Print
PDF

42. Terjemahan Hadits Shahih Muslim - Kitab KEUTAMAAN BERBERAPA PERKARA

Kitab Keutamaan Beberapa Perkara

1. Mukjizat Nabi saw.

             Hadis riwayat Anas ra.:

Bahwa Nabi saw. minta diambilkan air lalu diberikan kepada beliau satu mangkuk air. Kemudian mulailah orang-orang berwudu. Aku perkirakan jumlah mereka antara enam puluh sampai delapan puluh orang. Kemudian aku beralih memperhatikan air yang mengalir dari selah-selah jari tangan beliau. (Shahih Muslim No.4224)

2. Penjelasan perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dibawa oleh Nabi saw.

             Hadis riwayat Abu Musa ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dalam mengutusku untuk menyampaikan petunjuk dan ilmu adalah seperti hujan yang membasahi bumi. Sebagian tanah bumi tersebut ada yang subur sehingga dapat menyerap air serta menumbuhkan rerumputan dan sebagian lagi berupa tanah-tanah tandus yang tidak dapat menyerap air lalu Allah memberikan manfaatnya kepada manusia sehingga mereka dapat meminum darinya, memberi minum dan menggembalakan ternaknya di tempat itu. Yang lain menimpa tanah datar yang gundul yang tidak dapat menyerap air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang mendalami ilmu agama Allah dan memanfaatkannya sesuai ajaran yang Allah utus kepadaku di mana dia tahu dan mau mengajarkannya. Dan juga perumpamaan orang yang keras kepala yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang karenanya aku diutus. (Shahih Muslim No.4232)

3. Kasih sayang Nabi saw. terhadap umatnya dan kepedulian beliau memperingatkan mereka dari hal-hal yang membahayakan

             Hadis riwayat Abu Musa ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Sesungguhnya perumpamaanku sebagai utusan Allah adalah seperti seorang lelaki yang mendatangi kaumnya seraya berkata: Wahai kaumku! Sesungguhnya kau telah melihat dengan mata kepala sendiri sepasukan tentara dan sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang tidak bersenjata, maka carilah keselamatan. Sebagian kaumnya ada yang mematuhi lalu pada malam hari mereka berangkat (menyelamatkan diri) dengan tidak terburu-buru. Sebagian yang lain mendustakan hingga keesokan paginya mereka masih berada ditempat semula maka diserbulah mereka oleh pasukan tentara tadi lalu musnahkan dan dibantailah mereka. Itu adalah perumpamaan orang yang patuh kepadaku dan mengikuti ajaran yang aku bawa serta perumpamaan orang yang durhaka kepadaku dan mendustakan kebenaran yang aku bawa. (Shahih Muslim No.4233)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra. dia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya perumpamaanku dan umatku adalah seperti seorang yang menyalakan api yang mengakibatkan binatang-binatang melata dan nyamuk terperangkap ke dalam api tersebut. Aku sudah berusaha memegang ikat pinggang kalian namun kalian malah menceburkan diri ke dalamnya. (Shahih Muslim No.4234)

4. Penyebutan Nabi saw. sebagai utusan terakhir

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaanku dengan para nabi yang lain adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah bangunan yang bagus dan indah. Banyak orang yang mengelilingi bangunan tersebut dan berkomentar: Kami belum pernah melihat bangunan seindah bangunan ini kecuali karena bata ini. Dan aku adalah sebuah bata tersebut. (Shahih Muslim No.4237)

             Hadis riwayat Jabir ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Perumpamaanku dengan para nabi, adalah seperti perumpamaan seseorang yang membangun sebuah rumah. Dia menata dengan bagus dan sempurna. Kecuali masih ada satu tempat bata. Banyak orang masuk kedalam bangunan tersebut dan mengaguminya seraya berkata: Kalau seandainya bukan karena tempat bata itu (masing kosong), maka akan jauh lebih bagus. Selanjutnya Rasulullah saw. bersabda: Aku adalah yang (diibaratkan) sebagai bata tersebut. Aku datang sekaligus sebagai penutup para nabi-nabi. (Shahih Muslim No.4240)

5. Tentang adanya telaga Nabi saw. dan sifat-sifatnya

             Hadis riwayat Jundab ra., ia berkata:

Aku pernah mendengar Nabi saw. bersabda: Aku mendahului kalian berada di telaga. (Shahih Muslim No.4242)

             Hadis riwayat Sahal ra., ia berkata:

Aku pernah mendengar Nabi saw. bersabda: Aku mendahului kalian berada di telaga. Barang siapa yang sampai di sana tentu dia akan minum dan siapa yang telah minum niscaya tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. Sungguh akan datang kepadaku kaum-kaum yang aku kenal dan mereka mengenal aku kemudian terdapat penghalang antara aku dan mereka. (Shahih Muslim No.4243)

             Hadis riwayat Abdullah bin Amru bin Ash ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Telagaku seluas perjalanan selama satu bulan dan panjang tepi-tepinya sama demikian. Airnya lebih putih dari perak, aromanya lebih wangi dari minyak misk, cangkirnya sejumlah bintang-bintang yang ada di langit. Barang siapa yang telah meminum air telaga tersebut niscaya dia tidak akan merasa dahaga selama-lamanya. (Shahih Muslim No.4244)

