Tentang penyifatan ulama akhirat itu, berkatalah Ali ra. pada suatu pembicaraan yang panjang : “Hati itu adalah wadah. Hati yang paling baik ialah hati yang paling menjaga kebajikan. Manusia itu tiga :عالم رباني  ‘Alim rabbani (yang berilmu Ketuhanan); yang belajar ke jalan kelepasan dan yang bertualang rendah budi, mengikuti semua orang yang pandai berteriak, condong kemana dibawa angin, tak memperoleh sinar ilmu dan tidak bersandar kepada tiang yang teguh. Ilmu adalah lebih baik dari harta. Ilmu itu menjaga engkau dan engkau menjaga harta. Ilmu adalah bertambah dengan dibelanjakan dan harta berkurang dengan dibelanjakan. Ilmu itu agama yang diperpegangi. Dengan ilmu diusahakan ta’at dalam hidup dan elok sebutan sesudah mati. Ilmu itu hakim dan harta itu yang dihukum-Kegunaan harta itu hilang dengan hilangnya. Matilah penjaga-penjaga gudang harta, walaupun mereka itu masih hidup. Dan ulama itu terus hidup, kekal sepanjang zaman”.

Kemudian Ali ra. menarik nafas panjang, seraya berkata :هاه “Ah, sesungguhnya di sini banyak ilmu, jikalau kiranya aku memperoleh orang-orang yang membawanya! Tetapi aku memperoleh pelajar yang tidak amanah. Ia menggunakan agama untuk menjadi alat mencari dunia. Dipandangnya lama-lama akan ni’mat Allah kepada aulia-auliaNya dan dilahirkannya menjadi alasan kepada orang banyak. Atau aku memperoleh orang yang patuh kepada ahli kebenaran. Tetapi tertanamlah keragu-raguan dalam hatinya dengan kedatangan syubhat yang pertama saja. Ia tidak bermata-hati. Tidak yang ini (orang yang patuh tadi) dan tidak yang itu (pelajar yang tidak am an ah yang tersebut di atas)!. Atau aku memperoleh orang yang terpesona dengan kesenangan, mudah terlibat dalam pelukan hawa nafsu. Ataupun aku memperoleh orang yang terpe-daya dengan mengumpulkan harta dan simpanan, mengikuti hawa nafsunya, sehingga mereka menyerupai hewan yang mencari rumput di padang luas………. Wahai Tuhan! Begitulah kiranya,

Ilmu itu mati, apabila mati pendukung-pendukungnya. Kemudian, bumi ini tidak akan sunyi dari orang yang menegakkan kebenaran Allah. Adakalanya yang dhahir terbuka dan adakalanya yang takut terpaksa. Supaya tidaklah batal segala hujjah dan keterangan-keterangan Allah Ta’ala.

Berapa orangkah dan dimanakah mereka itu? Mereka adalah sedikit bilangannya, tinggi kedudukannya. Diri mereka itu tidak ada.Orang-orang yang seperti mereka itu, berada di dalam hati. Allah Ta’ala menjaga hujjah (keteranganNya) dengan mereka, Sehingga mereka menyimpan hujjah itu di belakangnya dan menanamkannya dalam hati orang-orang yang serupa dengan mereka. Ilmu itu menyerbu orang-orang tadi dalam keadaan yang sebenarnya. Maka mereka memperoleh secara langsung ruh-keyakinan (ruhul-yaqin). Lalu mereka memperoleh lunak apa yang diperoleh keras oleh orang-orang yang merusakkan dan memperoleh jinak apa yang di pandang liar oleh orang-orang yang lalai.Mereka menyertai dunia dengan badan, sedang ruhnya tergantung di tempat tertinggi. Mereka itu adalah aulia Allah ‘Azza wa Jalla dari makhlukNya, pemegang amanahNya, pekerja-pekerjaNya, di bumiNya dan penyeru-penyeru kepada AgamaNya”.

Kemudian, Ali ra. menangis, seraya berkata : “Alangkah rindu hatiku hendak melihat mereka………..!”.

Apa yang disebutkan Ali ra. yang terakhir itu, ialah sifat ulama akhirat. Yaitu : ilmu “yang kebanyakannya diperoleh faedahnya dari amalan dan rajin bermujahadah.Dan diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, ialah sangat bersungguh-sungguh menguatkan keyakinan. Karena keyakinan itu adalah modal Agama.

Rasulullah saw. Bersabda : اليقين الإيمان كله

Artinya :’ “Keyakinan (al-yaqin) itu adalah iman seluruhnya”. (1)

Maka tak boleh tidak mempelajari ilmul-yaqin (ilmu keyakinan), yakni : bahagian yang permuiaannya. Kemudian, terbukalah bagi hati jalannya.

Dan karena itulah Nabi صلى الله عليه وسلم.Bersabda :  تعلموا اليقين

(Ta’allamul yaqiin).

Artinya : “Pelajarilah keyakinan (2)

Maksudnya : duduklah bersama orang-orang yang berkeyakinan (al-muqinin) dan dengarlah dari mereka ilmul-yaqin. Biasakanlah mengikuti mereka, supaya kuatlah keyakinanmu, sebagaimana kuatnya keyakinan mereka.

1.Dirawikan Al Baihaqi dan Al Khotib dari ibnu mas’ud dengan isnad Hasan

2.Dirawikan Abu Na’im dari Tsaur bin Yazid , Hadis Mursal

Sedikit dengan yakin, adalah lebih baik dari banyak amal. Nabi saw. bersabda, tatkala dikatakan kepadanya tentang : orang yang baik yakinnya, banyak dosanya dan orang yang rajin beribadah, sedikit yakinnya, dimana beliau lalu bersabda :

ما من آدمي إلا وله ذنوب

(Maa min Aadamiyyin illaa wa lahu dzunuub).

Artinya :”Tak adalah anak Adam melainkan mempunyai dosa”. (1)

Tetapi orang yang tabiatnya berakal dan sifatnya yakin, maka dosanya tidaklah mendatangkan kemelaratan kepadanya. Karena tiap kali ia berdosa lalu bertobat, meminta ampun dan menyesal. Maka tertutuplah (terhapuslah) semua dosanya dan tinggallah baginya keutamaan, dimana ia akan masuk ke sorga dengan keutamaan itu.

Karena itulah, Nabi saw. bersabda :

من أقل ما أوتيتم اليقين وعزيمة الصبر ومن أعطى حظه منهما لم يبال ما فاته من قيام الليل وصيام النهار

(min aqalli maa uutiitumul yaqiina wa ‘aziimatash-shabri wa man u’-thiya hadhdhahu minhumaa lam yubaali maa faatahu min qiyaamil laili wa shiyaamin nahaar).

Artinya : “Sesungguhnya dari yang paling sedikit diberikan kepada kamu, ialah ; yakin dan teguh kesabaran. Barang siapa diberi bahagian dari yang dua itu, niscaya tak perdulilah ia apa yang tertinggal, dari sembahyang malam dan puasa siang”.(183)

Dalam wasiat Luqman kepada puteranya, tersebut : “Hai anakku! Tak sangguplah amal perbuatan itu di kerjakan, selain dengan yakin. Tidaklah manusia itu bekerja, melainkan sekedar keyakinannya. Dan tidaklah yang beramal itu memendekkan amalannya, kecuali telah kurang yakinnya”.

1..Dirawikan At-Tirmidzi dari Anas.

183 حديث: ((من أولى ما أوتيتم اليقين وعزيمة الصبرالحديث)) لم أقف له على أصل وروى ابن عبد البر من حديث معاذ: (( ما أنزل الله شيئا أقل من اليقين ولا قسم شيئا بين الناس أقل من الحلمالحديث)).

Yahya bin Ma’az berkata : “Sesungguhnya tauhid itu mempunyai nur (cahaya) dan syirik itu mempunyai nar ( api). Dan nur tauhid itu lebih membakar segala kejahatan orang-orang yang bertauhid, dari api syirik yang membakar segala kebajikan orang-orang musyrik”.

Yahya bermaksud dengan yang demikian, ialah “yakin”.

Allah Ta’ala telah menunjukkan dalam Al-Qur’an kepada menyebutkan orang-orang yang yakin (al-muqinin) – pada beberapa tempat, yang menunjukkan, bahwa “yakin” itu adalah ikatan bagi kebajikan dan kebahagiaan.

Jikalau anda bertanya “Apakah artinya yakin itu? Apakah artinya kuat dan lemahnya yakin?”, maka hendaklah mula-mula memahami “yakin” itu, kemudian berusaha mencari dan mempelajarinya. Sesuatu yang tidak dipahami bentuknya, niscaya tidak mungkin mencarinya.

Ketahuilah, bahwa yakin itu suatu perkataan yang berserikat, yang dipakai oleh dua golongan untuk dua pengertian yang berlainan.

Adapun golongan pemerhati dan ulama ilmu kalam, memakai kata-kata “yakin” itu dari ke-tidak-raguan (tidak syak), karena condongnya hati kepada membenarkan sesuatu, mempunyai empat tingkat:

Pertama : bahwa seimbanglah antara membenarkan dan mendustakan. Dan untuk itu, dikatakan : syak (ragu).. seumpama : apabila anda ditanyakan tentang seorang yang tertentu, apakah ia disiksa-kan oleh Allah Ta ala atau tidak, sedang keadaan orang itu, anda tidak mengetahuinya. Maka hati anda tidak condong kepada menetapkan, dengan : ya atau tidak, tetapi bersamaanlah pada anda kemungkinan dua hal tadi. Maka ini dinamakan syak.

Kedua : bahwa condonglah jiwa anda kepada salah satu dari dua hal itu, serta merasa dengan kemungkinan sebaliknya. Tetapi kemungkinan tadi, tidak mencegah untuk menguatkan yang pertama. Seumpama apabila anda ditanyakan tentang orang yang anda kenal dengan shalih dan taqwa, bahwa orang itu jikalau meninggal dunia dalam keadaan yang demikian, adakah ia disiksa? Maka jiwa anda condong kepada pendapat : bahwa orang itu tidak akan disiksa, lebih banyak dari condongnya jiwa anda kepada ia disiksa.

Yang demikian itu, adalah karena jelasnya tanda-tanda keshalehannya. Dalam pada itu, anda boleh saja memandang ada sesuatu hal yang tersembunyi pada bathin dan rahasia orang itu, yang mengharuskan ia disiksa.

Ke-boleh-sajaan itu adalah menyamai dengan kecondongan tadi, tetapi tidaklah menolak kuatnya kecondongan itu. Maka keadaan ini disebut : dhan.

Ketiga : bahwa condonglah hati kepada membenarkan sesuatu, dimana keraslah membenarkan itu pada hati dan tidak terguris yang lain pada hati. Dan kalaupun teiguris yang lain pada hati itu, tetapi hati enggan menerimanya.

