Print
PDF

PENJELASAN: keutamaan fakir atas kaya

IHYA ULUMIDDIN JILID 4 PENJELASAN: keutamaan fakir atas kaya.


Ketahuilah kiranya, bahwa berbeda pendapat orang ten tang im. AI-Junaid, Ibrahim Al-Khawwash dan kebanyakan para ulama tasawwuf, beraliran kepada: melebihkan fakir. Ibnu 'Atha' berkata: "Orang kaya yang bersyukur, yang berdiri dengan kebenarannya itu lebih utama dari orang fakir yang sabar".


Dikatakan, bahwa AI-Junaid mendo'akan at as Ibnu 'Atha', karena ia berlainan paham dengan Ibnu ' Atha' dalam hal ini, maka kenalah Ibnu 'Atha' dengan bencana. Dan telah kami terangkan yang demikian pad a Kitab Sabar dan cara berlebih-kurang di antara sabar dan syukur. Dan kami siapkan jalan mencari keutamaan pada amal dan hal-ihwal. Dan yang demikian itu tidak mungkin, selain dengan penguraian.

Adapun fakir dan kaya, apabila dipahami keduanya secara mutlak, OIseaya tidak mendatangkan keraguan kepada orang yang membaca hadits dan. atsar ten tang pengutamaan fakir. Dan tak boleh tidak padanya daripada penguraian. Maka kami katakan:
Sesungguhnya, tergambarlah keraguan pada dua tingkat:

Pertama: fakir yang sabar, yang tidak rakus mencari. Akan tetapi, dia bersifat al-qana'ah atau redha, dengan dibandingkan kepada orang kaya, yang membelanjakan hartanya pada jalan kebajikan, yang tidak rakus menahan harta.


Kedua: fakir yang rakus, bersama orang kaya yang rakus. Karena tidaklah tersembunyi, bahwa orang fakir yang bersifat al-qana'ah itu lebih utama dari orang kaya, yang loba, yang menahan hartanya. Dan orang kaya yang membelanjakan. hartanya pad a jalan kebajikan itu lebih utama dari orang fakir yang rakus.
Adapun yang pertama, maka kadang-kadang disangkakan bahwa orang kaya itu lebih utama dari orang fakir. Karena keduanya bersamaan ten tang kelemahan kerakusan atas harta. Dan orang kaya itu mendekatkan diri kepada Allah, dengan sedekah dan amal kebajikan. Dan orang fakir itu lemah daripadanya. Dan inilah yang disangkakan oleh Ibnu 'Atha', menurut yang kami perkirakan.


Adapun orang kaya yang bersenang-senang dengan hartanya, walaupun pad a jalan yang diperbolehkan (mubah), maka tidaklah tergambar, bahwa ia diutamakan atas orang fakir yang bersifat al-qana'ah (al-qani'). Kadang¬kadang disaksikan bagi yang demikian, oleh apa yang dirawikan pada hadits, bahwa: orang-orang fakir mengadu kepada Rasulullah s.a.w. akan dahulunya orang-orang kaya dengan amal kebajikan, sedekah, hajji dan jihad. Maka Nabi s.a.w. mengajarkan orang-orang fakir tersebut akan kalimat-kalimat tasbih. Dan beliau menyebutkan kepada mereka, bahwa mereka memperoleh dengan kalimat-kalimat itu, di at as apa yang diperoleh orang-orang kaya. Lalu dipelajari oleh orang-orang kaya yang demikian, maka mereka mengueapkannya. Lalu orang-orang fakir itu kembali kepada Rasulullah s.a.w. dan menerangkan yang demikian kepada beliau. Maka Nabi s.a.w. menjawab:



(Dzaalika fadl-lullaahi yu'-tiihi man yasyaa-u).
Artinya: "Yang demikian itu kurnia Allah, yang diberikanNYA kepada siapa yang dikehendakiNYA".[ Disepakati oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abi Hurairah].
Dan telah dibuktikan pula oleh Ibnu 'Atha', tatkala ia ditanyakan dari yang demikian. Lalu ia menjawab: "Kaya itu lebih utama, karena itu sifat kebenaran" .


Adapun dalilnya yang pertama, maka padanya ada penilikan. Karena hadits telah datang yang menguraikan, dengan uraian yang menunjukkan kepada sebaliknya dari yang demikian. Yaitu, bahwa pahala orang fakir pada membaeakan tasbih itu melebihi di atas pahala orang kaya. Dan kemenangan mereka dengan pahala itu kumia Allah, yang diberikanNYA kepada siapa yang dikehendakiNYA.