             Hadis riwayat Asma binti Abu Bakar ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Aku berada di tepi telaga untuk melihat siapa saja di antara kalian yang akan minum dari telagaku. Dan akan ada sekelompok manusia yang akan dihalangi lalu aku bermohon: Wahai Tuhanku, mereka adalah sebagian dari diriku dan termasuk umatku. Kemudian dikatakan: Tidak tahukah engkau apa yang telah mereka perbuat sesudahmu? Demi Allah! Mereka langsung kembali kepada kekafiran sepeninggalmu. Kata seorang perawi, Ibnu Abu Malikah berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan kepada-Mu dari kembali kepada kekafiran atau dari cobaan terhadap agama kami. (Shahih Muslim No.4245)

             Hadis riwayat Uqbah bin Amir ra.:

Bahwa pada suatu hari Rasulullah saw. keluar untuk menyalatkan jenazah syuhada Uhud. Kemudian beliau beralih ke atas mimbar dan bersabda: Sesungguhnya aku akan mendahului kalian dan aku akan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku sedang melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberikan kunci-kunci kekayaan bumi atau kunci-kunci bumi. Sesungguhnya demi Allah, aku tidak khawatir kalian akan kembali musyrik sepeninggalku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba dalam kehidupan dunia. (Shahih Muslim No.4248)

             Hadis riwayat Abdullah bin Masud ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Aku akan mendahului kalian berada di telaga dan niscaya aku akan bertengkar dengan beberapa kaum namun aku dapat mengalahkan mereka lalu aku berkata: Wahai Tuhanku, tolonglah sahabat-sahabatku, tolonglah sahabat-sahabatku. Lantas dikatakan: Sesungguhnya kamu tidak tahu apa yang telah mereka perbuat sepeninggalmu. (Shahih Muslim No.4250)

             Hadis riwayat Haritsah ra.:

Bahwa ia mendengar Nabi saw. bersabda: (Luas) Telaga itu adalah seluas antara kota Shan`a dengan kota Madinah. (Shahih Muslim No.4251)

             Hadis riwayat Ibnu Umar ra. dia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya di depan kalian terbentang sebuah telaga yang luas kedua tepinya sama dengan luas antara daerah Jarba` dengan Adzruh. (Shahih Muslim No.4252)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Nabi saw. bersabda: Sungguh aku akan menghalangi beberapa orang dari telagaku seperti seorang wanita asing yang dihalangi dari unta. (Shahih Muslim No.4257)

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Telagaku kira-kira seluas antara kota Ailah sampai kota Shan`a yang berada di Yaman. Sesungguhnya di sana terdapat cangkir minum sebanyak jumlah bintang-bintang di langit. (Shahih Muslim No.4258)

6. Tentang keikutsertaan malaikat Jibril dan Mikail dalam perang Uhud membela Nabi saw.

             Hadis riwayat Saad ra., ia berkata:

Pada perang Uhud aku pernah melihat di sisi kanan dan kiri Rasulullah saw. dua orang lelaki yang berpakaian putih sebelum dan sesudahnya aku tidak pernah melihat mereka lagi, yaitu malaikat Jibril dan Mikail. (Shahih Muslim No.4264)

7. Keberanian dan keunggulan Nabi saw. dalam berperang

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Rasulullah saw. adalah orang yang paling berbudi tinggi, dermawan dan pemberani. Pernah pada suatu malam penduduk Madinah dikejutkan oleh suara yang sangat dahsyat. Orang-orang kemudian berangkat menuju ke arah suara tersebut. Rasulullah saw. bertemu mereka saat hendak kembali pulang. Ternyata beliau telah mendahului mereka menuju ke arah suara tersebut. Waktu itu beliau naik kuda milik Abu Thalhah, di lehernya terkalung sebuah pedang. Beliau bersabda: Kalian tidak perlu takut, kalian tidak perlu takut. Ia berkata: Kami mendapatkan kuda tersebut cepat larinya padahal sebelumnya adalah kuda yang lambat berlari. (Shahih Muslim No.4266)

8. Nabi saw. adalah orang yang lebih dermawan daripada angin yang berhembus

             Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan. Beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadan. Sesungguhnya malaikat Jibril as. bertemu dengan beliau setiap tahun pada bulan Ramadan sampai selesai. Rasulullah saw. membaca Alquran di hadapannya. Saat Rasulullah saw. bertemu dengan malaikat Jibril, maka beliau adalah orang yang paling dermawan dalam hal kebaikan melebihi angin yang berhembus. (Shahih Muslim No.4268)

9. Rasulullah saw. adalah orang yang paling baik akhlaknya

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Aku melayani Rasulullah saw. selama sepuluh tahun. Demi Allah! Beliau sama sekali tidak pernah mengatakan kepadaku: Hus! Beliau juga tidak pernah mengatakan kepadaku sesuatu seperti: Kenapa kamu kerjakan itu? Kenapa kamu tidak mengerjakan ini. (Shahih Muslim No.4269)