Tetapi tidaklah yang demikian itu disertai pengetahuan yang diya-kini. Karena jikalau orang yang beiada pada tingkat ini mempergunakan dengan sebaik-baiknya penelitian dan perhatian kepada yang meragu-ragukan dan keboleh-sajaan, maka meluaslah hatinya kepada keboleh-sajaan (at-taj-wiz). Dan ini disebut : i’tiqad yang mendekati kepada yaqin. Dan itu adalah : i’tiqad orang awwam tentang agama seluruhnya, apabila i’tiqad itu telah terhunjam dalam jiwa-nya dengan mendengar semata-mata. Sehingga tiap-tiap firqah (golongan) percaya bahwa alirannya (madzhabnya) yang shah, imamnya dan pengikut firqahnya saja yang betul. Jikalau diterangkan kepada salah seorang mereka kemungkinan imamnya salah, niscaya larilah ia dari pada menerimanya.

Keempat: ma’rifat yang sebenarnya (ma’rifah haqiqiah) yang diperoleh dengan jalan dalil yang tidak diragukan dan tidak tergambar keraguan lagi padanya.

Apabila tak ada lagi keraguan dan kemungkinan adanya keraguan itu, maka disebutlah : yaqin pada mereka (golongan pemerhati dan ulama ilmu kalam).

Contohnya: apabila ditanyakan kepada orang yang berakal: “Adakah pada yang ada itu (al-wujud), SESUATU yang qadim? Maka tidaklah mungkin bagi orang itu membenarkannya dengan tanpa berpikir (bil-badihah), karena Yang Qadim itu tidak dapat diketahui dengan pancaindera. Tidak seperti matahari dan bulan. Maka orang itu dapat membenarkan adanya matahari dan bulan itu dengan pancaindera. Dan tidaklah mengetahui adanya Suatu Yang Qadim Azali itu dengan mudah (dlaruri), seperti mengetahui bahwa dua lebih banyak dari satu. Bahkan seperti mengetahui terjadinya yang baharu (haadits), dengan tanpa sebab itu mustahil. Maka ini juga dlaruri.

Maka berhaklak bagi akal tidak terus membenarkan adanya Yang Qadim itu dengan jalan spontan dan tanpa berpikir. Kemudian, setengah manusia mendengar yang demikian dan membenarkan dengan mendengar itu secara yaqin dan terus-menerus kepada yang demikian.

Dan itulah yang disebut : i’tiqad (aqidah). Dan yang demikian itu adalah keadaan sekalian orang awwam.

Setengah manusia membenarkannya dengan dalil. Dan dalil itu, ialah dikatakan kepadanya : jikalau tidak ada pada al-wujud (yang ada ini) QADIM, maka yang ada itu (al-maujudat) seluruhnya baharu (haadits). Jikalau seluruhnya itu baharu, maka adalah dia itu baharu dengan tanpa sebab. Atau ada padanya baharu yang dengan tanpa sebab. Dan yang demikian itu adalah mustahiL Maka yang membawa kepada mustahil itu adalah mustahil.

Dari itu, maka haruslah menurut akal, membenarkan adanya Suatu Yang Qadim dengan dlarurah. Karena bahagian-bahagian itu tiga :

Yaitu, seluruh al-maujudat itu. qadim atau seluruhnya haadits (baharu) atau setengahnya qadim dan setengahnya baharu.

Jikalau seluruhnya qadim, maka berhasillah yang dicari. Karena secara keseluruhan sudah ada yang qadim. Dan jikalau seluruhnya baharu, maka itu mustahil. Karena membawa kepada adanya kejadian, tanpa sebab. Maka tetaplah bahagian ketiga atau pertama.

Dan tiap-tiap ilmu yang diperoleh dengan cara ini, disebut: yaqin pada golongan pemeihati dan ahli ilmu kalam. Sama saja berhasilnya dengan memperhatikan contoh yang telah kami sebutkan atau berhasilnya dengan pancaindera atau gharizah akal, seperti mengetahui mustahilnya yang baharu dengan tanpa sebab. Atau dengan berita yang mutawatir (berita yang berturut-turut dari orang banyak, yang tak mungkin sepakat membohong), seperti mengetahui adanya kota Makkah. Atau dengan percobaan, seperti mengetahui, bahwa sakmunia yang dimasak menjadi menceret. Atau dengan dalil, seperti yang telah kami sebutkan di atas tadi.

Maka syarat pemakaian nama ini pada mereka itu ialah : tidak syak. Tiap-tiap ilmu yang tak syak lagi, pada mereka disebut : yaqin.

Berdasarkan kepada ini, maka “yaqin” itu tidak disifatkan dengan “lemah”, karena tak ada berlebih-kurang tentang “tidak-syak” itu.

Istilah kedua, ialah istilah ulama-ulama fiqih, ahli tasawuf dan kebanyakan ulama lainnya. Yaitu : tidak menoleh pada kata-kata “yaqin” itu kepada segi “pembolehan dan keraguan”. Tetapi kepada penguasaan dan kerasnya atas akal. Sehingga dikatakan : si Anu lemah keyakinannya kepada mati, sedang ia tidak ragu kepada mati itu. Dan dikatakan : si Anu itu kuat keyakinannya tentang kedatangan rezeki, pada hal boleh jadi rezeki itu tidak datang kepadanya.

Manakala hati telah condong kepada membenarkan sesuatu dan yang demikian itu telah keras atas hati dan menguasainya. Sehingga sesuatu itu menjadi yang menetapkan dan yang menentukan pada hati dengan pembolehan dan pelarangan. Maka dinamakanlah yang demikian itu “yaqin”. Dan tak syak lagi, bahwa manusia bersama-sama meyakini mati dan tak ada syak lagi padanya. Tetapi dalam kalangan manusia itu, ada orang yang tidak mempunyai perhatian dan persiapan untuk menghadapi mati. Seolah-olah ia tidak yaqin dengan kedatangan mati. Ada pula diantara manusia, yang demikian itu menguasai benar pada hatinya, sehingga seluruh perhatiannya ditumpahkannya kepada persiapan menghadapi mati. Tidak ditinggalkannya peluang untuk yang lain. Maka keadaan yang seperti ini, dikatakan : kuat keyakinan.

Dari itu berkata setengah ulama : “Tidaklah aku melihat suatu keyakinan yang tak ada keraguan lagi padanya, yang menyerupai dengan keraguan yang tak ada keyakinan padanya, selain dari : mati.

Berdasarkan istilah inilah, maka keyakinan itu disebut: lemah dan kuat. Dan kami maksudkan dengan perkataan kami, bahwa setengah dari keadaan ulama akhirat, ialah menyerahkan seluruh kesungguh-annya kepada menguatkan keyakinan, adalah dengan kedua pengertian yang di atas tadi. Yaitu : tidak syak (tidak ragu), kemudian menguatnya keyakinan itu di dalam hati. Sehingga keyakinan-lah yang memenangi, yang menetapkan dan yang berbuat pada hati.

Apabila ini telah dipahami, niscaya anda mengetahui bahwa yang dimaksud dari perkataan kami, ialah yaqin itu terbagi tiga : kuat dan lemah, banyak dan sedikit, tersembunyi dan terang.

Adapun yang dimaksudkan dengan kuat dan lemah, maka adalah berdasarkan kepada istilah yang kedua. Yang demikian itu, adalah menurut keras dan berkuasanya atas hati. Derajat pengertian yaqin tentang kuat dan lemahnya, tidaklah berkesudahan. Berlebih-kurang persediaan manusia bagi mati, adalah menurut berlebih-kurangnya keyakinan sepanjang pengertian-pengertian itu.

Adapun berlebih-kurang tentang tersembunyi dan terangnya keyakinan pada istilah yang pertama, maka tidak pula dapat dibantah. Adapun pada yang menyelusup kepadanya ke-boleh-saja-an (at-taj-wiz), maka tidaklah dapat dibantah. Yakni : istilah yang kedua. Dan juga pada yang tak ada keraguan padanya, tak ada jalan untuk membantahnya.

Sesungguhnya anda dapat membedakan antara anda membenarkan adanya Makkah dan adanya Fadak umpamanya dan antara anda membenarkan adanya Musa as. dan adanya Yusya’ as., sedang anda sebenarnya tidak ragu tentang kedua hal itu.

Yang menjadi sandaran keduanya itu, ialah berita mutawatir. Tetapi anda melihat yang satu lebih terang dan lebih jelas pada hati anda dari pada yang kedua. Karena sebab pada salah satu dari pada keduanya adalah lebih kuat. Yaitu : banyaknya orang yang memberita-kan.

Dan begitu pula orang yang memperhatikan ini akan memperoleh pada teori-teori yang diketahui dengan dalil-dalil. Maka tidaklah jelas apa yang ditunjukkan dengan satu dalil, seperti jelasnya apa yang ditunjukkan dengan banyak dalil, walaupun keduanya sama, tidak diragukan.

Dan ini kadang-kadang di ban tali oleh ahli ilmu kalam, yang mengambil ilmu dari kitab-kitab dan pendengaran dan tidak mendasarkan pendapatnya kepada keadaan yang berlebih-kurang.

Tentang sedikit dan banyaknya keyakinan, maka yang demikian itu adalah disebabkan banyaknya tempat-tempat tersangkutnya keyakinan. Seumpama dikatakan ; Si Anu adalah lebih banyak ilmunya dari si Anu. Artinya : yang diketahuinya lebih banyak.

Karena itulah, kadang-kadang seorang alim itu kuat keyakinannya mengenai semua yang dibawa Agama dan kadang-kadang kuat keyakinannya pada sebahagiannya saja.

Jika anda berkata : “Aku telah memahami akan “yakin”, kuat dan lemahnya, banyak dan sedikitnya, terang dan tersembunyinya, dengan pengertian : tidak ragu atau dengan pengertian : telah menguasai hati, maka apakah artinya : tempat-tempat tersangkutnya keyakinan dan tempat-tempat yang dilaluinya? Dan pada apa yang dituntut adanya keyakinan? Karena saya, selama tidak menge-tahui apa yang dituntut adanya keyakinan padanya, maka belumlah sanggup saya mencarinya”.

1.Fadak, ialah nama suatu desa dari desa Khaibar (Al-i thaf, hal 415, jilid 1}. (Peny).


Maka katahuilah bahwa sekalian yang dibawa nabi-nabi as. dari permulaannya sampai kepada kesudahannya, adalah menjadi tempat lalunya keyakinan itu.

Maka sesungguhnya yakin itu, adalah ibarat dari ma’rifah tertentu. Dan tempat hubungannya ialah segala ilmu pengetahuan yang dibawa agama. Dan janganlah kiranya diharapkan menghinggainya. Tetapi aku akan menunjukkan kepada sebahagiannya saja. Yaitu induk-induknya .

Diantaranya ialah TAUHID. Yaitu melihat segala sesuatu dari yang menyebabkan sebab-sebab. Dan tidak menoleh kepada perantara-perantara. Tetapi, melihat perantara-perantara itu dijadikan untuk kepentingannya. Tak ada hukum apa-apa pada perantara-perantara itu. Orang yang membenarkan ini adalah orang yang berkeyakinan penuh.

Maka kalau tak ada kemungkinan ragu dalam hatinya serta keimanan, niscaya orang itu mempunyai keyakinan dengan salah satu dari dua pengertian itu. Jikalau mengalahkan atas hatinya serta keimanan, oleh sesuatu kemenangan yang menghilangkan kemarahannya kepada perantara dan rela serta berterima kasih kepada perantara-perantara itu dan menempatkan perantara-perantara tadi dalam hatinya sebagai pena dan tangan terhadap orang yang memperoleh kenikmatan dengan menurunkan tanda tangannya, maka sesungguhnya orang tadi tidak berterima kasih kepada pena dan tangannya dan tidak marah kepada keduanya (kalau tanda tangan itu membahayakan kepadanya), tetapi melihat kedua benda tadi dua macam alat yang digunakan dan menjadi perantara belaka.