Diriwayatkan oleh Zaid bin Aslam dari Anas bin Malik r.a. yang mengakan "Orang-orang fakir mengutus seorang utusan kepada Rasulullah SAW. Utusan itu berkata: "Bahwa aku utusan orang-orang fakir kepada engkau.”


Nabi s.a.w. menjawab:



(Marhaban bika wa bi man ji'-ta min-'indihim qaumun uhibbuhum). Artinya: "Selamat datang engkau dan orang yang engkau datang dari pihak mereka, suatu golongan yang aku cintai".     
Utusan itu berkata: Para orang fakir itu mengatakan: “Wahai Rasulullah! Bahwa orang-orang kaya itu menjalani kebajikan. Mereka mengerjakan haji dan kami tidak sanggup mengerjakannya. Mereka mengerjakan 'umrah dan kami tidak sanggup mengerjakannya. Dan apabila mereka itu sakit, mereka mengutuskan dengan kelebihan harta mereka, akan simpanan amal bagi mereka".


Lalu Nabi s.a. w. menjawab: "Sampaikanlah kepada orang-orang fakir itu daripadaku, bahwa bagi orang yang sabar daripada kamu dan berbuat karena Allah, mempunyai tiga perkara, yang tidak ada bagi orang-orang kaya. Adapun perkara yang satu, maka sesungguhnya dalam sorga itu kamar-kamar yang dipandang kepadanya oleh penghuni sorga, sebagaimana penghuni bumi memandang kepada bintang-bintang di langit, tiada masuk kedalam sorga itu, selain nabi yang fakir atau orang syahid yang fakir atau orang mu'min yang fakir. Dan yang kedua: orang-orang fakir itu masuk sorga sebelum orang-orang kaya dengan setengah hari. Yaitu: limaratus tahun. Dan yang ketiga: apabila orang kaya membaca:



(Subhaanallaahi wal-hamdulillaahi wa laa ilaaha illallaahu wal-Iaahu akbaru).
Artinya: "Mahasuci Allah, segala pujian bagi Allah, tiada yang disembah, selain Allah dan Allah mahabesar". Dan orang fakir membacakan seperti yang demikian, niseaya orang kaya itu tidak disamakan dengan orang fakir. Dan walaupun ia membelanjakan padanya sepuluh ribu dirham. Dan seperti itu juga amal-amal kebajikan seluruhnya" .
Maka utusan itu kembali kepada orang-orang fakir yang mengutusnya. Dan menerangkan kepada mereka, apa yang dikatakan oleh Rasulullah s.a. w. Lalu orang-orang fakir itu menjawab: "Kami rela, kami rela".[Menurut AI-Iraqi, beliau tiada menjumpai, dengan bentuk demikian].


Maka ini menunjukkan, bahwa sabda Nabi s.a.w.:



(Dzaalika fadl-Iul-Iaahi yu'-tiihi man yasyaa-u).

Artinya: "Yang demikian itu kurnia Allah, yang diberikanNYA kepada siapa yang dikehendakiNYA".


Artinya: bertambahnya pahala orang-orang fakir atas dzikir mereka. Adapun kata lbnu 'Atha': bahwa kaya itu sifat AI-Haqq (Tuhan Yang Maha Benar), maka telah dijawab oleh sebahagian syaikh, yang mengatakan: "Adakah engkau berpendapat bahwa Allah Ta'ala itu kaya dengan sebab-sebab dan sifat-sifat? Maka terputuslah Ibnu 'Atha' perkataannya dan tidak sanggup menjawab".


Ulama yang lain menjawab dengan mengatakan: "Bahwa takabbur (membesarkan diri) itu termasuk sifat-sifat Al-Haqq, maka sayogialah menjadi lebih utama dari tawadhu' (merendahkan diri)". Kemudian, mereka itu menyambung lagi: "Akan tetapi, ini menunjukkan bahwa fakir itu lebih utama. Karena sifat-sifat kehambaan itu lebih utama bagi hamba. Seperti: takut dan harap. Dan tiada sayogialah sifat-sifat ketuhanan itu dipertengkarkan. Dan karena itulah, Allah Ta'ala berfirman, menurut apa yang diriwayatkan oleh Nabi kita s.a.w. daripadaNYA:



(AI-kibriyaa-u ridaa-ii wal- 'adhamatu izaari, fa man naaza- 'anii waahidan min-humaa qasham-tuhu).

