzi dari Ibnu Majjah dari ummu habibah kata Attirmidzi Hasdis Gharib

  
Pada Hadits tersebut :

 إذا رأيتم الرجل قد أوتي صمتا وزهدا فاقتربوا منه فإنه يلقن الحكمة

(Idzaa ra-aitumurrajula qad uutiya sham tan wa zuhdan faqtaribuu minhu fainnahu yulaqqinul hikmah).Artinya:”Apabila kamu melihat orang bersifat pendiam dan zuhud, maka dekatilah kepadanya! Sesungguhnya orang itu akan mengajarkan ilmu hikmah”. (1)
Ada yang mengatakan, bahwa orang alim itu, adakalanya : seorang alim umum, yaitu mufti dan mereka ini adalah teman sultan. Atau seorang alim khusus. Dan itulah orang alim dengan ilmu tauhid dan amal perbuatan hati. Dan mereka itu adalah teman-teman di pondok pesantren yang terpisah sendirian.
Ada yang mengatakan, bahwa seperti Imam Ahmad bin Hanbal itu, adalah seperti sungai Tigris (Dajlah), dimana tiap-tiap orang menyauk air dari padanya. Dan seperti Bisyr bin Al-Harits, adalah seperti sumur berair tawar yang tertutup, tak ada yang menuju kepadanya, selain seorang demi seorang. Dan orang banyak itu mengatakan, bahwa si Anu itu berilmu, si Anu itu ahli ilmu kalam, si Anu itu banyak bicara, dan si Anu itu banyak kerja.
Berkata Abu Sulaiman : “Ma’rifah kepada diam, adalah lebih dekat dari pada ma’rifah kepada berkata-kata”. Dan ada yang mengatakan, bahwa apabila banyak ilmu, maka sedikitlah bicara dan apabila banyak bicara, maka sedikitlah ilmu.
Salman Al-Farisi ra. menulis surat kepadaAbi’d Darda’ ra., dimana keduanya telah dipersaudarakan (2) oleh Rasulullah saw. Surat itu diantara lain berbunyi :يا أخي بلغني أنك قعدت طبيبا تداوي المرضى فانظر فإن كنت طبيبا فتكلم فإن كلامك شفاء وإن كنت متطببا فالله الله لا تقتل مسلما “Wahai saudaraku! Telah sampai kepadaku berita bahwa engkau duduk menjadi tabib mengobati orang-orang sakit. Maka perhatikanlah bahwa jikalau benarlah engkau tabib, maka berbicaralah, karena pembicaraanmu itu adalah obat! Dan jikalau engkau berbuat-buat sebagai tabib, Allah — Allah —, janganlah engkau membunuh orang muslim!”.Sesudah itu, maka Abi’d Darda’ terhenti-henti berbicara apabila ia ditanyakan.

1. Dirawikan Ibnu Majah dari Ibnu Khallad dengan isnad Dla ‘if2.Hal Ini Diriwayatkan Al Bukhari dari Abi Ja’afah.

  

Adalah Anas ra. apabila ia ditanyakan, maka menjawab : “Tanya-kanlah kepada penghulu kita Al-Hasan! Dan Ibnu Abbas ra. apabila ditanyakan, menjawab : “Tanyakanlah kepada Haritsah bin Zaid! “Dan Ibnu Umar ra. menjawab ! “Tanyakanlah kepada Sa’id bin Al-Musayyab!”.
Diriwayatkan, bahwa seorang shahabat Nabi saw. meriwayatkan dua puluh hadits dimuka Al-Hasan; Lalu ditanyakan kepadanya mengenai penafsiran hadits-hadits itu, maka shahabat itu menjawab : “Tak ada padaku selain meriwayatkan saja”.
Lalu Al-Hasan menafsirkan hadits itu satu persatu. Maka heranlah segala yang hadlir, tentang kebagusan penafsiran dan hafalannya. Maka shahabat tadi mengambil segenggam batu kerikil dan melem-parkan orang-orang itu, sambil berkata : “Kamu menanyakan kepadaku tentang ilmu, sedang yang ahli ini adalah dekat pung-gungmu”
Dan diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, ialah banyak perha-tiannya dengan ilmu bathin, dengan muraqabah hati, dengan mengenai jalan akhirat, cara menempuh nya, mengharapkan benar-benar untuk menyingkapkan yang demikian itu dengan mujahadah dan muraqabah, (1)
Sesungguhnya mujahadah membawa kepada musyahadah dan ilmu hati yang halus-halus, dimana dengan ilmu-ilmu itu terpancarlah segala sumber hikmah dari hati.
Adapun kitab-kitab dan pengajaran, maka tidaklah mencukupi dengan itu saja. Tetapi hikmah yang diluar hinggaan dan tak terhi-tung itu, sesungguhnya terbuka dengan mujahadah, muraqabah, langsung mengerjakan amalan dhahir dan amalan bathin dan duduk beserta Allah ‘Azza wa Jalla dalam khilwah (persembunyian), serta menghairkan hati (jiwa) dengan pikiran yang putih bersih, terputus dari yang lain, langsung kepada Allah Ta’ala.Itulah kunci ilham dan sumber kasyaf (terbuka hijab)!.
Berapa banyak pelajar yang sudah lama belajar, tetapi tidak sanggup dengan sepatah katapun melewati dari pada yang didengarya. Dan berapa banyak pelajar, memilih yang penting saja dalam pelajarannya, menyempurnakan amal dan muraqabah hati, yang dibukakan Allah kepadanya ilmu hikmah yang halus-halus yang mengherankan akal orang-orang yang bermata hati.