Maka jadilah dia, orang yang yakin dengan pengertian yang kedua.

Dan itu yang lebih mulia (pada tingkat-tingkat keyakinan). Yaitu : buah, jiwa dan faedahnya keyakinan pertama.

Manakala telah diyakini benar-benar, bahwa matahari, bulan, bintang, benda keras (jamad), tumbuh – tumbuhan, hewan dan makhluk seluruhnya dijadikan untuk kemanfa’atan bagi manusia dengan kehendakNya, seperti dijadikan pena untuk kemanfa’atan dalam tangan seorang penulis dan bahwa qudrah yang azali, adalah sumber bagi seluruhnya, maka berkuasalah dalam hatinya kemenangan tawakkal, rela dan menyerah diri. Dan jadilah dia seorang yang yakin, bebas jiwanya dari marah, dengki, busuk hati,dan kelakuan buruk.

Inilah salah suatu dari pintu-pintu yakin! Dan sebahagian dari padanya ialah percaya kepada jaminan Allah Ta’ala dengan rezeki, yang tersebut dalam firmannya :

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا

(Wa maa min daabbatin fil ardli illaa ‘alallaahi rizquhaa).

Artinya :”Tidak adalah yang merangkak-rangkak di bumi ini, melainkan rezekinya ada pada Allah Ta’ala”. (S. Hud, ayat 6).

Yakin bahwa rezeki itu akan datang kepadanya dan apa yang ditaqdirkan, akan sampai kepadanya. Dan manakala yang demikian itu telah memenangkan dalam qalbunya, niscaya adalah ia dengan jalan tidak terurai pada mencari rezeqi. Dan akan tidak bersangatan lobanya, rakusnya dan sedihnya atas sesuatu yang tidak diperolehnya.

Keyakinan tersebut membuahkan juga sejumlah ta’at kepada Allah Ta’ala dan budi pekerti yang terpuji.

Sebahagian dari buah yakin itu, ialah bahwa mengerasi atas qalbunya, bahwa orang yang berbuat amalan baik walaupun seberat kuman yang halus, niscaya akan dilihatnya. Dan siapa berbuat amalan buruk walaupun seberat kuman yang halus niscaya akan dilihatnya. Yaitu keyakinan dengan pahala dan siksa, sehingga ia melihat hubungan t&’at kepada pahala sebagai hubungan roti kepada kenyang. Dan hubungan ma’siat kepada siksa, sebagai hubungan racun dan ular berbisa kepada kebinasaan.

Maka sebagaimana ia berusaha benar-benar menghasilkan roti untuk memperoleh kekenyangan, lalu dijaganya sedikit dan banyaknya roti itu, maka demikian pulalah ia berusaha berbuat ta’at sedikit dan banyaknya. Sebagaimana ia menjauhkan sedikit racun dan banyaknya, maka demikian pula ia menjauhkan perbuatan ma’siat sedikitnya dan banyaknya, kecilnya dan besamya.

Maka keyakinan dengan pengertian yang pertama itu, kadang-kadang terdapat pada kaum mu’min umumnya. Tetapi dengan penger-tian yang kedua, adalah tertentu bagi orang-orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah Ta’ala. Dan buah dari keyakinan ini, ialah benarnya muraqabah dalam segala gerak dan diam, dalam segala yang terlintas di dalam hati, dalam bersangatan bertaqwa kepada Tuhan dan dalam memelihara diri dari segala kejahatan.

Semakin keyakinan bertambah keras, maka menjaganya dan menetapkannya pun semakin bertambah berat dan sukar.

Sebahagian dari pintu yakin itu, ialah yakin bahwa Allah Ta’ala melihat kita dalam segala hal, menyaksikan segala yang terbisik dalam lubuk hati kita dan yang tersembunyi dalam gurisan hati dan pikiran kita.

Inilah keyakinan bagi tiap-tiap mu’min dengan pengertian yang pertama itu, yaitu : tidak ragu. Adapun dengan pengertian yang kedua dan itulah yang dimaksud, maka adalah sukar, tertentu bagi orang-orang shiddiq (orang-orang yang membenarkan segala yang datang dari agama). Buahnya, ialah bahwa manusia yang demikian dalam kesunyiannya, beradab bersopan santun dalam segala hal-ikhwalnya, sebagai seorang yang duduk menghadap seorang maharaja yang melihat kepadanya. Maka senantiasalah dia menundukkan kepala beradab dalam segala amal perbuatannya, menahan, memelihara dari segala gerak yang menyalahi adab kesopanan.

Dia dalam pemikiran kebathinannya, adalah seperti dengan segala perbuatan dhahirnya. Sebab ia yakin benar-benar bahwa Allah Ta’ala melihat kepada isi hatinya, sebagaimana orang banyak melihat kepada dhahirnya. Maka bersangatannya pada membangunkan bathinnya, membersihkan dan menghiaskannya pada pandangan Allah Ta’ala, adalah lebih bersangatan dari pada menghiaskan tubuh dhahirnya pada pandangan manusia.

Keyakinan yang seperti ini mewarisi malu, takut, rendah hati, hina diri, tenang, tunduk dan sejumlah lagi dari budi pekerti yang terpuji.

Budi pekerti yang terpuji ini, mewarisi berbagai macam ta’at yang tinggi kepada Tuhan.

Maka yakin dalam masing-masing pintu dari pintu-pintu yang tersebut di atas, adalah seumpama pohon kayu. Dan budi pekerti yang terpuji tadi dalam hati adalah seumpama ranting-rantingnya yang bercabang merindang. Amal perbuatan ini dan ta’at yang menon-jol dari budi pekerti itu, adalah Iaksana buah dan bunga yang bertaburan pada ran ting-ran ting.

Maka yakin adalah pokok dan sendi, mempunyai tempat berlalu dan pintu, lebih banyak dari yang dapat kita hitungkan. Dan akan diterangkan nanti, pada Bahagian Yang Melepaskan Dan Bahaya insya Allah Ta’ala. Dan sekedar ini, mencukupilah sekarang untuk memberi pengertian perkataan “yakin”.

Juga diantara sifat-sifat ulama akhirat itu, adalah ia selalu merasa sedih, hancur hati, menunduk kepala dan berdiam diri. Bekas takut-nya kepada Allah Ta’ala tampak atas keadaan, pakaian, perjalanan, gerak dan diam, berbicara dan tidak berbicara, siapa saja yang memandang kepadanya, maka pandangan itu mengingatkan dia kepada Allah Ta’ala. Rupanya menunjukkan kepada amal perbuatannya.

Kuda tunggang, matanya ialah kaca matanya. Ulama akhirat dikenal dengan tanda-tanda yang ada padanya, tentang ketenangan diri, kehinaan, dan kerendahan.

Ada ulama yang mengatakan bahwa tak ada pakaian yang dianugerahkan Tuhan kepada hambaNya, yang lebih baik dari khusyu’ dalam ketenangan bathin. Itulah pakaian para nabi, tanda orang-orang shalih, shiddiq dan para alim ulama.

Adapun perkataan batil, bersenda-gurau yang tidak dijaga, tertawa terbahak-bahak, bergerak semberono dan berbicara tajam, semuanya itu adalah bekas-bekas dari kesombongan, merasa am an dan lengah dari siksaan Tuhan Yang Maha Besar dan kesangatan amarah-Nya.

Sifat yang tersebut ini adalah kebiasaan anak-anak dunia yang lupa kepada Allah. Bukan kebiasaan ulama-ulama.

Pahamilah ini! Karena ulama seperti kata Sahl At-Tusturi ada tiga : Ulama yang mengetahui dengan suruh Allah, tidak mengetahui dengan hari-hari Allah. Yaitu mereka yang berfatwa tentang halal dan haram. Ilmu ini tidak mewariskan takut kepada Allah. Ulama yang mengetahui akan Allah dan tidak mengetahui akan suruh Allah dan hari-hari Allah. Yaitu orang mu’min umumnya. Dan ulama yang mengetahui akan Allah Ta’ala, suruhNya dan hari-hari Nya. Yaitu orang-orang shiddiq. Takut dan khusyu’, telah menang atas mereka.

Dimaksudkan dengan hari-hari Allah ialah segala macam siksaanNya yang tidak diketahui batasnya dan segala macam nikmatNya yang tersembunyi yang dilimpahkanNya pada abad-abad yang lampau dan abad-abad yang akan datang.

Orang yang luas pengetahuannya tentang itu, maka sangatlah ta-kutnya dan lahirlah khusyu’nya.

Berkata Umar ra. : Pelajarilah ilmu! Pelajarilah untuk ilmu itu ketentraman, ketetapan hati dan kelembutan jiwa! Tunduklah dengan merendahkan diri kepada orang tempat kamu belajar! Begitu pula, hendaklah tunduk kepadamu orang yang belajar pada-mu! Janganlah kiranya kamu menjadi ulama yang bertabi’at kasar! Maka tidaklah ilmumu itu tegak dengan sebab kejahilahmu itu”.

Ada dikatakan, bahwa Allah Ta’ala tidakmenganugerahkan kepada hambaNya bersama ilmu itu kelembutan hati, kerendahan diri, kebaikan budi dan kekasih sayangan kepada makhluk IlahL

Itulah ilmu yang bermanfa’at. Dan pada atsar (ucapan orang-orang terdahulu), ada yang mengatakan bahwa orang yang dianugerahi ilmu oleh Allah Ta’ala, zuhud, tawadlu’ dan kebaikan budi, maka adalah dia imam dari orang-orang yang bertaqwa kepadaNya. Dalam hadits Nabi صلى الله عليه وسلم tersebut:إن من خيار أمتي قوما يضحكون جهرا من سعة رحمة الله ويبكون سرا من خوف عذابه أبدانهم في الأرض وقلوبهم في السماء أرواحهم في الدنيا وعقولهم في الآخرة يتمشون بالسكينة ويتقربون بالوسيلة “Diantara ummatku yang terbaik, ialah suatu kaum yang tertawa terang-terangan dari keluasan rakhmat Allah dan menangis secara sembunyi-sembunyi karena takut ‘akan ‘azab Allah. Badannya dibumi jiwanya di langit. Rohnya di dunia dan akalnya di akhirat. Berjalan mereka dengan tenang dan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan wasilah (jalan yang menyampaikan kepadaNya”. ( 1 )

Berkata Al-Hasan : “Lembut hati itu wazir ilmu. Kasih sayang itu bapak ilmu. Merendahkan diri itu pakaian ilmu”.

Berkata Bisyr bin Al-Harts : “Barang siapa mencari menjadi kepala dengan ilmu, maka dia telah mendekatkan dirinya kepada Tuhan dengan kemarahan Tuhan. Orang itu tercela di langit dan di bumi”.