Artinya: "Kebesaran itu selendangKU dan keagungan itu kain-sarungKU. Maka siapa yang bertengkar dengan AKU pad a salah satu daripadanya. niscaya AKU patahkan dia". [Hadits ini telah diterangkan dahulu pada "Bab Tercelanya Takbur]


Sahal berkata: "Cinta kepada kemuliaan dan kekekalan itu syirik (kese¬kutuan) pada ketuhanan dan pertengkaran padanya. Karena keduanya itu termasuk sifat Tuhan Yang Maha Tinggi".


Dari jenis ini, mereka memperkatakan pada melebihkan kaya dan fakir. Dan hasilnya yang demikian itu menyangkut dengan ke-umum-an yang menerima penta'-wilan. Dan dengan kalimat-kalimat yang pendek, yang tidak jauh pertentangannya. Karena, sebagaimana bertentangan perkataan orang, yang melebihkan kaya, disebabkan sifat AI-Haqq dengan takabbur, maka seperti demikian juga, bertentangan perkataan orang yang mencela kaya. Karena sifat hamba, dengan ilmu dan ma'rifah itu, sesungguhnya sifat Tuhan Yang Maha Tinggi. Bodoh dan lengah, itu sifat hamha.


Dan tidaklah bagi seseorang, bahwa meletihkan lengah atas ilmu. Maka menyingkapkan tutup dari ini, ialah apa yang telah kami sebutkan pada Kitab Sabar. Yaitu: bahwa apa yang tidak dimaksudkan bagi benda itu sendiri, akan tetapi dimaksudkan untuk yang lain. maka sayogialah bahwa disandarkan kepada maksudnya. Karena dengan demikian. Lahirlah keutamaannya. Dan dunia itu tidaklah ditakutkan bagi diri dunia itu sendiri. Akan tetapi, karena dunia Itu menghalangi sampai kepada Allah Ta’ala. Dan tidaklah fakir itu dicari karena sifat fakir itu sendiri. Akan tetapi, karena pada fakir itu tidak ada yang menghalangi kepada Allah Ta'ala dan tidak ada yang membimbangkan kepadaNYA. Dan banyak orang kaya, yang tidak dibimbangkan oleh kekayaan dari mengingati Allah 'Azza wa Jalla. Seperti nabi Sulaiman a.s .. Usman bin Affan dan Abdurrahman bin 'Auf r.a. Dan berapa banyak orang fakir, yang dibimbangkan oleh kefakiran dan memalingkannya dari maksud. Dan tujuan maksud dalam dunia, ialah mencintai Allah Ta'ala dan menjinakkan hati kepadaNYA. Dan tidak ada yang demikian itu selain sesudah mengenaliNYA. Dan menempuh jalan mengenaliNYA itu serta dengan kebimbangan-kebimbangan tidak mungkin. Dan kefakiran itu kadang-kadang termasuk sebahagian yang membimbangkan. Sebagaimana kaya kadang-kadang termasuk sebahagian dari yang membimbangkan. Dan yang membimbangkan itu sesungguhnya adalah kecintaan kepada dunia. Karena, tidak berkumpul serta kecintaan kepada dunia akan kecintaan kepada Allah dalam hati. Dan orang yang mencintai sesuatu itu disibukkan oleh yang dicintainya. Baik waktu ia berpisah dengan yang dicintai itu atau pada waktu ada huhungannya. Kadang-kadang kesibukan dengan yang dicintai pada waktu berpisah itu Iehih hanyak Dan kadang-kadang kesibukan pada waktu ada hubungannya itu lebih hanvak. Dan dunia itu mengasyikkan bagi orang-orang yang lalai, yang tidak memperolehnya dan sibuk mencarinya. Dan orang yang sanggup memperoleh dunia itu sibuk memeliharanya dan bersenang-senang dengan dia. Jadi, kalau anda umpamakan, orang kaya dan orang miskin itu kosong hatinya daripada mencintai harta, dimana harta itu pada keduanya sama seperti air, niscaya samalah antara orang yang tidak mendapat dengan orang yang mendapat. Karena masing-masing tidak bersenang-senang melainkan sekadar hajat. Dan adanya sekadar hajat itu lebih utama daripada tidak adanya. Karena orang yang lapar itu menjalani jalan mati. Tidak jalan ma'rifah.