10. Setiap kali Rasulullah saw. dimintai sesuatu, belum pernah beliau mengatakan: Tidak. Beliau adalah orang yang sering memberi

             Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. tidak pernah dimintai sesuatu kemudian beliau mengatakan: Tidak. (Shahih Muslim No.4274)

             Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Seandainya harta kekayaan Bahrain berhasil aku dapatkan, niscaya aku akan memberimu sekian, sekian, dan sekian sambil mengisyaratkan kedua belah tangannya. Ternyata Nabi saw. lebih dahulu wafat sebelum harta kekayaan Bahrain didapatnya. (Shahih Muslim No.4278)

11. Kasih sayang serta sopan-santun Nabi saw. terhadap anak-anak dan keluarga serta keutamaan hal itu

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Tadi malam aku dikaruniai seorang anak yang aku beri nama dengan nama bapakku, yaitu Ibrahim. Beliau lalu menyerahkan kepada Ummu Saif, istri seorang tukang pandai besi yang biasa dipanggil Abu Saif. Suatu hari beliau berangkat menemuinya dan aku mengikutinya sampai bertemu Abu Saif yang sedang meniup alat peniup api, sehingga rumahnya penuh dengan asap. Aku mempercepat jalan di hadapan Rasulullah dan aku berkata: Wahai Abu Saif, berhentilah karena Rasulullah saw. telah datang! Kemudian dia berhenti lalu Nabi saw. memanggil putranya yang masih kecil lantas memeluknya dan mengatakan sesuatu yang Allah kehendaki. Lebih lanjut Anas berkata: Aku melihat dia memperdaya dirinya menghadapi sakaratul maut di hadapan Rasulullah hingga kedua mata beliau mengalirkan air mata lantas bersabda: Mata mengucurkan air mata dan hati merasa sedih serta aku hanya akan mengatakan perkataan yang diridai Tuhanku. Demi Allah, wahai Ibrahim, sesungguhnya kami sangat sedih (atas kematianmu). (Shahih Muslim No.4279)

             Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Pada suatu hari beberapa orang Arab badui datang kepada Rasulullah saw. dan bertanya: Apakah kamu mencium anak-anak kecilmu? Mereka menjawab: Ya. Lalu mereka berkata lagi: Akan tetapi, demi Allah, kami belum pernah memeluknya. Rasulullah saw. lalu bersabda: Aku tidak dapat berbuat apa-apa jika Allah telah mencabut rasa kasih sayang dari hati kamu sekalian. (Shahih Muslim No.4281)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Aqra` bin Habis pernah melihat Nabi saw. sedang mencium Hasan. Dia (Aqra` bin Habis) lalu berkata: Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak namun aku tidak pernah mencium satupun dari mereka. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya barang siapa yang tidak menyayangi maka dia tidak akan disayangi. (Shahih Muslim No.4282)

             Hadis riwayat Jarir bin Abdullah ra. dia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Barang siapa tidak menyayangi manusia, maka Allah tidak akan menyayanginya. (Shahih Muslim No.4283)

12. Rasulullah saw. adalah seorang yang pemalu

             Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra., ia berkata:

Rasulullah saw. lebih pemalu daripada seorang gadis perawan di dalam kamarnya. Jika beliau tidak menyukai sesuatu kami dapat mengetahui dari raut wajahnya. (Shahih Muslim No.4284)

13. Kasih sayang Nabi saw. terhadap istri-istrinya. Perintah beliau kepada kusir kendaraan untuk berlaku lembut kepada wanita

             Hadis riwayat Anas ra., ia berkata:

Ketika Rasulullah saw. dalam suatu perjalanannya ada seorang pelayan berkulit hitam bernama Anjasyah sedang memacu kudanya dengan bersyair (kuda yang membawa istri-istri Nabi saw.) Rasulullah saw. bersabda kepadanya: Wahai Anjasyah, pelan-pelan saja memacu kuda dan berlaku lembutlah kepada kaum wanita. (Shahih Muslim No.4287)

14. Nabi saw. menjauhi patung-patung berhala dan memilih perkara mubah yang paling mudah serta pembalasan beliau jika kehormatan Allah dilanggar

             Hadis riwayat Aisyah ra., istri Nabi saw. ia berkata:

Tidak pernah Rasulullah saw. disuruh memilih antara dua perkara kecuali beliau akan mengambil yang paling mudah di antara keduanya selama itu tidak dosa. Jika yang paling ringan itu ternyata dosa, maka beliau menjauhinya pula. Rasulullah saw. tidak pernah membalas untuk diri sendiri, kecuali jika kehormatan Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung dilanggar. (Shahih Muslim No.4294)

15. Harumnya keringat Nabi saw. dan mencari berkah darinya

             Hadis riwayat Anas ra.:

Bahwa Ummu Sulaim ra. menghamparkan selembar tikar kulit sehingga Rasulullah saw. dapat tidur siang di atasnya. Beliau berkeringat banyak sekali lalu Ummu Sulaim mengumpulkan keringat tersebut untuk mencampurnya dengan minyak wangi kemudian memasukkannya ke dalam botol-botol kecil. Kemudian Nabi saw. bertanya kepada Ummu Sulaim: Apa ini? Ia menjawab: Keringatmu yang aku campur dengan minyak wangiku. (Shahih Muslim No.4302)