Diriwayatkan dalam ceritera-ceritera Bani Israil bahwa seorang ahli hikmah telah mengarang tiga ratus enam puluh karangan tentang ilmu hikmah, sehingga dia digelarkan al-hakim (ahli ilmu hikmah). Maka diwahyukan Tuhan kepada Nabi mereka, yang isinya :

1.Dirawikan Al-Hakim dan At-Baihaql dan ‘Ijattl bin Sulaiman dan dipandangnya dla’if.

“Katakanlah kepada si Anu! Telah engkau penuhkan bumi ini dengan kemunafikan (nifaq), Dan sedikitpun tidak engkau kehen-daki akan Aku dengan perbuatan itu. Sesungguhnya Aku tidak menerima suatu pun dari kemunafiqanmu itu”.

Maka orang itu menyesal dan meninggalkan perbuatamya. Lalu pergi bergaul dengan orang awwam, berjalan di pasar-pasar, bertolong-tolongan dengan kaum Bani Israil dan merendahkan diri. Maka diwahyukan Allah kepada Nabi mereka, yang berbunyi : “Katakanlah kepadanya! Sekarang telah Aku berikan taufiq kerelaanKu”.

Berceritera Al-Auza’i ra. dari Bilal bin Sa’ad bahwa Bilal berkata : “Seseorang kamu bila memandang kepada polisi, lalu berlindung dengan Allah dari padanya. Dan bila ia memandang kepada ulama duniawi yang membuat-buat budi baik, yang memburu menjadi kepala, maka ia tidak mengutuk mereka, pada hal merekalah yang lebih berhak dikutuk dari pada polisi itu”.

Diriwayatkan bahwa ada orang bertanya kepada Nabi saw. : “Wahai Rasulullah! Amalan apakah yang lebih utama?”.

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم : “Menjauhkan yang haram dan mulutmu senantiasa basah dari berdzikir kepada Allah Ta’ala”.

Bertanya lagi orang kepadanya : “Shahabat manakah yang lebih baik?”.

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم: “Yaitu seorang shahabat jika engkau berdzikir kepada Allah niscaya dia menolong engkau. Dan jika engkau lupa berdzikir, niscaya diperingatinya engkau”.

Lalu bertanya lagi orang itu kepada Nabi saw.: “Shahabat manakah yang jahat?”.

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم: “Yaitu shahabat jikalau engkau lupa, tidak diperingatinya akan engkau. Dan jika engkau teringat mengingati akan Allah, maka dia tidak menolong akan engkau”.

Bertanya orang itu lagi: “Manusia manakah yang lebih berilmu?”.

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم “Yang paling takut kepada Allah Ta’ala”.

Kemudian bertanya lagi orang itu kepada Nabi saw. : “Terangkan-lah kepada kami, orang-orang kami yang baik, yang akan kami ambil untuk teman duduk berceritera”.

Nabi saw. صلى الله عليه وسلم menjawab :قيل يا رسول الله أي الأعمال أفضل قال اجتناب المحارم ولا يزال فوك رطبا من ذكر الله..الحديث    “Yaitu mereka yang selalu kelihatan berdzikir kepada Allah Ta’ala”.

Orang itu bertanya lagi: “Manusia manakah yang paling jahat?”.

Nabi صلى الله عليه وسلم menjawab : “Wahai Tuhan! Ampunilah!”.

Mereka meminta : “Terangkanlah kepada kami wahai Rasulullah!”.

Maka jawablah Nabi صلى الله عليه وسلم :العلماء إذا فسدوا  “Yaitu ulama apabila membuat kerusakan”. (1)

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم saw. :إن أكثر الناس أمانا يوم القيامة أكثرهم فكرا في الدنيا وأكثر الناس ضحكا في الآخرة أكثرهم بكاء في الدنيا وأشد الناس فرحا في الآخرة أطولهم حزنا في الدنيا “Yang lebih banyak memperoleh keamanan pada hari qiamat, ialah orang yang lebih banyak berpikir semasa di dunia. Yang lebih banyak tertawa di akhirat, ialah orang yang lebih banyak menangis semasa di dunia. Dan yang lebih banyak bergembira di akhirat, ialah orang yang lebih lama gundah semasa di dunia”. (2)

Berkata Ali ra. dalam salah satu pidatonya : “Diriku ini tergadai. Aku adalah pemimpin. Sesungguhnya tidak menaruh hati kepada taqwa oleh tanaman suatu kaum dan tidak haus kepada petunjuk oleh pokoknya pokok. Manusia yang paling bodoh ialah orang yang tidak tahu diuntung. Manusia yang paling dimarahi Tuhan, ialah orang yang mengumpulkan ilmu untuk membuat kekacauan, menghembus-hembuskan fitnah. Sampai dia dinamakan manusia bayangan dan orang yang berilmu yang paling hina. Dia tidak hidup dalam ilmu seharipun yang selamat. Ia berpagi-pagi mengha-silkan ilmu dan memperbanyakkannya. Maka sedikit dari ilmu pengetahuan dan mencukupi adalah lebih baik dari pada banyak tetapi disia-siakan. Sehingga bila kehausan, terpaksalah meminum dari air yang telah berobah dan disimpan banyak yang tidak ber-faedah.

Dia duduk dihadapan orang banyak sebagai guru untuk menyelesai-kan apa yang keliru bagi orang Iain. Apabila terjadi sesuatu peristi-wa penting, lalu ingin ia menyelesaikannya menurut pendapatnya sendiri, sedang dia sebenarnya berotak kosong. Dia menghadapi persoalan-persoalan yang mengelirukan itu, yang menyamai benang lawa-lawa, tak tahu dia salah atau benar. Dia adalah pengendara yang bodoh, berpenyakit gila, membawa unta yang tak dapat memandang ke muka. Ia tidak minta dimaafkan dari pada apa yang tidak diketahuinya supaya selamat.

Dia tidak menggigit ilmu itu dengan gusinya yang tajam supaya memperoleh hasil. Menangislah pernbuluh-pembuluh darah di ba-dannya. Dan menjadi halal dengan hukumnya kemaluan wanita (faraj) yang haram. Demi Allah tidaklah penuh, dengan mengeluar-kan apa yang telah ada padanya.

1.Menurut Aliraqi beliau tidak mendapati Hadis yang demikian Panjangnya

2.Menurut Aliraqi, beliau tidak pernah menjumpai Hadis ini

Orang itu tidaklah ahli untuk apa yang diserahkan kepadanya. Merekalah orang-orang yang diambil menjadi perumpamaan tentang azab pada abad-abad yang lampau. Maka layaklah mereka memekik dan menangis pada hari-hari kehidupan di dunia ini”.

Berkata Ali ra. : “Apabila engkau mendengar ilmu, maka bicara-kanlah ilmu itu! Dan jangan engkau campurkan dengan senda-gurau, nanti dimuntahkan oleh hati”.

Berkata sebahagian ulama salaf : “Orang berilmu itu apabila tertawa terbahak-bahak, maka dia telah melemparkan ilmunya sekali lempar”.

Dikatakan bahwa apabila seorang mu’allim (pengajar) mengumpul-kan tiga perkara, maka sempurnalah nikmat kepada pelajarnya, yaitu : sabar, merendahkan diri dan baik budi. Dan apabila seorang pelajar (muta’allim) mengumpulkan tiga perkara, maka sempurnalah nikmat kepada pengajarnya yaitu : berakal, beradab dan berpaham baik”.

Pendek kata, segala budi pekerti yang dibawa Al-Qur’an, tidaklah terlepas padk diri ulama akhirat. Karena mereka mempelajari Al-Qur’an untuk diamalkan, tidak untuk menjadi kepala.

Berkata Ibnu Umar ra. : “Kita telah hidup sekejap masa. Ada diantara kita, memperoleh iman sebelum Al-Qur’an. lalu turunlah surat Al-Qur’an itu. Maka dipelajarinyalah yang halal dan yang haram, yang disuruh dan yang dilarang dan apa yang harus dia berhenti sampai di situ. Aku sudah melihat beberapa orang. Salah seorang diantara mereka didatangkan Al-Qur’an sebelum iman, maka dibacanyalah semuanya dari permulaan sampai kepada penghabisan Kitab Suci, dengan tidak diketahuinya apa penyuruhnya dan apa pelarangnya. Dan apa yang seyogianya, dia berhenti padanya. Maka dihamburkannya yang dibacanya itu seperti menghamburkan kurma busuk”. (1)

Dalam hadits lain, yang sama pengertiannya dengan itu, yaitu : “Adalah kami para shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم . diberikan kepada kami IMAN sebelum Al-Quran. Dan akan datang sesudah kamu, suatu kaum yang diberikan Al-Qur’an sebelum Iman. Mereka menegakkan huruf-huruf Al-Quran dan menyia-nyiakan batas-batas dan hak-hak dari Al-Quran dengan mengatakan : “Kami sudah baca. Siapakah yang lebih banyak membaca dari kami? Kami telah tahu. Siapakah yang lebih tahu dari kami? Maka itulah nasib mereka”. (2)

Pada perkataan Iain tersebut : “Merekalah yang sejahat-jahatnya dari ummat ini”.

1.Ini adalah hadits yang dirawikan Al-Hakim dan Al-Baihaqi dan dipandangnya shahih.

2.Dirawikan Ibnu Madjah dari Junduh حديث: (( كنا أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم أوتينا الإيمان قبل القرآنالحديث)) أخرجه ابن ماجه من حديث جندب مختصرا مع اختلاف

Pada perkataan Iain tersebut : “Merekalah yang sejahat-jahatnya dari ummat ini”.

Dikatakan bahwa lima macam dari budi pekerti adalah diantara tanda-tanda ulama akhirat, yang dipahami dari lima ayat Kitab Allah Ta’ala Al-Qur’an. Yaitu : takut, khusyu’, tawadlu baik budi,dan memilih akhirat dari dunia. Yaitu : zuhud.

Takut, diambil dari firman Allah Ta’ala :

 إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

(Innamaa yafrhsyallaaha min Ibaadihil Hilamaa).

Artinya :

“Hanya sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hambaNya, ialah para ahli ilmu (ulama)”. (S. Fathir, ayat 28).

Khusyu’, diambil dari firman Allah Ta’ala :

خَاشِعِينَ لِلَّهِ لا يَشْتَرُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلا

(Khaasyi’iina lillahi laa yasytaruuna biaayaatillaahi tsamanan qaliila).

Artinya :*’Mereka itu khusyu* kepada Allah, tidak menukar keterangan-ke-terangan Allah itu dengan harga yang murah.(S. Ali ‘Imran, ayat 199).

Tawadlu’ (merendahkan diri), diambil dari firman Allah Ta’ala : ( S.Al-Hijr)

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ

(Wakhfidh jana haka lil-mu’miniin).

Artinya:”Rendahkanlah sayapmu kepada orang mu’min (S. Al-Hijr, ayat 88).

Baik budi, diambil dari firman Allah Ta’ala :

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ

(Fabimaa rahmatin minallaahi linta lahum).

Artinya :”Oleh karena rakhmat Allah„ engkau bersikap lemah lembut kepada mereka”.(S. Ali ‘Imran, ayat 159).

Zuhud, diambil dari firman Allah Ta’ala : ( Al-Qashash)

وَقَالَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا

(Wa qaalalladziina uutul ilma wailakum tsawaabullaahi khairun liman aamana wa ‘amila shaalihaa).