Dan kalau anda mengambil urusan dengan memandang yang Iebih besar. Maka orang fakir itu lebih jauh dari bahaya. Karena fitnah kesenangan lebih berat dari fitnah kemelaratan. Dan dari terpeliharanya diri itu adalah tidak dapat disanggupi seluruhnya.Dan karena itulah para shahabat berkata: "Kami dicoba  dengan fitnah kemelaratan, maka kami sabar. Dan kami dicoba dengan fitnah kesenangan, maka kami tidak sabar".


Ini adalah kejadian anak Adam seluruhnya, kecuali sedikit yang jarang terjadi, yang tidak diperoleh pada banyak waktu, selain sangat sedikit. Dan tatkala ucapan Agama adalah untuk semua, tidak kepada yang jarang terjadi dan kemelaratan itu lebih pantas untuk semua, tidak yang jarang terjadi itu, maka Agama mencegah dari kekayaan dan mencelanya. Mengutamakan kemiskinan dan memujikannya. Sehingga Isa AI-Masih a.s. berkata: "Janganlah kamu memandang kepada harta penduduk dunia Sesungguhnya kilat harta mereka akan hilang dengan cahaya imanmu".


Sebahagian ulama berkata: "Berbalik-baliknya harta itu menghisap kemanisan iman".


Tersebut pada hadits:



(Inna li-kulli ummatin-'ijlan wa-'ijlu haadzihil-ummatid-diinaaru wad dirhamu).
Artinya: "Setiap umat itu mempunyai anak lembu. Dan anak lembu umat ini dinar dan dirham".[ Dirawikan Abu Manshur Ad-Dailami dari Hudzaifah, dengan isnad ada yang tidak diketahui.].


Asalnya anak lembu kaum Musa itu dari pakaian emas dan perak juga. Dan samanya harta dan air, emas dan batu itu tergambar bagi nabi-nabi a.s. dan wali-wali. Kemudian sempurnalah bagi mereka yang demikian, sesudah kurnia Allah Ta'ala dengan lamanya mujahadah. Karena nabi s.a.w. mengatakan kepada dunia:



(llaiki- 'annii).
Artinya: "Kepada engkau, yang jauh dari aku".[ Dirawikan AI-Hakim].
Karena dunia itu merupakan dirinya bagi Nabi s.a.w. dengan perhiasannya.
Adalah Ali ra. berkata: "Hai yang kuning! Tipulah selain aku! Hai yang putih! Tipulah selain aku!".


Yang demikian itu, karena Nabi s.a.w. merasakan pada dirinya, tampak permulaan-permulaan ketertipuan dengan dunia itu. Kalau tidak ia melihat bukti dari Tuhannya. Dan yang demikian itu, ialah kaya mutlak. Karena Nabi s.a.w. bersabda:



Laisal-ghinaa- 'an kats-ratil 'aradhi. innamal-ghinaa ghinan-nafsi).
Ertinya: "Tidaklah kaya dari banyaknya harta benda. Sesungguhnya kaya itu kaya jiwa". [Disepakati hadits ini AI-Bukari dan Muslim dari Abi Hurairah.]


Apabila yang demikian itu jauh dari kejadian. Maka yang penting bagi umumnya makhluk, lalah: tidak adanya harta. Walau pun mereka bersedekah dan menyerahkan kepada jalan kebajikan dari harta  itu. Karena mereka tidak terlepas pada kemampuan atas harta, dari kejinakan hati dengan dunia. Bersenang-senang dengan kemampuan atas dunia dan merasakan kesenangan dengan pemberian dunia. Semua itu mewarisi kejinakan hati dengan alam ini. Dan dengan kadar apa yang menjadi kejinakan hati hamba dengan dunia itu. Meliarkan hatinya dari akhirat. Dan dengan kadar apa yang menjinakkan hati hamba, dengan salah satu dari sifat-sifatnya, selain sifat ma'rifah kepada Allah itu. meliarkan hatinya dari Allah dan dari mencintaiNYA. Dan manakala terputuslah sebab-sebab kejinakan hati dengan dunia, niscaya longgarlah hati dari dunia dan kembangnya. Dan hati, apabila longgar pada selain dari Allah Ta'ala dan ia beriman dengan Allah, niscaya pasti hati itu berpaling kepada Allah. Karena tidak tergambar bahwa hati itu kosong. Dan tidak ada pada wujud ini, selain Allah dan yang lain dari Allah. Maka siapa yang menghadapkan dirinya, kepada selain Allah, niscaya kosong hatinya dari Allah. Dan adalah menghadapnya hati kepada salah satu dari keduanya itu, menurut kadar kosongnya dari yang satu lagi. Dan mendekatnya hati kepada salah satu dari keduanya, adalah menurut jauhnya dari yang satu lagi. Contohnya ialah seperti: masyrik (tempat terbit matahari) dan maghrib (tempat terhenam matahari). Keduanya itu dua arah. Maka orang yang bulak-balik di antara keduanya. dengan kadar yang dekat dari saIah satu dari keduanya itu menjauh dari yang lain.