1) Mujahadah= Berjihad menumpas hawa nafsu yang menghalangi jiwa dekat kepada tuhan
2.Muraqabah- Memperlihat gerak gerak hati jangan sampai terpengaruh kepada dunia dan Hawa nafsu.
3.Musahadah-Menyaksikan dengan jiwa akan kebesaran Allah dan Alam Gharib yang penuh dengan keajaiban kebesaran Allah S.W.T

  

Dan karena itulah Nabiصلى الله عليه وسلم.Bersabda :

من عمل بما علم ورثه الله علم ما لم يعلم
(Man amila bimaa ‘alima warratsahullaahu ‘ilma maa lam yalam).
Artinya :”Barang siapa mengerjakan dengan apa yang diketahuinya, niscaya dipusakakan Allah kepadanya ilmu pengetahuan yang belum diketahuinya (1)
Pada setengah kitab-kitab lama tersebut: “Hai Bani Israil!.

Janganlah kamu mengatakan : ilmu itu di langit, siapakah yang menurunkannya ke bumi? Janganlah kamu mengatakan ilmu itu dalam perut bumi, siapakah yang mengeluarkannya ke atas bumi? Dan jangan kamu mengatakan di seberang lautan, siapakah yang membawanya? Ilmu itu dijadikan dalam hatimu. Beradablah diha-dapanKu dengan adab ruhaniawan (ruhaniyyin)! Berbudi-pekertilah kepadaKu dengan budi-pekerti shiddiqin. Niscaya Aku lahirkan ilmu itu dalam hatimu, sehingga menutupkan kamu dengan kebaikan dan kelebihan ilmu”.
Berkata Sahl bin Abdullah At-Tustari ra. : “Keluarlah orang-orang berilmu (ulama), orang-orang beribadah (ubbad) dan orang-orang zuhud (zuhhad) dari dunia ini. Hati mereka terkunci dan tidak terbuka, selain hati orang-orang shiddiqin dan syuhada (orang-orang syahid)”.
Kemudian Sahl membaca firman Allah Ta’ala :

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لا يَعْلَمُهَا إِلا هُوَ
(Wa ‘indahuu mafaatihul ghaibi laa ya’-lamuhaa illaa huwa).
Artinya :”Dan di sisi Allah kunci-kunci perkara yang ghaib, tidak ada yang tahu, selain Allah (S. Al-An’am, ayat 59).

Jikalau tidaklah pengetahuan hati dari orang yang berhati dengan nur bathin, yang menjadi hakim atas ilmu dhahir, tentu tidaklah
  

1.Dirawikan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah

Nabi صلى الله عليه وسلم. Bersabda
استفت قلبك وإن أفتوك وأفتوك وأفتوك
(Istafti qalbaka wa in aftauka wa aftauka wa aftauka).Artinya :”Mintalah fatwa kepada hatimu, walaupun orang lain telah berfatwa kepadamu, telah berfatwa kepadamu, telah berfatwa kepadamu!”.
Nabi صلى الله عليه وسلم.bersabda akan wahyu yang diriwayatkannya dari Tuhannya Yang Maha Tinggi :
لا يزال العبد يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به… الحديث
(Laa yazaalul ‘abdu yataqarrabu ilayya bin nawaafili hattaa uhibba-hu fa-idzaa ahbabtuhu kuntu sam-‘ahul ladzii yasma’u bihi).Artinya :”Senantiasalah hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan amal ibadah sunnah, sehingga Aku sayang kepadanya. Apabila Aku telah sayang kepadanya, maka adalah Aku pendengarannya, dimana ia mendengar dengan pendengaran itu (1)
Berapa banyak pengertian-pengertian yang halus dari rahasia-rahasia Al-Qur’an yang terguris dalam hati orang-orang yang berdzikir dan berfikir kepada Tuhan semata-mata, yang tidak disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dan tidak sampai kepadanya pandangan ahli-ahli tafsir yang utama.
Apabila terbukalah yang demikian itu bagi murid yang المراقب bermuraqabah dan dikemukakannya kepada ulama-ulama tafsir, niscaya mereka itu akan menerimanya dengan baik. Dan mereka itu mengetahui bahwa yang demikian adalah diantara pemberitahuan hati yang suci dan rakhmat Allah Ta’ala dengan cita-cita yang tinggi, yang dicurahkan kepada murid tersebut.
Dan begitu pula tentang ilmu mukasyafah المكاشفة dan segala rahasia ilmu mu’amalah serta bisikan-bisikan hati yang halus-halus. Maka tiap-tiap ilmu dari ilmu-ilmu ini adalah ibarat lautan yang tak terduga dalamnya. Masing-masing pelajar hanya berkecimpung sekedar yang dianugerahkan dan diberikan taufiq kepadanya dari amalan baik.
  

1.Dirawikan Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah.

Next>>>>
Please support us:
5