Artinya :”Berkata orang-orang yang berilmu pengetahuan itu : “Malang nasibmuI Pahala dari pada Allah lebih baik untuk orang yang beriman dan mengerjakan perbuatan baik .(S.Al-Qashash, ayat 80),

Tatkala Rasulullah saw. membaca firman Allah Ta’ala :

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ

(Faman yuridillaahu an yahdi yahuu yasyrah shadrahuu lil-islaam).

Artinya : “Barang siapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya niscaya dibukaNya dada orang itu kepada Islam “

(S. Al-An’am, ayat 125).

Lalu orang bertanya kepada Nabi صلى الله عليه وسلم: “Apakah pembukaan itu?”.

Nabi saw. menjawab : “Sesungguhnya nur itu apabila diletakkan dalam hati, maka terbukalah dada menerima nur tersebut dengan seluas-Iuasnya”.

Berkata orang itu lagi : “Adakah tandanya untuk itu?”.

  التجافي عن دار الغرور والإنابة إلى دار الخلود والاستعداد للموت قبل نزوله

قال صلى الله عليه وسلم; نعم    ) Menjawab Nabi saw. : نعم “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya”. (1)

1.Dirawikan Al-Hakim dan Al-Baihaqi dari ibnu Mas’ud.

Juga diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, ialah kebanyakan pembahasannya mengenai ilmu yang dikerjakan, apa-apa yang merusakkan amal perbuatan itu, yang mengacau-Balaukan hati, yang membangunkan waswas dan yang mengobarkan kejahatan.

Sesungguhnya pokok agama ialah, menjaga dari kejahatan itu. Dari itu bermadahlah seorang penya’ir :

Aku kenal kejahatan, bukan untuk kejahatan,

tetapi………….untuk menjaga diri daripadanya,

Orang yang tak mengenai kejahatan, akan jatuhlah ke dalamnya!!!!

Dan karena amal perbuatan yang dikerjakan itu dekat pengambil-annya. Dan yang paling penghabisan, bahkan yang paling tinggi dari amal perbuatan itu, ialah membiasakan diri mengingati Allah Ta’ala (berdzikir) dengan hati dan lid ah. Sesungguhnya urusannya, ialah pada mengetahui yang merusakkan dan yang mengacaukan amal perbuatan itu.

Dan ini, banyak benar cabangnya dan panjang pembahagiannya. Semuanya termasuk yang diperlukan. Dan banyaklah bahaya yang dihadapi dalam perjalanan menuju akhirat.

Adapun ulama dunia, mereka mengikuti saja cabang-cabang yang ganjil dalam pemerintahan dan kehakiman. Mereka bersusah-payah menciptakan bentuk-bentuk yang menghabiskan waktu dan tak pernah terjadi. Kalau pun terjadi, maka terjadi untuk orang lain, tidak untuk mereka sendiri.

Dan apabila terjadi, maka banyaklah orang yang bangun mau menyelesaikannya dan meninggalkan tugas yang semestinya harus dikerjakan.

Begitulah berulang-ulang terjadi malam dan siang, baik dalam gurisan hati, sangka waham dan amal perbuatan dari ulama dunia itu.

Alangkah jauhnya dari kebahagiaan orang yang menjual kepentingan dirinya sendiri yang perlu, dengan kepentingan orang lain yang jarang terjadi, karena mengharap dekat diri dan diterima orang banyak, dari pada mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala.

Dan karena rakus, supaya dinamakan oleh tukang-tukang batil dari anak-anak dunia, dengan nama ul-fadlil, yang melahirkan kebenaran, yang mengetahui masalah yang pelit-pelit.

Dan balasannya dari Allah, bahwa ulama itu tidak bermanfa’at di dunia ini dengan diterima oleh orang banyak. Tetapi namanya kotor sepanjang zaman. Kemudian dia datang pada hari qiamat, merugi, menyesal demi melihat laba yang diperoleh oleh orang yang beramal dan kemenangan yang diperoleh oleh orang yang mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Inilah kerugian yang nyata!

Al-Hasan Al-Baihaqi ra. adalah seorang manusia yang menyerupai perkataannya dengan perkataan nabi-nabi as. dan petunjuk yang diberikannya kepada manusia mendekati dengan petunjuk dari shahabat-shahabat Nabi saw.

Dan telah sepakatlah kata atas yang demikian terhadap Al-Hasan itu. Sebahagian besar perkataan Al-Hasan adalah mengenai gurisan hati, kerusakan amal, kebimbangan jiwa dan sifat-sifat yang tersem-bunyi yang tak jelas dari keinginan hawa nafsu.

Pernah orang mengatakan kepadanya : “Hai Abu Sa’id! Tuan berkata-kata dengan perkataan yang tak pernah terdengar dari orang lain. Dari manakah tuan ambil?”.

Al-Hasan menjawab : “Dari Huzaifah bin Al-Yamman!”.

Kemudian ditanyakan kepada Huzaifah : “Kami melihat tuan mengeluarkan perkataan yang tak pernah terdengar dari shahabat-shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم: yang lain. Dari manakah tuan ambil?”.

Huzaifah menjawab : “Ditentukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم, perkataan-perkataan itu kepadaku. Orang lain bertanya kepada Nabi saw. tentang kebajikan. Aku menanyakannya tentang kejahatan karena takut aku jatuh ke dalamnya. Dan aku tahu bahwa kebajikan itu tak perlu buru-buru aku mengetahuinya”.

Pada suatu kali pernah Huzaifah mengatakan : “Maka aku tahu bahwa orang yang tidak mengenai kejahatan, niscaya tidak akan mengenai kebajikan”.

Pada kata-kata lain, pernah para shahabat Nabi saw. bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah untuk orang yang mengerjakan demikian dan demikian?”.

Maksud mereka menanyakan tentang amal perbuatan yang utama.

“Tetapi aku – kata Huzaifah menanyakan : “Wahai Rasulullah! Apakah yang merusakkan demikian dan demikian?”.

Tatkala Rasulullah melihat aku menanyakan tentang bahaya yang merusakkan amal, lalu beliau menentukan ilmu ini untukku”.

Huzaifah juga ditentukan oleh Nabi صلى الله عليه وسلم. dengan pengetahuan tentang orang munafiq. Dia sendiri yang mengetahui tentang ilmu mengenai nifaq, sebab-sebabnya dan bahaya fitnah yang halus-halus.

Umar, Usman dan pembesar-pembesar shahabat ra. menanyakan Huzaifah tentang fitnah umum dan khusus. Huzaifah ditanyakan tentang orang-orang munafiq. Lalu ia menerangkan bilangan yang masih tinggal dari mereka, tetapi tidak diterangkannya nama mereka masing-masing.

Adalah Umar menanyakan kepada Huzaifah tentang dirinya : “Adakah Huzaifah tahu sesuatu dari kemunafiqan pada Umar?”. Lalu Huzaifah menyatakan, bahwa Umar terlepas dari yang demikian.

Saidina Umar ra. apabila dipanggil untuk melakukan shalat janazah, ia melihat lebih dahulu. Kalau ada datang Huzaifah, maka Umar mau bershalat janazah pada mayat itu. Kalau tidak datang, maka Umar meninggalkan tempat itu.

Huzaifah digelarkan pemegang rahasia.

Bersungguh-sungguh mempelajari tingkat-tingkat hati dan hal ikhwalnya, adalah kebiasaan ulama akhirat. Karena hatilah yang berjalan mendekati Allah Ta’ala.

Maka jadilah pengetahuan ini ganjil dan terhapus. Apabila dikemu-kakan sedikit saja daripadanya kepada seorang yang berilmu, lalu merasa ganjil dan menjauhkan diri, dengan mengatakan bahwa itu diperindah oleh juru-juru nasehat. Dan dimana pentahkikannya?.

Orang itu memandang bahwa pentahkikan itu adalah pada pertengkaran yang berliku-liku.

Benarlah kiranya kata penya’ir :

“Jalan itu sangat banyak,

tetapi jalan kebenaran hanya satu.

Dan yang pergi berangkat,

ke jalan kebenaran itu satu-satu…………………

Mereka tiada tahu, maksudnyapun tiada diketahui. Mereka terus menuju, berjalan pelan-pelan kepada yang ditujui.

Manusia itu lalai,

apa dimaksudkan dengan mereka.

Sebahagian besar tidur terkulai,

jalan kebenaran sampai terlupa………………..

Kesimpulannya, bahagian terbanyak dari manusia itu, tidak condong hatinya, selain kepada yang mudah dan sesuai dengan tabiat-nya. Karena kebenaran itu pahit. Dan payah untuk tegak terus dikebenaran itu. Mengetahuinya sukar. Jalan kepadanya berliku-liku. Lebih-lebih mengenai sifat hati dan mensucikannya dari pekerti yang tercela.

Itu adalah suatu cabutan dari jiwa yang terus-inenerus. Orangnya adalah seumpama orang yang meminum obat, harus sabar atas pahitnya obat, karena mengharapkan sembuh. Atau seumpama orang yang menjadikan masa hidupnya untuk berpuasa. Maka ia harus menahan segala penderitaan, untuk mencapai hari pembukaan puasanya ketika mati nanti.

Kapankah banyak orang menyukai jalan itu? Karena itulah kata orang, bahwa di kota Basrah terdapat seratus dua puluh orang yang selalu berbicara tentang nasehat dan peringatan. Dan tak ada yang berbicara mengenai ilmu yakin, hal ikhwal hati dan sifat-sifat bathin, selain tiga orang, yaitu Sahl At-Tusturi, Ash-Shubaihi dan Abdur Rahim.

Yang duduk mengelilingi juru-juru nasehat itu tak terhitung banyaknya, sedang yang mengelilingi orang yang tiga tadi adalah sedikit, hampir tidak melampaui sepuluh orang. Sebabnya tak lain, ialah barang yang bernilai itu, tidak layak selain kepada orang-orang tertentu. Dan apa yang dihidangkan kepada orang banyak itu, adalah persoalan yang dekat saja.

Juga diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, perpegangannya tentang ilmunya berdasarkan kepada penglihatan bathin dan diketahuinya dengan hati yang putih bersih. Tidak kepada lembaran buku dan kitab-kitab dan tidak pula bertaqlid atas pendengaran dari orang lain. Yang ditaqlidkannya, sesungguhnya pembawa syari’at suci Nabi Besar Muhammad صلى الله عليه وسلم. pada yang disuruhnya dan yang diucapkannya. Shahabat-shahabat ra. pun ditaqlidkannya, dari segi bahwa perbuatan mereka menunjukkan kepada pendengarannya dari Rasulullah  صلى الله عليه وسلم

Kemudian, apabila sudah bertaqlid kepada pembawa syari’at suci itu dengan menerima segala perkataan dan perbuatannya, maka hendaklah berusaha benar-benar memahami rahasia ajarannya.

Seorang yang bertaqlid (muqallid) berbuat suatu perbuatan karena Nabi صلى الله عليه وسلم berbuatnya. Perbuatannya itu memang harus dan hendaklah karena suatu rahasia padanya.