Bahkan diri kedekatan dari salah satu itulah diri kejauhan dari yang satu lagi. Maka diri kecintaan kepada dunia itulah diri kemarahan kepada Allah Ta'ala. Maka sayogialah bahwa penghalauan pandangan orang yang mengenal hatinya itu pada membujangnya (tidak mengawinkan) hati dengan dunia dan menjinakkannya.


Jadi, kelebihan orang fakir dan orang kaya itu menurut menyangkut hati keduanya dengan harta saja. Kalau keduanya sama tentang harta, niscaya darjat keduanya sama. Selain ini tergelincirnya tapak kaki dan tempat ketipuan.


Sesungguhnya orang kaya kadang-kadang disangka, bahwa hatinya terputus dari harta. Dan cintanya kepada harta itu terkubur dalam batiniyahnya. Dan ia tidak merasakannya. Hanya ia rasakan yang demikian, apabila harta itu tidak dimilikinya lagi.


Maka hendaklah ia mencoba dirinya dengan membagi-bagikan harta itu atau apabila hartanya dicuri orang. Maka kalau didapatinya hatinya berpaling kepada harta itu, maka tahulah dia bahwa dia itu tertipu. Berapa banyak orang yang menjual gundiknya. Karena disangkanya bahwa hatinya terputus dari gundik itu. Maka sesudah berlaku penjualan dan penyerahan budak wanitanya itu, lalu menyalalah dari hatinya api, yang tadinya tenang dalam hatinya. Maka yakinlah dia bahwa dia itu adalah tertipu. Dan kerinduan itu tersembunyi dalam hati, seperti tersembunyinya api dibawah abu. Dan ini adalah keadaan setiap orang kaya, selain nabi-nabi dan wali-wali.


Apabila yang demikian itu mustahil atau jauh dari kejadian, maka marilah kita katakan secara mutlak, bahwa fakir itu lebih patut bagi umumnya makhluk dan lebih utama. Karena hubungan orang fakir dan jinak hatinya kepada dunia itu lebih lemah. Dan dengan kadar kelemahan hubungannya itu bergandalah pahala ucapan tasbihnya dan ibadah-ibadahnya.


Bahwa gerakan lidah itu tidaklah dimaksudkan, untuk gerakan itu sendiri. Akan tetapi supaya kokoh dengan gerakan itu kejinakan hati dengan yang disebutnya.


Dan tidak ada pembekasannya pada mengobarkan kejinakan dalam hati yang kosong, tanpa penyebutan, seperti pembekasannya pada hati yang sibuk. Dan karena itulah, sebahagian salaf berkata: "Seperti orang yang beribadah dan dia itu pada mencari dunia adalah seperti orang yang memadamkan api dengan pelepah kurma. Dan seperti orang yang membasuh tangannya dari lemak dengan ikan".


Abu Sulaiman Ad-Darani r.a. berkata: "Bernafsunya orang fakir tanpa keinginan yang tidak disanggupinya adalah lebih utama dari ibadah orang kaya seribu tahun".


Dari Adh-Dhahhak yang mengatakan: "Siapa yang masuk ke pasar, lalu melihat sesuatu yang diingininya, maka ia sabar dan berniat karena Allah, niscaya lebih baik baginya dari seribu dinar yang dibelanjakannya seluruhnya pada jalan Allah Ta'ala".


Seorang laki-Iaki berkata kepada Basyar bin AI-Harits rh.a.: "Berdo'alah kepada Allah bagiku! Dan aku telah dimelaratkan oleh keluargaku". Basyar bin AI-Harits menjawab: "Apabila keluargamu mengatakan kepadamu: "Tidak ada pada kami tepung dan roti, maka berdo'alah kepada Allah bagiku pada waktu itu. Sesungguhnya do'amu lebih utama dari do'aku".


Basyar mengatakan: "Orang kaya yang beribadah itu seperti kebun di atas sampah. Dan orang fakir yang beribadah itu seperti ikatan mutiara pada leher wanita cantik".
Mereka itu tidak suka mendengar ilmu ma'rifah dari orang-orang kaya.