16. Nabi saw. berkeringat di musim dingin saat menerima wahyu

             Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Jika diturunkan wahyu kepada Rasulullah saw. pada pagi hari yang dingin kemudian dahinya akan mengucurkan keringat. (Shahih Muslim No.4303)

17. Nabi saw. mengurai dan menyisir rambutnya menjadi dua belahan

             Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:

Kebiasaan orang-orang ahli kitab ialah memanjangkan rambut mereka sedang orang-orang musyrik biasa menyisir rambut mereka menjadi dua belahan. Rasulullah saw. senang menyesuaikan dengan ahli kitab dalam hal yang tidak diperintahkan (mubah) lalu Rasulullah saw. memanjangkan rambut jambulnya setelah itu disisir menjadi dua belahan. (Shahih Muslim No.4307)

18. Sifat Nabi saw. dan beliau adalah manusia yang paling tampan

             Hadis riwayat Barra' ia berkata:

Rasulullah saw. adalah seorang lelaki yang berperawakan sedang, berpundak lebar dan berambut lebat sampai ke daun telinga. Beliau suka mengenakan pakaian warna merah. Aku sama sekali tidak pernah melihat sesuatu yang lebih bagus daripada Nabi saw.. (Shahih Muslim No.4308)

19. Sifat rambut Nabi saw.

             Hadis riwayat Anas.s bin Malik ra:

Dari Qatadah ia berkata: Saya bertanya kepada Anas bin Malik ra.: Bagaimana keadaan rambut Rasulullah saw.? Anas bin Malik menjawab: Rambutnya ikal berombak tidak keriting dan tidak lurus dan terurai sampai sebatas pundaknya. (Shahih Muslim No.4311)

20. Uban Nabi saw.

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra.:

Dari Ibnu Sirin ia berkata: Anas bin Malik ra. pernah ditanya: Apakah Rasulullah saw. pernah menyemir (rambutnya)? Anas bin Malik menjawab: Bahwa dia belum pernah melihat uban kecuali hanya sedikit. (Shahih Muslim No.4317)

             Hadis riwayat Abu Juhaifah ra.:

Dari Zuhair dari Ishak dari Abu Juhaifah ia berkata: Aku pernah melihat Nabi saw. rambut beliau yang di sini berwarna putih. Zuhair meletakkan sebagian jari-jarinya pada bagian bawah bibir. Lebih lanjut dikatakan kepada Zuhair: Anda sudah sebesar siapa saat itu? Zuhair menjawab: Aku sudah bisa meruncingkan anak panah dan merekatkan bulu padanya. (Shahih Muslim No.4323)

21. Adanya tanda kenabian, sifatnya dan letaknya di salah satu bagian tubuh Nabi saw.

             Hadis riwayat Saib bin Yazid ra., ia berkata:

Bibiku pernah membawaku pergi menghadap Rasulullah saw. Bibiku berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya keponakanku ini terserang penyakit perut. Lalu beliau mengusap kepalaku dan mendoakan aku supaya mendapat berkah. Setelah itu beliau berwudu dan aku meminum sisa air wudunya kemudian aku berdiri di belakang punggung beliau dan melihat sebuah tanda (kenabian) antara kedua pundaknya seperti telur burung merpati. (Shahih Muslim No.4328)

22. Sifat dan usia Nabi saw. ketika diangkat menjadi rasul

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Rasulullah saw. adalah bukan orang yang tinggi sekali dan tidak pula pendek dan tidak juga putih sekali dan tidak berwarna coklat serta tidak pula berambut terlalu keriting dan tidak terlalu lurus. Beliau diutus Allah ketika berusia empat puluh tahun dan menetap di Mekah selama sepuluh tahun dan di Madinah selama sepuluh tahun. Beliau wafat ketika berusia enam puluh tahun sementara di rambut kepala dan janggut beliau tidak lebih dari dua puluh helai uban. (Shahih Muslim No.4330)

23. Usia Nabi saw. ketika wafat

             Hadis riwayat Aisyah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. wafat pada usia enam puluh tiga tahun. (Shahih Muslim No.4332)

24. Masa Rasulullah berada di Mekah dan Madinah

             Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:

Rasulullah saw. tinggal di Mekah selama tiga belas tahun dan wafat pada usia enam puluh tiga tahun. (Shahih Muslim No.4333)

25. Nama-nama Nabi saw.

             Hadis riwayat Jubair bin Muth`im ra.:

Bahwa Nabi saw. bersabda: Aku adalah Muhammad, aku adalah Ahmad, aku adalah Al-Mahi (penghapus), yang karena aku dihapuskan kekufuran. Aku adalah Al-Hasyir (pengumpul), di mana seluruh manusia akan dikumpulkan sesudahku. Aku adalah Aqib dan Aqib adalah nabi yang tidak akan ada lagi seorang nabi sesudahnya. (Shahih Muslim No.4342)