Maka seyogialah bahwa dia membahas benar-benar tentang rahasia segala perbuatan dan perkataan Nabi صلى الله عليه وسلم. Karena kalau dicukupkan saja dengan menghafal apa yang dikatakan, maka jadilah dia karung ilmu dan bukanlah seorang yang berilmu.

Karena itulah ada orang mengatakan : si Anu itu karung ilmu. Maka tidaklah dinamakan orang itu berilmu apabila keadaannya hanya menghafal saja, tanpa memperhatikan hikmah dan rahasia yang terkandung di dalamnya.

Orang yang tersingkap dari hatinya tutup dan memperoleh nur hidayah, maka jadilah dia seorang yang diikuti dan ditaqlidkan. Maka tidak seyogialah dia bertaqlid kepada orang lain.

Karena itulah berkata Ibnu Abbas ra. : “Tiada seorangpun, melainkan diambil dari ilmunya dan ditinggalkan selain Rasulullah (صلى الله عليه وسلم…… (1

Ibnu Abbas itu mempelajari fiqih pada Zaid bin Stabit dan membaca Al-Qur’an pada Ubai bin Ka’ab. Kemudian dia berselisih dengan Zaid dan Ubai tentang fiqih dan tentang pembacaan Al-Qur’an. Berkata setengah ulama salaf : “Apa yang datang kepada kami dari Rasulullah صلى الله عليه وسلم . kami terima di atas kepala dan penuh perhatian dari kami. Dan apa yang datang kepada kami dari para shahabat ra. ada yang kami ambil dan ada yang kami tinggalkan. Dan apa yang datang dari para tabi’in, maka mereka itu laki-laki dan kamipun laki-laki”.

Dianggap lebih para shahabat itu, karena mereka melihat dengan mata sendiri hal-ikhwal Rasulullah صلى الله عليه وسلم. Dan hati mereka terikat kepada hal-ikhwal itu yang diketahui dengan qarinah (tanda-tanda). Lalu membawa mereka kepada yang benar, dari segi tidak masuk dalam riwayat dan ibarat. Karena telah melimpahlah nur kenabian kepada mereka, yang menjaga dari kesalahan dalam banyak hal.

Apabila berpegang kepada yang didengar dari orang lain itu taqlid yang tidak disukai, maka berpegang kepada kitab-kitab dan karang-an-karangan adalah lebih jauh lagi. Bahkan kitab-kitab dan karang-an-karangan itu adalah barang baru yang dibuat.

1.Ini adalah hadits yang dirawikan Ath-Thabrani dari Ibnu Abbas.

Sedikitpun tak ada daripadanya pada masa shahabat dan tabi’in yang terkemuka. Tetapi datangnya adalah sesudah seratus dua puluh tahun dari Hijrah Nabi صلى الله عليه وسلم. dan sesudah wafat seluruh shahabat dan sebahagian besar dari tabi’in dan sesudah wafat Sa’id bin Al-Musayyab, Al-Hasan dan para tabi’in yang pilihan. Bahkan ulama-ulama yang mula-mula dahulu,tidak menyukai kitab-kitab hadits dan penyusunan kitab-kitab. Supaya tidaklah manusia itu sibuk dengan buku-buku itu, dari hafalan,dari Al-Qur’an, dari pemahaman dan dari peringatan. Mereka itu mengatakan : “Hafallah sebagaimana kami menghafal!”.

Karena itulah, Abu Bakar dan segolongan shahabat Nabi saw. tidak menyetujui penulisan Al-Qur’an (mengkodifikasikan), dalam suatu mashaf. Mereka berkata : “Bagaimana kita membuat sesuatu yang tidak diperbuat Nabi صلى الله عليه وسلم?”.

Mereka itu takut nanti manusia itu berpegang saja pada mashaf-mashaf dengan mengatakan : “Kita biarkan Al-Quran, yang diterima oleh mereka dari tangan ke tangan, dengan dipelajari dan dibacakan, supaya menjadi pekerjaan dan cita-cita mereka”. Sehingga Umar ra. dan lain-lain shahabat menunjukkan supaya Al-Qur’an itu ditulis, karena takut disiasiakan orang nanti dan malasnya mereka. Dan menjaga agar tidak menimbulkan pertikaian di belakang hari. Karena tidak diperoleh yang asli yang menjadi tempat pemeriksaan dari kekeliruan, baik kalimatnya atau bacaan-nya.

Mendengar alasan-alasan tadi, maka terbukalah hati Khalifah Abu Bakar. Maka dikumpulkanlah Al-Qur’an itu dalam suatu mashaf.

Imam Ahmad bin Hanbal menentang Imam Malik karena dikarang-nya kitab Al-Muath-tha Ahmad berkata : “Tuan ada-adakan yang tidak dikerjakan para shahabat ras”.

Kata orang, kitab yang pertama dikarang dalam Islam ialah Kitab Ibnu Juraij tentang atsar m dan huruf-huruf tafsir dariMujahid, At ha’ dan teman-teman Ibnu Abbas ra. di Makkah.

Kemudian muncul kitab Ma’mar bin Rasyid Ash-Shan’ani di Ya-man. Dikumpulkan di dalamnya sunnah yang dipusakai dari Nabi saw.

1.Atsar, Ialah ucapan para shahabat ra. dan para pamuka islam yang terdahulu.

Kemudian lahir Kitab Al-Muattha’ di Madinah karangan Imam Malik bin Anas. Kemudian Kitab Jami’ karangan Sufyan Ats-Tsuri.

Kemudian pada abad keempat hijriyah, muncullah karangan-karangan tentang ilmu kalam. Lalu ram ail ah orang berkecimpung dalam pertengkaran dan tenggelam di dalam membatalkan kata-kata.

Kemudian tertariklah hati manusia kepada ilmu kalam, kepada kisah-kisah dan memberi pengajaran dengan mengambil bahan dari kisah-kisah tadi. Maka sejak masa itulah merosot ilmu yakin (ilmul-yaqin). Sesudah itu, lalu dipandang ganjil ilmu hati, pemerik-saan sifat-sifat jiwa dan tipu daya setan.

Orang tidak memperhatikan lagi kepada ilmu-ilmu tadi selain sedi-kit-sekali. Lalu orang-orang yang suka bertengkar dalam ilmu kalam, dinamai ‘alim. Tukang ceritera yang menghiasi kata-katanya dengan susunan yang berirama, dinamai ‘alim.

Ini disebabkan karena orang awwamlah yang mendengar syarahan dan ceritera orang-orang tadi. Lalu tidak dapat membedakan antara ilmu yang sebenarnya dan ilmu yang tidak sebenarnya. Perjalanan shahabat dan ilmu pengetahuan shahabat-shahabat ra. itu tidak terang pada orang awwam. Sehingga mereka dapat mengenai perbedaan antara para shahabat itu dan orang-orang yang disebut ‘alim.

Maka terus-meneruslah nama ulama melekat pada orang-orang itu dan dipusakai dari salaf kepada khalaf (ulama-ulama pada masa terakhir). Dan jadilah ilmu akhirat itu terpendam dan lenyaplah perbedaan antara ilmu dan bicara, selain pada orang-orang tertentu.

Orang-orang yang tertentu itu (al-khawwash) apabila ditanyakan : “Si Anukah yang lebih berilmu ataukah si Anu?”, lalu menjawab : “Si Anu lebih banyak ilmunya dan si Anu lebih banyak bicaranya”.

Jadi, orang-orang al-khawwash mengetahui perbedaan antara ilmu dan kemampuan berbicara.

Begitulah, maka agama itu menjadi lemah pada abad-abad yang lampau. Maka bagaimana pula persangkaan anda dengan zaman anda sekarang?.(1)

Sudah sampailah sekarang, bahwa orang yang suka mengecam perbuatan munkar, dituduh gila. Jadi yang baik sekarang, ialah orang bekerja untuk dirinya sendiri dan diam.

1) Yaitu, zaman Al-Ghazali ra. kira-klra pada akhir abad ke v Hijriyah.

Juga diantara tanda-tanda ulama akhirat itu, sangat menjaga dari perbuatan-perbuatan bid’ah, meskipun telah mendapat persetujuan dari kebanyakan ulama (ulama al-jumhur).

Janganlah kiranya tertipu atas kesepakatan orang ramai terhadap sesuatu yang diada-adakan sesudah para shahabat Nabi صلى الله عليه وسلم.Hendak lah suka memeriksa tentang keadaan para shahabat, perjalanan dan perbuatannya. Dan apa yang menjadi kesukaan mereka, mengajar kah, mengarangkah, suka bertengkarkah, menjadi kadlikah, wali negerikah, memegang harta wakafkah, harta wasiat kah, memakan harta anak yatimkah, bergaul dengan sultan-sultan kah, berbaik pergaulan dengan merekakah? Atau adakah ia dalam keadaan takut kepada Tuhan, gundah, tafakkur, mujahadah, muraqabah, dhahir dan bathin, menjauhkan diri dari dosa yang sekecil-kecilnya sampai kepada yang sebesar-besamya, berusaha memperoleh pengetahuan yang tersembunyi dari hawa nafsu dan tipu daya setan? Begitulah seterusnya dari segala ilmu bathin itu!.

Ketahuilah dengan sebenar-benarnya bahwa orang yang terpandang ‘alim, pada masanya dan yang lebih dekat kepada kebenaran, ialah orang-orang yang menyerupai shahabat dan yang lebih mengenai jalan ulama-ulama salaf. Maka dari merekalah hendaknya agama itu diambil!.

Karena itulah berkata Ali ra. : “Yang terbaik dari kita ialah yang lebih mengikuti agama ini”. Perkataan Ali ini untuk menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya : “Tuan sudah menyalahi dengan si Anu ?”.

Maka tidaklah layak untuk berkeberatan menentang orang masa sekarang, buat menyetujui orang masa Rasulullah saw. Manusia sebenarnya berpendapat dengan pendapat pada masanya, karena tabiatnya condong kepadanya. Dan dirinya tidak mau mengakui bahwa cara yang demikian, menyebabkan tidak memperoleh sorga.

Dari itu, serukanlah bahwa jalan ke sorga, tak lain dari itu. Sebab itu, Al-Hasan berkata : “Dua orang yang mengada-adakan dalam Islam : seorang yang mempunyai pendapat jahat, lalu mendakwakan bahwa sorga itu adalah untuk orang yang berpendapat seperti pendapatnya. Dan seorang lagi yang boros penyembah dunia, marah dia karena dunia, senang dia karena dunia. Dunialah yang dicarinya. Maka lemparkanlah kedua orang itu ke dalam neraka!