Abubakar Ash-Shiddiq r.a. berdo'a: "Wahai Allah Tuhanku! Aku mohon pada ENGKAU akan kehinaan pada keinsafan dari diriku dan akan zuhud pada apa yang melampaui kecegahan diri dari meminta  
bantuan orang .”
Apabila ada seperti Abubakar Ash-Shiddiq r.a. dalam kesempurnaan hal-keadaannya, menjaga diri dari dunia dan dari wujudnya dunia, maka bagaimana diragukan tentang tidak adanya harta Itu lebih patut dari adanya? Ini serta yang terbaik hal-lhwal orang kaya itu, bahwa ia mengambil yang halal dan membelanjakan yang baik. Dan dalam pada itu, hitungan amalnya panjang di lapangan kiamat dan lama penungguannya. Dan orang yang diperdebatkan hitungan amalnya, sesungguhnya dia itu sudah diazabkan. Dan karena inilah, terkemudian Abdurrahman bin 'Auf ke sorga. Karena ia disibukkan dengan hitungan amal, sebagaimana yang dilihat oleh Rasulullah s.a.w. Dan karena inilah, Abud-Darda' r.a. berkata: "Aku tidak menyukai mempunyai toko di pintu masjid. Dan tidak disalahkan aku padanya, oleh shalat dan dzikir. Dan aku beruntung setiap hari limapuluh dinar. Dan aku bersedekah dengan uang itu pada jalan Allah Ta'ala".


Beliau ditanyakan: "Apakah yang engkau tidak sukai? Abud-Darda' r.a. menjawab:"Tidak baik hitungan amal (hisab)".


Karena itulah, Sufyan r.a berkata: "Orang-orang fakir itu memilih tiga perkara dan orang-orang kaya memilih tiga perkara. Orang fakir memilih kesenangan jiwa, kekosongan hati dan keringanan hisab amalan. Dan orang-orang kaya memilih: kepayahan jiwa, kesibukan hati dan kesulitan hisab amalan".


Apa yang disebutkan Ibnu 'Atha', bahwa kaya itu sifat AI-Haqq, lalu dengan sebab demikian menjadi lebih utama, adalah benar. Akan tetapi, apabila hamba itu kaya dari adanya dan tidak adanya harta, dengan sama padanya yang dua itu.


Adapun apabila ia kaya dengan adanya harta dan berhajat kepada kekalnya harta itu, maka tiadalah menyerupai kayanya itu dengan kayanya Allah Ta'ala. Karena Allah Ta'ala kaya dengan zatNYA. Tidak dengan apa yang tergambar hilangnya. Dan harta itu tergambar hilangnya dengan dicuri orang.


Dan apa yang disebutkan tentang penolakan atas Ibnu 'Atha', bahwa Allah tidaklah kaya dengan sifat-sifat dan sebab-sebab itu, benar tentang tercelanya orang kaya yang menghendaki kekalnya harta. Dan apa yang disebutkan, bahwa sifat-sifat Al-Haqq itu tidak layak dengan hamba itu tidak benar. Bahkan ilmu itu sebahagian dari sifat-sifatNYA. Dan ilmu itu sesuatu yang lebih utama bagi hamba. Bahkan kesudahan hamba itu, bahwa ia berakhlak dengan akhlak Allah Ta'ala. Aku mendengar sebahagian syaikh berkata: "Bahwa orang yang menempuh jalan kepada Allah Ta'ala, sebelum ia menjalani seluruh jalan itu, jadilah nama-nama 99 itu sifat-sifat baginya. Artinya: ada baginya keuntungan dari setiap satu sifat-sifat itu.


Adapun takabbur, maka tidak layak dengan hamba. Sesungguhnya takabbur atas orang yang ia tidak berhak takabbur atasnya, maka tidaklah itu dari sifat-sifat Allah Ta'ala. Adapun takabbur atas orang, yang ia berhak takabbur atas orang itu, seperti takabbumya orang mu'min atas orang kafir, takabbumya orang berilmu atas orang bodoh dan takabbumya orang tha'at atas orang maksiat, maka layaklah dengan hamba.