26. Pengetahuan dan ketakwaan Nabi saw. kepada Allah Taala

             Hadis riwayat Aisyah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. pernah melakukan suatu perkara kemudian beliau mengambil keringanan (rukhshah) yang ada di dalamnya. Lalu sampailah berita itu kepada beberapa orang sahabat beliau yang tampak seakan-akan mereka tidak menyukainya dan menjauhkan diri dari perkara tersebut. Dan keadaan itu pun sampai kepada beliau yang langsung berdiri dan berpidato: Kenapa orang-orang yang sampai kepada mereka suatu perkara dari diriku di mana aku melakukan keringanan di dalamnya lalu mereka tidak menyukai dan menjauhkan diri darinya. Demi Allah, sungguh aku lebih mengetahui Allah dan lebih takut kepada-Nya daripada mereka. (Shahih Muslim No.4345)

27. Wajib mengikuti jejak Nabi saw.

             Hadis riwayat Abdullah bin Zubair ra.:

Bahwa seorang lelaki Ansar bertengkar dengan Zubair di hadapan Rasulullah saw. mengenai saluran air daerah Harrah yang digunakan untuk mengairi pohon kurma. Lelaki Ansar tersebut berkata: Biarkan air itu mengalir! Ternyata Zubair menolak permintaan mereka. Lalu mereka mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw. Berkatalah beliau kepada Zubair: Alirkanlah wahai Zubair dan alirkan juga air itu kepada tetanggamu! Lelaki tersebut marah seraya berkata: Wahai Rasulullah! Apakah karena Zubair itu anak bibimu? Berubahlah warna muka Nabi saw. lalu berkata: Wahai Zubair, alirkanlah air itu kemudian tahan agar kembali lagi ke kebun! Lalu Zubair berkata: Demi Allah, aku yakin bahwa ayat ini turun menyinggung percekcokan tadi: Maka demi Tuhan, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Shahih Muslim No.4347)

28. Penghormatan kepada Nabi saw. dan meninggalkan pertanyaan yang tidak penting kepada beliau atau yang tidak berkaitan dengan taklif serta yang tidak realistis dan sebagainya

             Hadis riwayat Saad bin Abu Waqqash ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya orang-orang muslim yang paling besar dosanya terhadap orang-orang muslim yang lain ialah orang yang bertanya tentang suatu perkara yang belum diharamkan atas orang-orang muslim kemudian diharamkan atas mereka karena pertanyaannya. (Shahih Muslim No.4349)

             Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:

Telah sampai kepada Rasulullah saw. berita tentang para sahabatnya kemudian beliau berpidato dan bersabda: Telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Aku belum pernah melihat suatu kebaikan dan keburukan seperti yang terjadi pada hari ini. Jika seandainya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis. Lebih lanjut Anas bin Malik ra. mengatakan: Tidak ada hari yang lebih menyedihkan bagi para sahabat Rasulullah saw. daripada hari itu. Anas bin Malik berkata lagi: Mereka menutupi kepala mereka sambil terdengar isak-tangis mereka. Ia berkata lagi: Umar berdiri seraya berkata: Kami rela Allah sebagai Tuhan, Islam sebagai agama dan Muhammad sebagai nabi. Anas bin Malik ra. berkata: Bangkitlah lelaki itu dan bertanya: Siapa bapakku? Dia menjawab: Bapakmu adalah si Fulan. Maka turunlah ayat: Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu menanyakan (kepada nabimu) hal-hal yang serupa itu jika diterangkan kepadamu, niscaya menyusahkan kamu. (Shahih Muslim No.4351)

             Hadis riwayat Abu Musa ra., ia berkata:

Nabi saw. pernah ditanya tentang beberapa perkara yang tidak beliau sukai. Ketika telah banyak ditanyakan kepadanya, beliau menjadi marah dan bersabda kepada orang-orang: Bertanyalah kepadaku tentang apapun yang kalian inginkan! Seorang lelaki bertanya: Siapakah ayahku? Beliau menjawab: Ayahmu adalah Hudzafah. Yang lain berdiri dan bertanya: Siapakah ayahku, wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ayahmu adalah Salim, budak Syaibah. Ketika Umar melihat Rasulullah saw. sedang murka itulah, dia berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya Kami bertobat kepada Allah. (Shahih Muslim No.4355)

29. Keutamaan-keutamaan Nabi Isa as.

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Aku adalah orang yang paling berhak terhadap putra Maryam. Para nabi adalah saudara-saudara seayah. Antara aku dan dia (putra Maryam) tidak ada seorang nabi pun. (Shahih Muslim No.4360)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Tidak seorang bayi pun yang dilahirkan kecuali telah disentuh oleh setan sehingga ia menangis menjerit karena sentuhan setan tersebut kecuali putra Maryam dan ibunya. (Shahih Muslim No.4363)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Pada suatu hari Isa putra Maryam melihat seorang lelaki mencuri. Isa lalu bertanya kepada lelaki tersebut: Kamu telah mencuri? Lelaki tersebut menjawab: Tidak, demi Zat yang tiada Tuhan selain Dia. Selanjutnya Isa berkata: Aku beriman kepada Allah dan aku mendustakan diriku. (Shahih Muslim No.4366)