Dibalik itu, ada orang di dunia ini, antara pemboros yang mengajaknya kepada dunia dan yang berhawa nafsu yang mengajaknya

kepada hawa nafsu. Maka Allah Ta’ala memeliharakannya dari kedua orang tadi, dimana ia merindui salaf-salaf yang salih. Dia menanyakan perbuatan mereka dan mengikuti jejak mereka. Orang ini memperoleh pahala besar. Begitulah hendaknya kamu sekalian”.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, hadits mauquf dan musnad, bahwa Nabi صلى الله عليه وسلم. bersabda :وقد روي عن ابن مسعود موقوفا ومسندا أنه قالإنما هما اثنتان الكلام والهدى فأحسن الكلام كلام الله تعالى وأحسن الهدى هدى رسول الله تعالى صلى الله عليه وسلم ألا وإياكم ومحدثات الأمور فإن شر الأمور محدثاتها وأن كل محدثة بدعة وإن كل بدعة ضلالة ألا لا يطولن عليكم الأمد فتقسوا قلوبكم ألا كل ما هو آت قريب ألا إن البعيد ما ليس بآت

(Innamaa humatsnataani: alkalaamu wal hudaa. Fa-ahsanul kalaami kalaamullaahi Ta’aalaa wa ahsanul hudaa hudaa Rasulillaahi shallallaahu ‘alaihi wa sallam.Alaa wa iyyaakum wa muhdatsaatil umuuri fa-inna syarral umuuri muhdatsaatuhaa wa inna kulla muh-datsatin bid’atim, wa inna kulla bid’a tin dlalaalah. Alaa laa yathuu-lanna ‘alaikumul amadu fa-taqsuu quluubukum. Alaa kullu maa huwa aatin qariibun. Alaa innal ba’iida maa laisa biaatin).Artinya :”Sesungguhnya dua itulah : kalam dan petunjuk. Yang sebaik-baik kalam (perkataan) yaitu ; kalam Allah Ta’ala. Dan yang sebaik-baik petunjuk yaitu : petunjuk Rasulullah  صلى الله عليه وسلم Ketahuilah! Bahwa kamu harus awas dari hal-hal yang diadakan. sejahat-jahat hal, ialah yang diada-adakan. Dan tiap-tiap yang diada-adakan itu bid’ah. Tiap-tiap bid’ah itu sesat. Ketahuilah! Janganlah berlama-lama kamu di dalam bid’ah, maka kesatlah hatimu. Ketahuilah! Tiap-tiap yang akan datang itu dekat. Ketahuilah! Bahwa yang jauh itu, ialah sesuatu yang tidak-akan datang”. (1)

Dalam suatu pidato Rasulullahصلى الله عليه وسلم  ialah : “Amat baiklah orang yang memperhatikan akan kekurangan dirinya, tidak memperhatikan kekurangan orang lain. Berbelanja dari harta yang diusahakannya tidak pada jalan ma’siat. Bergaul dengan ahli fiqih dan ahli

1.Dirawikan Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud.

hukum dan menjauhkan dirinya dari ahli sesat dan ma’siat. Amat baiklah orang yang merendahkan diri, baik budi pekerti, bagus bathin dan terpelihara manusia lain dari kejahatannya. Amat baiklah orangyang berbuat menurut ilmunya, berbelanja pada kebajikan yang lebih dari hartanya, menahan yang tidak perlu dari perkataannya. Sunnah Nabi berkembang dalam dadanya dan tidak dibawanya kepada bid’ah”, (1)

Ibnu Mas’ud ra. pernah berkata : “Petunjuk yang baik pada akhir zaman adalah, lebih baik dari banyak amal perbuatan”. Dan berkata Ibnu Mas’ud pada tempat yang lain : “Kamu sekarang pada masa dimana orang-orang baik dari kamu bersegera dalam segala pekerjaan. Dan akan datang sesudahmu nanti suatu masa, dimana orang-orang baik dari mereka, teguh lagi berhati-hati mengerjakan sesuatu, karena banyaknya perbuatan syubhat (yang diragukan halal-haramnya)”.

Memang benarlah ucapan Ibnu Mas’ud itu! Siapa yang tidak berhati-hati pada masa sekarang, lalu mengikuti saja orang banyak dan berkecimpung dalam perbuatan yang dikerjakan mereka, niscaya binasa sebagaimana mereka itu binasa.

Berkata Huzaifah ra. : “Yang lebih mengherankan dari ini, ialah perbuatan yang baik dari kamu pada hari ini adalah munkar pada zaman yang lampau. Dan yang munkar dari kamu pada hati ini adalah baik pada zaman yang selam. Sesungguhnya kamu senantiasa dalam kebajikan, selama kamu mengenai akan yang benar. Dan orang yang berilmu dari kamu, tidak meringan-ringankan yang benar itu”.

Sungguh benarlah Huzaifah! Memang kebanyakan perbuatan yang dipandang baik sekarang, adalah munkar pada masa para shahabat Nabiصلى الله عليه وسلم.Karena kebanyakan yang dipandang baik pada masa kita ini, ialah menghiasi masjid-masjid, membaguskannya, mengeluarkan harta banyak dalam pembangunan bahagiannya yang kecil-kecil dan membentangkan permadani yang empuk di dalamnya.

Dan sesungguhnya terhitung dalam perbuatan bid’ah, membentangkan permadani di dalam masjid. Dikatakan, itu adalah termasuk perbuatan yang diada-adakan oleh orang-orang yang mengerjakan hajji. Adalah orang-orang dahulu itu, sedikit sekali yang membuat batas antara mereka dan tanah.

1.Dirawjkan Abu Na’im dari Al-Husain bin Ali dengan sanad dla’if.

Begitu pula, kesibukan dengan perdebatan dan pertengkaran dalam soal yang kecil-kecil, termasuk diantara ilmu yang paling mulia bagi orang zaman sekarang. Dan mendakwakannya termasuk diantara perbuatan yang terbesar untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala. Pada hal itu, termasuk dalam perbuatan yang munkar.

Diantara yang munkar juga mengobah-obah (talhin) bacaan Al-Qur’an dan adzan. Diantara yang munkar juga, membanyakkan pemakaian air pada pembersihan diri, was-was (selalu ragu saja) waktu bersuci, menyangka sebab yang bukan-bukan mengenai najis kain, sedangkan dalam pada itu tidak mementingkan antara halalnya dan haramnya makanan yang dimakan. Dan begitulah seterusnya.

Benarlah kiranya Ibnu Mas’ud ra. yang mengatakan : “Kamu pada hari ini dalam zaman, dimana hawa nafsu mengikuti ilmu. Dan akan datang kepadamu nanti suatu zaman, dimana ilmu mengikuti hawa nafsu”.

Imam Ahmad bin Hanbal pernah berkata : “Mereka meninggalkan ilmu dan menuju kepada yang ganjil-ganjil, di mana ilmu itu tidak kurang pada mereka. Kiranya Allah menolong mereka dari keadaan itu!”.

Berkata Imam Malik bin Anas ra. : “Orang-orang pada masa dahulu, tidak menanyakan tentang hal-hal ini, seperti yang ditanyakan orang-orang pada masa sekarang. Dan ulamanya tidak mengatakan yang haram dan yang halal. Tetapi saya jumpai mereka itu mengatakan, yang sunnah dan yang makruh”.

Artinya, mereka itu memandang kepada yang sehalus-halusnya dari perbuatan makruh dan sunnah. Sedang perbuatan yang haram, keburukannya sudah nyata.

Hisyam bin ‘Urwah pernah berkata : “Jangan engkau tanyakan mereka hari ini tentang sesuatu yang diada-adakannya oleh diri mereka itu sendiri. Karena untuk itu mereka telah menyediakan jawabannya. Tetapi tanyakanlah mereka mengenai sunnah sebab mereka tidak mengetahuinya”.

Abu Sulaiman Ad-Darani pernah berkata : “Tidak sewajarnyalah bagi orang yang memperoleh ilham sesuatu kebajikan, lalu terus mengerjakannya, sebelum lagi mendengar hal itu pada atsar. Maka ia memuji akan Allah Ta’ala, karena ilham itu sesuai dengan apa yang pada dirinya”.Abu Sulaiman ra. mengatakan demikian karena pendapat-pendapat yang diada-adakan itu memang menarik perhatian dan melekat di dalam hati. Oleh karenanya, kadang-kadang mengotorkan kebersihan hati, lalu menyangka yang batil itu benar. Dari itu harus dijaga dengan hati-hati, dengan membuktikannya dengan atsar-atsar.

Karena inilah, tatkala Khalifah Marwan mengadakan mimbar pada shalat hari raya di sisi tempat bershalat, lalu bangun Abu Sa’id Al-Khudri ra. seraya berkata: “Hai Marwan! Bukan kah ini bid’ah?”.

“Tidak!”, menjawab khalifah Marwan. “Ini tidak bid’ah, tetapi lebih baik daripada yang tuan ketahui.Sesungguhnya orang sudah banyak sekali. Maka maksudku supaya suara itu sampai kepada mereka “i

Menyambung Abu Sa’id : Demi Allah! Tidaklah sekali-kali kamu mendatangkan yang baik, dari apa yang aku ketahui selama ini. Wallah demi Allah! Tidaklah akan aku bershalat di belakangmu hari ini”.

Sesungguhnya Abu Sa’id menantang Khalifah Marwan dalam peristiwa tadi, disebabkan كان يتوكأ في خطبة العيد والاستسقاء على قوس أو عصا “Rasulullah صلى الله عليه وسلم. dalam khutbah hari raya dan khutbah sembahyang meminta hujan, memegang busur atau tongkat, tidak atas mimbar”. (1)

Pada suatu hadits yang terkenal. tersebut:

من أحدث في ديننا ما ليس منه فهو رد

(Man ahdatsa fii diininaa maa laisa minhu fahuwa raddun).

Artinya :”Barang siapa mengada-adakan dalam agama kita sesuatu yang tidak di dalamnya, maka tertolak “. (2)

Pada hadits yang lain, tersebut:

من غش أمتي فعليه لعنة الله والملائكة والناس أجمعين

 (Man ghasy-sya ummatii fa’alaihi la’natullaahi wal malaaikati wan-naasi ajma’in).

Artinya :”Barang siapa membohongi ummatku, maka atasnya la’nat Tuhan, malaikat dan seluruh manusia”. (3)

1.Dirawikan AtThabrani dari Al Barra dan ini Hadis Dlaif.

2.Dirawikan Bukhari Dan Muslim Dari Aishah

3..Dirawikan dari Ad Daraqutni dengan SanadDlaif sekali.

Lalu orang bertanya : “Ya Rasulullah! Bagaimanakah orang membohongi ummatmu?”.

Nabiصلى الله عليه وسلم.menjawab : “Yaitu diada-adakannya sesuatu bid’ah,lalu dibawanya manusia kepadanya”

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم . :

إن لله عز وجل ملكا ينادى كل يوم من خالف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم لم تنله شفاعته

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai seorang malaikat yang menyerukan setiap hari : “Barang siapa menyalahi sunnah Rasulullah saw. maka dia tidak akan memperolah syafa’atnya”. (1)

Orang yang menganiaya agama dengan mengada-adakan sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, dibandingkan dengan orang yang berbuat dosa, adalah seumpama orang yang mendurhakai raja dengan menjatuhkan pemermtahannya, dibandingkan dengan orang yang melawan perintahnya dalam suatu perintah yang tertentu. Perlawanan itu kadang-kadang diampuninya. Tetapi menjatuhkan pemermtahannya tidaklah diampuni.

Berkata setengah ulama : “Apa yang dikatakan salaf, maka berdiam diri daripadanya adalah suatu kekasaran. Dan apa yang didiamkan salaf, maka membicarakannya adalah memberat-beratkan diri”.