Benar, kadang-kadang dimaksudkan dengan takabbur itu kemegahan, keheranan diri dan menyakitkan orang. Dan tidaklah itu dari sifat Allah Ta'ala. Dan sifat Allah itu, bahwa IA Maha Besar dari setiap sesuatu. Dan IA tahu, bahwa DIA seperti yang demikian. Dan hamba itu disuruh, bahwa ia mencari tingkat tertinggi, kalau ia sanggup. Akan tetapi, dengan yang benar, sebagaimana benarnya. Tidak dengan batil dan penipuan. Hamba itu harus tahu, bahwa orang mu'min lebih besar dari orang kafir. Orang tha'at lebih besar dari orang maksiat. Dan orang berilmu lebih besar dari orang bodoh. Dan manusia lebih besar dari hewan, benda beku dan tumbuh-tumbuhan. Dan lebih dekat kepada Allah Ta'ala, dibandingkan dengan benda-benda itu. Kalau manusia itu melihat dirinya dengan sifat tersebut, dengan penglihatan yang benar, yang tak ada keraguan, niscaya adalah sifat takabbur itu yang berhasil, yang layak dan keutamaan baginya. Hanya, ia tidak mempunyai jalan kepada mengetahuinya. Yang demikian itu terhenti di atas kesudahan (al-khatimah). Dan insan itu tidak mengetahui akan al-khatimah, bagaimana pun adanya. Dan bagaimana pun kesesuaiannya. Maka karena bodohnya dengan yang demikian, niscaya wajiblah ia tidak beritikad bagi dirinya, tingkat di atas tingkat kafir. Kerana, kadang-kadang disudahkan bagi orang kafir itu dengan iman. Dan kadang-kadang disudahkan baginya dengan kufur. Maka tidaklah yang demikian itu layak baginya. Karena singkat ilmunya untuk mengetahui akan akibat sesuatu.


Tatkala dapat tergambar, bahwa diketahui sesuatu itu menurut apa adanya, niscaya adalah ilmu itu sempuma padanya. Karena ilmu itu pada sifat-sifat Allah Ta'ala. Dan manakala mengetahui sebahagian dari sesuatu itu kadang-kadang mendatangkan melarat, niscaya jadilah ilmu itu suatu kekurangan padanya. Karena, tidaklah dari sifat-sifat Allah Ta'ala. Ilmu yang mendatangkan melarat bagiNYA. Maka mengetahui segala hal yang tidak melarat, itulah yang tergambar pada hamba dari sifat-sifat Allah Ta'ala. Maka tidak ragu lagi, itulah kesudahan keutamaan. Dan dengan yang demikian, kelebihan nabi-nabi, wali-wali dan alim ulama.


Jadi, kalau sama padanya, adanya harta dan tidak adanya harta, maka ini semacam kaya yang menyerupai dengan salah satu segi, dengan kaya yang disifatkan oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka itu suatu keutamaan. Adapun kaya dengan adanya harta, maka tak ada sekali-kali keutamaan padanya.
Itulah penjelasan bandingan keadaan orang fakir yang bersifat al-qana'ah, dengan orang kaya yang bersyukur


Tingkat Kedua: penjelasan bandingan keadaan orang fakir yang loba dengan keadaan orang kaya yang loba.


Marilah kita umpamakan ini pada satu orang. Dia mencari harta, berusaha dan hilang harta itu. Kemudian, diperolehnya kembali. Maka orang ini mempunyai keadaan ketiadaan harta dan keadaan adanya harta. Maka keadaan manakah di antara dua keadaannya itu yang lebih utama? Kami jawab: bahwa harus kita pertanyakan. Yaitu: kalau yang dicarikan itu barang yang tak boleh tidak dalam penghidupan dan maksudnya akan menempuh jalan Agama dan memperoleh pertolongan kepada Agama, maka keadaan adanya itu lebih utama. Karena fakir itu menyibukkannya disebabkan mencari. Dan orang yang mencari makanan sehari-hari itu tidak mampu berpikir dan berdzikir, selain kemampuan yang dimasukkan dengan kesibukan. Dan orang yang memadakan berapa yang dapat, itulah yang mampu. Karena itulah Nabi s.a.w. bersabda:



(Allaahummaj-'al quuta-aali Muhammadin kafafan).

Artinya: "Ya Allah Tuhanku! Jadikanlah makanan hari-hari keluarga Muhammad itu tidak menyandarkan kepada orang" .[ Hadits ini telah diterangkan dahulu]


Dan sabda Nabi s.a.w.:



(Kaadal-faqru an yakuuna kufran).