30. Keutamaan-keutamaan Nabi Ibrahim as. Khalilullah

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Rasulullah saw. bersabda: Nabi Ibrahim as. berkhitan ketika beliau berusia delapan puluh tahun dengan sebuah kapak. (Shahih Muslim No.4368)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Nabi Ibrahim as. tidak pernah berdusta kecuali sebanyak tiga kali, dua di antaranya menyangkut Zat Allah, yaitu ucapannya: Sesungguhnya aku sakit. Dan ucapannya: Sebenarnya patung yang besar itulah yang memukulnya. Yang satu lagi adalah menyangkut diri Sarah. Karena beliau datang ke sebuah negeri yang dikuasai seorang raja diktator bersama Sarah yang ketika itu sebagai seorang wanita yang paling cantik. Berkatalah ia kepada Sarah: Sesungguhnya raja diktator ini, jika ia mengetahui bahwa kamu adalah istriku maka dia akan mengalahkanku untuk merebutmu. Maka jika dia bertanya kepadamu katakanlah kepadanya bahwa kamu adalah saudara perempuanku. Sesungguhnya kamu memang saudara perempuanku dalam Islam. Dan sesungguhnya aku tidak mengetahui di negeri ini seorang muslim pun selain aku dan kamu. Ketika (Ibrahim) memasuki negeri raja yang diktator itu, terlihatlah Sarah oleh salah seorang keluarga raja lalu ia segera menghadap dan melaporkan: Telah datang ke negeri paduka raja seorang wanita yang hanya patut menjadi milik paduka. Sang raja lalu mengirim utusan kepada Sarah dan dibawanya. Lalu Nabi Ibrahim as. segera melaksanakan salat. Ketika Sarah datang ke hadapan raja, dia tidak mampu menguasai diri untuk langsung merangkul Sarah sehingga tangannya tergenggam erat sekali. Dia berkata kepada Sarah: Berdoalah kepada Allah agar Dia melepaskan tanganku dan aku tidak akan mengganggumu. Sarah lalu berdoa. Lalu sang raja mengulanginya dan kembali tangannya tergenggam dengan lebih kuat lagi dari yang pertama. Lalu sang raja mengulangi ucapannya meminta kepada Sarah agar Tuhan melepaskan tangannya. Sarah berdoa lagi. Sang raja mengulangi lagi dan kembali tangannya terggenggam dengan lebih kuat lagi daripada yang pertama dan kedua. Sang raja berkata: Berdoalah kepada Allah agar Dia melepaskan tanganku. Demi Allah aku tidak akan menganggumu. Dan Sarah berdoa lagi sehingga terbukalah tangannya. Sang raja lalu memanggil orang yang membawa Sarah: Sesungguhnya kamu membawakan kepadaku seorang wanita setan bukan manusia. Usirlah ia dari negeriku dan berikanlah kepadanya Hajar. Lebih lanjut Nabi saw. mengatakan: Kemudian Sarah kembali dengan berjalan kaki. Ketika Ibrahim as. melihat, disambutnya seraya bertanya: Bagaimana kabarmu? Sarah menjawab: Baik-baik saja, Allah telah berkenan melindungiku dari gangguan tangan raja durhaka itu dan ia telah memberikan seorang budak pelayan. (Shahih Muslim No.4371)

31. Keutamaaan Nabi Musa as.

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Malaikat maut pernah diutus kepada Musa as. Ketika malaikat tersebut datang menjumpainya, Nabi Musa langsung memukul dan mencungkil matanya. Lalu malaikat itu kembali kepada Tuhannya seraya berkata: Engkau telah mengutusku kepada seorang yang tidak ingin mati. Ia berkata: Allah kemudian mengembalikan matanya. Allah berfirman: Kembalilah kepadanya dan katakan supaya dia meletakkan tangannya di punggung seekor banteng dan baginya usia satu tahun dari setiap helai rambut yang ditutupi tangannya. Malaikat itu bertanya: Ya Tuhanku! Setelah itu? Tuhan berfirman: Kematian. Malaikat tersebut berkata: Sekaranglah! Lalu dia memohon agar Allah mendekatkan dirinya dengan bumi yang suci sejauh jarak lemparan batu. Rasulullah saw. bersabda: Jika aku berada di sana, tentu aku akan memperlihatkan kepada kalian makam (Musa) yang berada di pinggir jalan, tepatnya di bawah bukit pasir merah. (Shahih Muslim No.4374)

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra., ia berkata:

Ketika seorang Yahudi menawarkan barang dagangannya ia diberikan sifat barang dagangannya itu dengan sesuatu yang tidak ia sukai atau tidak ia senangi. Abdul Aziz ragu-ragu antara kedua kata tersebut. Ia berkata: Tidak, demi Tuhan yang telah memilih Musa as. atas manusia. Ia berkata: Lalu seorang lelaki Ansar yang mendengarnya dan langsung menampar wajahnya seraya berkata: Kamu mengatakan demi Tuhan yang telah memilih Musa as. atas sekalian manusia sedangkan Rasulullah saw. berada di tengah-tengah kita! Ia berkata lagi: Lalu orang Yahudi itu pergi menemui Rasulullah saw. dan berkata: Wahai Abul Qasim! Sesungguhnya aku mempunyai tanggung jawab dan janji. Si Fulan telah menampar wajahku. Rasulullah saw. bertanya kepada lelaki tersebut: Kenapa kamu menampar wajahnya? Dia menjawab: Wahai Rasulullah! Dia mengatakan demi Tuhan yang telah memilih Musa as. atas sekalian manusia. Bukankah engkau masih berada di tengah-tengah kita? Ia berkata: Lalu Rasulullah saw. murka dan itu terlihat dari wajahnya. Kemudian beliau bersabda: Janganlah kalian membeda-bedakan antara para utusan Allah. Sesungguhnya sangkakala akan ditiupkan sehingga binasalah makhluk yang berada di langit dan di bumi kecuali orang yang dikehendaki Allah. Kemudian ditiupkan lagi dan aku adalah orang pertama yang dibangkitkan atau termasuk orang yang pertama dibangkitkan namun tiba-tiba Musa as. sedang berpegang pada Arsy. Aku tidak tahu apakah ia sudah dihisab ketika ia pingsan pada peristiwa (pecahnya) gunung Thur ataukah ia telah dibangkitkan sebelum aku dan aku tidak akan berkata sesungguhnya ada seseorang yang lebih utama daripada Yunus bin Matta as.. (Shahih Muslim No.4376)

32. Mengenai Yunus as. dan sabda Nabi saw.: Tidak patut bagi seorang hamba mengatakan "Aku adalah lebih baik daripada Yunus bin Matta as."

             Hadis riwayat Ibnu Abbas ra.:

Dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda: Tidak patut bagi seorang hamba mengatakan: Aku adalah lebih baik daripada Yunus bin Matta as. dengan mengaitkannya pada ayahnya. (Shahih Muslim No.4382)

33. Keutamaan-keutamaan Yusuf as.

             Hadis riwayat Abu Hurairah ra.:

Ditanyakan kepada Rasulullah: Wahai Rasulullah! Siapakah orang yang paling mulia itu? Beliau bersabda: Mereka yang paling bertakwa. Mereka berkata: Bukan tentang itu yang kami tanyakan kepadamu. Beliau bersabda: Maka Yusuf karena ia seorang nabi Allah, anak seorang nabi Allah sekaligus cucuk seorang nabi Allah serta buyut nabi Allah (yang dijuluki) kekasih Allah. Mereka berkata: Juga bukan hal itu yang kami tanyakan kepadamu. Beliau bersabda: Apakah tentang asal-usul orang-orang Arab yang kalian tanyakan kepadaku? Sebaik-baik mereka pada masa jahiliah adalah sebaik-baik mereka pada masa Islam, jika mereka memahami ajaran Islam. (Shahih Muslim No.4383)

34. Keutamaan-keutamaan Khidhir as.

             Hadis riwayat Ubay bin Kaab ra.:

Dari Said bin Jubair ia berkata: Aku pernah berkata kepada Ibnu Abbas ra. bahwa Naufan Al-Bukali beranggapan bahwa Musa as. nabi Bani Israel adalah bukan Musa yang menjadi sahabat Khidhir. Ibnu Abbas berkata: Musuh Allah adalah pembohong. Aku pernah mendengar Ubay bin Kaab ra. berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: Musa as. pernah berdiri berpidato di tengah-tengah Bani Israel. Dia (Musa) lalu ditanya: Siapakah manusia yang paling berilmu? Dia jawab: Akulah orang yang paling berilmu. Allah lantas menegurnya karena dia tidak mengembalikan ilmu kepada Allah. Allah lalu memberi wahyu kepadanya bahwa salah seorang hamba-Ku yang menetap di tempat pertemuan dua lautan adalah lebih berilmu daripada kamu. Selanjutnya Musa bertanya: Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat bertemu dengannya? Dikatakan kepadanya: Bawalah seekor ikan dalam sebuah keranjang. Di mana saja kamu kehilangan ikan tersebut, maka di situlah dia berada. Kemudian Musa pun berangkat bersama muridnya bernama Yusya` bin Nun. Musa as. membawa ikan tersebut dalam sebuah keranjang. Dia dan muridnya berangkat dengan berjalan kaki sampai keduanya mencapai sebuah batu karang besar dan tidurlah Musa as. dan muridnya. Sementara ikan yang berada dalam keranjang bergerak dan keluar dari keranjang lalu jatuh ke laut. Kemudian Allah menahan ombak, sehingga menjadi seperti sebuah lengkungan buat melintas ikan tersebut. Musa as. dan muridnya terheran-heran. Mereka meneruskan sisa perjalanan pada siang dan malam hari sedangkan murid Musa as. lupa untuk memberitahukannya. Keesokan paginya Musa as. berkata kepada muridnya: Bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Tetapi (Musa as.) tidak akan merasa letih sebelum dia sampai di tempat yang diperintahkan. Muridnya berkata: Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di sebuah batu karang tadi, aku lupa menceritakan tentang ikan itu, setanlah sebenarnya yang membuatku lupa untuk menceritakannya, ikan itu telah masuk ke laut dengan cara yang sangat aneh sekali. Selanjutnya Musa as. berkata: Kalau begitu itulah tempat yang kita cari. Keduanya lalu kembali. Keduanya mengikuti jejak mereka semula. Hingga ketika mereka tiba di batu karang tadi Musa tiba-tiba melihat seorang lelaki yang berselimut dengan sebuah pakaian dan itulah Khidhir. Musa as. mengucapkan salam kepadanya. Khidhir bertanya kepadanya: Ternyata di negerimu terdapat salam! (Musa as.) berkata: Aku adalah Musa. Khidhir bertanya: Musa Bani Israel? Dia menjawab: Ya. Khidhir berkata: Sesungguhnya kamu memiliki ilmu dari ilmu-ilmu Allah yang telah diajarkan Allah kepada kamu yang aku tidak ketahui. Sebaliknya aku juga memiliki ilmu dari ilmu-ilmu Allah yang telah diajarkan Allah kepadaku yang tidak kamu ketahui. Musa as. berkata kepada Khidhir: Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu? Khidhir menjawab: Sesungguhnya kamu tidak akan sabar bersamaku. Bagaimana kamu bisa sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu? Musa as. berkata: Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar dan aku tidak akan menentangmu dalam suatu urusanpun. Khidhir berkata kepadanya: Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan tentang sesuatu apapun sampai aku sendiri yang akan menerangkannya kepadamu. Musa menjawab: Baiklah. Khidhir dan Musa as. lalu berangkat dengan berjalan kaki di tepi pantai dan lewatlah sebuah perahu di hadapan mereka berdua. Mereka bercakap-cakap dengan para penumpangnya agar mau mengangkut mereka. Karena sudah kenal dengan Khidhir, mereka lalu membawa keduanya tanpa bayaran. Khidhir beranjak ke salah satu papan perahu lalu dicabutnya. Musa as. berkata kepada Khidhir: Mereka telah membawa kita dengan cuma-cuma tetapi dengan sengaja perahu mereka kamu lobangi! Apakah kamu hendak menenggelamkan penumpangnya. Sesungguhnya kamu telah berbuat suatu kesalahan yang besar? Khidhir berkata: Bukankah aku telah berkata: Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sabar bersamaku. Musa as. berkata: Janganlah kamu menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah kamu membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku. Selanjutnya mereka meninggalkan perahu tersebut. Saat mereka sedang berjalan di tepi pantai, tiba-tiba ada seorang anak remaja bermain dengan beberapa temannya. Khidhir memegang kepala anak itu lalu memenggalnya sehingga terbunuhlah ia. Musa as. berkata: Mengapa kamu membunuh jiwa yang bersih itu? Bukankah dia tidak membunuh orang lain? Sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang mungkar. Khidhir berkata: Bukankah sudah aku katakan kepadamu, bahwa kamu tidak akan sabar bersamaku. Perbuatan ini lebih kejam lagi daripada yang pertama. Selanjutnya Musa as. berkata: Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu sesudah kali ini, maka janganlah kamu memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya kamu sudah cukup memberikan uzur kepadaku. Maka keduanya berjalan, hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhir menegakkan dinding itu. Ia berkata: Miring, Khidhir mengisyaratkan dengan tangannya dan menegakkan dinding tersebut. Musa as. berkata kepada Khidhir: Orang-orang yang kita datangi tidak mau menerima kita sebagai tamu dan tidak mau menjamu kita. Jikalau kamu mau niscaya kamu mengambil upah untuk pekerjaan itu. Khidhir berkata: Inilah perpisahan kita. Aku akan memberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang membuat kamu tidak sabar terhadapnya. Rasulullah saw. bersabda: Semoga Allah merahmati Musa. Aku akan senang sekali kalau saja Musa as. bisa bersabar sehingga dia dapat menceritakan kepada kita tentang pengalaman mereka berdua. Rasulullah saw. bersabda: Tindakan Musa as. yang pertama memang karena lupa. Beliau bersabda: Seekor burung terbang lalu hinggap pada tepi perahu itu dan mematuk ke laut. Khidhir lalu berkata kepadanya: Ilmu kita jika dibandingkan dengan ilmu Allah adalah seperti patukan seekor burung pipit tersebut pada laut itu. (Shahih Muslim No.4385)

 

“Ya Allah, maafkanlah kesalahan kami, ampunkanlah dosa-dosa kami. Dosa-dosa kedua ibu bapa kami, saudara-saudara kami serta sahabat-sahabat kami. Dan Engkau kurniakanlah rahmatMu kepada seluruh hamba-hambaMu. Ya Allah, dengan rendah diri dan rasa hina yang sangat tinggi. Lindungilah kami dari kesesatan kejahilan yang nyata mahupun yang terselindung. Sesungguhnya tiadalah sebaik-baik perlindung selain Engkau. Jauhkanlah kami dari syirik dan kekaguman kepada diri sendiri. Hindarkanlah kami dari kata-kata yang dusta. Sesungguhnya Engkaulah yang maha berkuasa di atas setiap sesuatu.”