Berkata ulama yang lain : “Kebenaran itu berat. Orang yang mele-wati garisnya, telah menganiaya diri. Orang yang memendekkan-nya, adalah lemah. Dan orang yang berdiri teguh pada kebenaran itu, adalah mencukupi”.

Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم saw. :عليكم بالنمط الأوسط الذي يرجع إليه العالي ويرتفع إليه التالي (‘Alaikum binnamathil au-sathilladzii yarji’u ilaihil ‘aalii wa yartafi’u ilaihit taalii).

Artinya :”Haruslah kamu di garis yang di tengah yang kembali kepadanya yang di atas dan yang naik kepadanya yang berikutnya”. (2)

Berkata Ibnu Abbas ra. :الضلالة لها حلاوة في قلوب أهلها  “Kesesatan itu manis dalam hati orang-orangnya”.

1.Menurut Al Iraqi , tidak menemui Hadis Ini.

2.Dirawikan Ubain dari Ali Bi Abi Thalib, Hadis Mauquf Pada Ali.

Berfirman Allah Ta’ala :

وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا وَلَهْوًا

(Wa dzarilladziinat-takhadzuu diinahum la’iban wa lahwa). Artinya :

“Tinggalkanlah mereka yang membuat agamanya permainan dan senda-gurau”.

(S.Al-An’am, ayat 70).

Allah Ta’ala berfirman :

أَفَمَنْ زُيِّنَ لَهُ سُوءُ عَمَلِهِ فَرَآهُ حَسَنًا

(Afaman zuyyina lahuu suu-u ‘amalihi fara-aahu hasanan).

Artinya : “Adakah orang yang dihiasi perbuatannya yang buruk, lalu perbuatannya yang buruk itu dianggapnya baik”. (S. Fathir, ayat 8).

Segala apa yang diada-adakan sesudah para shahabat ra. yang melewati batas dharurat dan keperluan, maka itu termasuk diantara permainan dan senda-gurau.

Diceriterakan tentang Iblis yang kena kutukan Tuhan, bahwa Iblis itu mengirimkan tentaranya pada masa shahabat ra. Maka kembali-Iah tentara itu kepada Iblis dengan perasaan menyesal.

Bertanya Iblis : “Apa kabar kamu sekalian?”.

Tentara Iblis itu menjawab : “Belum pernah kami melihat seperti mereka itu. Kami tidak memperoleh sesuatu dari mereka. Mereka telah meletihkan kami.”

Maka menyambung Iblis itu : “Rupanya kamu tidak sanggup menghadapi mereka, dimana mereka telah menyertai nabinya dam menyaksikan turun wahyu dari Tuhannya. Tetapi sesudah mereka itu nanti, akan datang suatu kaum yang akan kamu peroleh hajatmu dari mereka”.

Tatkala datang masa tabi’in, Iblis itu mengirimkan lagi bala tentaranya. Itupun tentara Iblis itu kembali dengan tangan kosong. Mereka itu berkata : “Belum pernah kami melihat yang lebih mena’jubkan dari mereka. Kami peroleh satu demi satu dari dosa mereka. Tetapi apabila sore hari, lalu mereka bermohon ampun (bertaubat kepada Tuhan). Maka digantikan oleh Allah kejahatan mereka dengan kebajikan”.

Menyambung Iblis itu lagi: “Kamu tidak akan memperoleh sesuatu daripada mereka, karena ketauhidan mereka itu benar dan karena teguhnya mereka mengikuti nabinya. Tetapi akan datang sesudah mereka nanti, suatu kaum yang senang hatimu melihat mereka. Kamu dapat mempermain-mainkan mereka dan mengajak mereka menuruti hawa nafsunya, menurut kemauanmu. Kalau mereka meminta ampun, maka tidak akan diampunkan. Dan mereka tidak akan bertaubat. Maka kejahatannya digantikan oleh Tuhan dengan kebajikan”.

Berkata Iblis itu seterusnya : “Sesudah qurun pertama, maka datanglah suatu kaum, lalu bergeraklah hawa nafsu pada mereka dan berhiaslah mereka dengan perbuatan-perbuatan bid’ah. Maka mereka itu memandang yang bid’ah itu halal dan membuatnya menjadi agama. Tidak pernah mereka memohon ampun dan bertaubat daripadanya. Maka mereka dikuasai oleh musuh-musuhnya dan dihalaukannya kemana saja dikehendaki oleh musuh-musuhnya”.

Kalau anda bertanya : “Dari manakah orang yang menerangkan tadi, mengetahui apa yang dikatakan Iblis, pada hal ia tidak melihat Iblis dan tidak berbicara dengan Iblis tentang yang demikian itu?”.

Maka ketahuilah kiranya, bahwa orang-orang yang mempunyai hati, terbuka bagi mereka segala rahasia alam ghaib (alam malakut), sekali dengan jalan ilham, dengan melintas datang kepada mereka dari arah yang tidak diketahuinya. Sekali dengan jalan mimpi yang benar. Dan sekali sedang jaga (tidak-tidur), dengan jalan terbuka segala pengertian dengan menyaksikan contoh-contoh, seperti yang dalam tidur tadi.

Dan inilah tingkat yang tertinggi, yaitu : sebahagian dari tingkat-tingkat kenabian yang tinggi, sebagaimana mimpi yang benar, adalah suatu bahagian dari empat puluh enam bahagian dari kenabian.

Maka hati-hatilah, bahwa ada bahagianmu dari ilmu ini, menging-kari apa yang melewati batas kesingkatan pahammu!.

Dalam hal ini, telah banyak binasa ‘alim ulama yang mengaku dirinya pandai, menda’wakan telah menguasai seluruh ilmu akal.

Maka bodoh adalah lebih baik dari akal, yang mengajak kepada menantang seperti hal-hal tersebut, yang dipunyai wali-wali Allah.

Orang yang mengingkari hal itu bagi wali-wali, mengakibatkan dia telah mengingkari nabi-nabi. Dan adalah ia keluar dari Agama seluruhnya.

Berkata setengah ‘arifin (orang yang mempunyai ma’rifah kepada Allah Ta’ala) : “Sesungguhnya telah habis orang-orang al-abdal disegala penjuru bumi. Mereka bersembunyi dari mata orang banyak, kerena tidak sanggup melihat ulama zaman sekarang. Karena mereka itu betul-betul sudah jahil terhadap Allah Ta’ala. Sedang mereka menurut pengakuannya sendiri dan pengakuan orang-orang bodoh, adalah ulama”.

Berkata Sahl At-Tusturi ra. : “Diantara ma’siat yang terbesar, ialah tak tahu di bodoh diri, memandang kepada orang awwam dan mendengar perkataan orang Ialai. Tiap-tiap orang ‘alim yang telah berkecimpung dalam urusan duniawi, maka tidak wajar lagi perkataannya didengar. Tetapi hendaklah dicurigai dari tiap-tiap perkataan yang diucapkannya. Karena tiap-tiap manusia itu berkecimpung pada apa yang disukainya dan menolak apa yang tidak bersesuaian dengan yang disukainya”.

Karena itu, berfirman Allah Ta’ala :

وَلا تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ أَمْرُهُ فُرُطًا

(Wa laatuthi man aghfalnaa qalbahuu ‘an dzikrinaa wattaba’a hawaa-hu wa kaana amruhuu furuthaa).

Artinya :”Dan janganlah engkau turut orang yang Kami lalaikan hatinya dari mengingati Kami dan diturutinya keinginan nafsunya dan pekerjaannya biasanya di luar batas “. (S. Al-Kahf, ayat 28).

Orang awwam yang ma’siat, keadaannya lebih berbahagia dari orang yang bodoh dengan jalan agama, yang mengakui dirinya ulama. Karena orang awwam yang ma’siat itu mengakui keteledorannya. Lalu meminta ampun dan bertaubat. Dan orang bodoh ini, yang menyangka dirinya berilmu, maka ilmu yang dipelajarinya, ialah pengetahuan yang menjadi jalan baginya kepada dunia, tersisih dari jalan agama. Lalu ia tidak bertaubat dan meminta ampun. Tetapi senantiasa berpegang kepadanya, sampai mati. Dan apabila ini telah memenangi pada kebanyakan manusia, kecuali orang-orang yang dipelihara oleh Allah Ta’ala, dan putuslah harapan untuk memperbaiki orang-orang tersebut, maka yang lebih raenye-lamatkan bagi orang yang beragama, yang menjaga diri, ialah : mengasingkan diri dan sendirian, sebagaimana akan datang penjelasannyapada “Kitab ‘Uzlah ” nanti insya Allah.

Karena itulah Yusuf bin Asbath menulis surat kepada Huzaifah Al-Mar’asyi, yang isinya antara lain : “Apakah persangkaan tuan dengan orang yang tidak memperoleh seorangpun, yang tidak mengingati Allah Ta’ala bersama dia melainkan adalah orang itu berdosa atau pembicaraannya adalah ma’siat saja? Dan yang demikian, sesungguhnya dia tidak memperoleh temannya”.

Benarlah apa yang dikatakan Yusuf itu. Karena dalam bergaul dengan manusia, tidaklah terlepas dari upatan atau mendengar upatan atau berdiam diri atas perbuatan munkar.

Keadaan yang sebaik-baik nya, ialah orang itu membuat ilmunya berfaedah kepada orang lain atau mengambil faedah dari ilmu yang ada pada orang lain.

Orang yang patut dikasihani ini, kalau memperhatikan dan mengetahui bahwa memanfa’atkan ilmunya itu kepada orang, tidaklah terlepas dari bercampur dengan ria, ingin.harta dan jadi kepala, niscaya tahulah dia bahwa orang yang mengambil faedah dari ilmunya bermaksud menjadikan ilmu itu sebagai alat untuk mencari dunia dan jalan kepada kejahatan.

Berdasarkan itu, maka adalah dia menolong kearah itu, membantu dan menyiapkan sebab-sebab, seperti, orang yang menjualkan pedang kepada perampok. Maka ilmu itu adalah seperti pedang. Kepatutannya bagi kebajikan, adalah seperti kepatutan pedang bagi perang.

Dari itu tidak diperbolehkan menjual pedang itu kepada orang yang diketahui menurut keadaannya, mau mempergunakan pedang itu untuk merampok.

Maka inilah dua belas tanda ulama akhirat! Masing-masing dari padanya mengumpulkan sejumlah budi pekerti ulama terdahulu (ulama salaf).

Dari itu, hendaklah kamu menjadi salah seorang dari dua : adakala-nya bersifat dengan sifat-sifat itu atau mengaku dengan keteledoran secara sadar. Awaslah, jangan engkau menjadi orang ketiga, maka engkau ragu kepada diri sendiri dengan engkau gantikan alat dunia dengan agama. Engkau serupakan perjalanan hidup orang-orang batil dengan perjalanan hidup ulama-ulama yang mendalam pengetahuannya. Maka termasuklah engkau disebabkan kebodohan dan keingkaran engkau, ke dalam golongan orang yang binasa dan putus asa.

Berlindunglah kita dengan Allah swt. dari tipuan setan yang menyebabkan orang banyak binasa. Kita bermohon kepada Allah Ta’ala semoga dijadikanNya kita diantara orang-orang yang tidak ditipu oleh kehidupan duniawi. Dan tidak ditipu oleh penipu pada jalan Allah!.

Please support us:
5