Artinya: "Hampirlah fakir itu menyebabkan kufur”. [Hadits ini telah diterangkan dahulu]


Artinya: fakir yang sangat memerlukan pada apa yang tak boleh tidak. Kalau yang dicari itu di atas hajat keperluan atau yang dicari itu sekadar keperluan, akan tetapi tiada maksudnya untuk memperoleh pertolongan kepada menempuh jalan Agama, maka keadaan fakir itu lebih utama dan lebih layak. Karena dua hal tadi sama tentang loba dan cinta harta. Dan sama tentang masing-masing daripadanya, tidak dimaksudkan memperoleh pertolongan kepada jalan Agama. Dan keduanya sama. bahwa masing-masing daripadanya tidak mendatangkan maksiat disebabkan fakir dan kaya. Akan tetapi keduanya berbeda, tentang yang memperoleh harta itu, hatinya jinak dengan apa yang diperolehnya. Lalu kokohlah kecintaan kepada harta dalam hatinya.


Dan ia merasa tenteram kepada dunia. Dan orang yang tidak memperolehnya, yang sangat memerlukan itu, jauhlah hatinya dari dunia. Dan adalah dunia padanya, seperti penjara yang dicarinya kelepasan daripadanya.


Manakala segala keadaan seluruhnya itu sama dan keluar dari dunia dua orang laki-laki, yang seorang sangat condong kepada dunia, maka keadaannya pasti lebih berat. Karena hatinya berpaling kepada dunia dan merasa liar dari akhirat, menurut kadar kekokohan kejinakannya dengan dunia. Nabi s.a.w. bersabda:



(Inna ruuhal-qudusi nafatsa fii ruu-'ii: ahbib man-ahbabta fa-innaka mufaari-quhu).
Artinya: "Bahwa Ruhul-kudus (Jibril a.s.) meludahkan dalam hatiku: cintailah siapa yang engkau cintai. Sesungguhnya engkau akan berpisah dengan dia".[ Dirawikan Ath-Thabrani dari Ali. Dan Asy-Syirazi dari Saba I bin Sa-'ad].


Ini pemberitahuan, bahwa berpisah dengan yang dicintai itu berat. Maka sayogialah bahwa engkau cintai yang tidak akan berpisah dengan engkau. Yaitu: Allah Ta'ala. Dan tidak engkau mencintai yang akan berpisah dengan engkau. Yaitu: dunia.
Apabila engkau mencintai dunia, niscaya engkau tidak suka menemui Allah Ta'ala. Maka adalah kedatangan engkau dengan mati itu, kepada apa yang tiada engkau sukai. Dan perpisahan engkau dengan apa yang engkau cintai. Dan setiap orang yang berpisah dengan yang dicintai, maka adalah sakitnya pada perpisahannya itu menurut kadar kecintaannya dan kadar kejinakan hatinya kepada yang dicintai. Kejinakan hati orang yang memperoleh dunia, yang menguasainya itu lebih banyak dari kejinakan hati orang yang tiada memperolehnya, walaupun ia mengharapkan betul kepadanya.
Jadi, telah tersingkap dengan pentahkikan ini, bahwa fakir itu lebih mulia, lebih utama dan lebih patut bagi seluruh makhluk, selain pada dua tempat:


Pertama: kaya. seperti kayanya 'Aisyah r.a., yang sama padanya ada dan tidak adanya harta. Maka adanya harta itu menambahkan bagi harta. Karena diperoleh faedah terkabulnya do'a orang-orang fakir dan miskin dan terkumpullah cita-cita mereka.
Kedua: fakir dari kadar yang perlu. Yang demikian ini hampir membawa kepada kufur. Dan tak ada kebajikan padanya, dengan segi mana pun. Selain apabila adanya itu meneruskan hidupnya. Kemudian, mendapat pertolongan dengan makanan dan hidupnya itu kepada menjauhkan kufur dan maksiat. Dan kalau ia mati dalam keadaan lapar, niscaya adalah maksiatnya itu berkurang. Maka yang lebih baik baginya, bahwa ia mati  dalam keadaan lapar. Dan ia tidak memperoleh apa yang sangat diperlukannya juga. Maka inilah penguraian pembicaraan tentang: kaya dan fakir. Dan masih dipertanyakan, mengenai orang fakir yang loba, yang bersungguh-sungguh mencari harta.


Tiada cita-citanya selain itu. Dan mengenai orang kaya, yang kurang dari itu, tentang kelobaannya pada menjaga harta. Dan tak ada kesakitannya dengan ketiadaan harta, kalau tidak dipunyainya, seperti kesakitannya orang fakir dengan kefakirannya. Maka ini pada tempat yang dipertanyakan


Yang lebih jelas, bahwa kejauhan keduanya dari Allah Ta'ala itu, menurut kadar kesakitannya karena ketiadaan harta. Dan kedekatannya itu menurut kadar lemah kesakitannya dengan ketiadaan harta.

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”